Bait-bait puisi itu telah terukir dalam-dalam di ingatan saya.
Bagaimana mungkin kita lupa?
Seperti api yang tersembunyi di dalam abu kenangan.
Saat musim berganti, api yang hangat akan menyalakan ragi.
Aku teringat puisi-puisi yang pernah kubaca.
Kita telah berbagi begitu banyak kenangan dalam hidup.
Sebuah bait dari Kisah Kieu melayang lembut dalam tidurku.
Masih bersenandung mengikuti suara ibu mengayunkan buaian.
Ayat-ayat Kieu diungkapkan melalui warna.
Bagaimana kita bisa melukis dengan cara yang penuh kasih sayang?
Ratapan mengharukan lainnya dari "Chinh Phu Ngam" (Ratapan Istri Prajurit).
Bagaimana kita melukis sebuah gambar yang benar-benar menjadi sahabat bagi hati kita sendiri?
Dan begitulah puisi itu terus memanggil.
Menyatu dengan warna-warna tersebut sungguh ajaib.
Mahakarya itu melayang bersama seni lukisan.
Kata-kata para leluhur dibisikkan pada lukisan sutra.
Kami mendengarkan, dan hasrat kami menginspirasi kami untuk melukis.
"Kabut menghilang di pintu masuk jalan setapak, awan-awan terbelah di langit."
Musim semi yang semarak adalah waktu untuk berkumpul kembali dengan penuh sukacita.
Setiap warna memancarkan kegembiraan.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/sac-mau-tri-am-post838255.html







Komentar (0)