Dari digitalisasi layanan hingga perbankan cerdas
Pada Forum tersebut, Bapak Dao Minh Tu, Wakil Presiden dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Perbankan Vietnam, menyatakan bahwa Vietnam muncul sebagai salah satu pasar keuangan digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Menurut beliau, transformasi digital tidak lagi terbatas pada perluasan perbankan digital atau pembayaran elektronik, tetapi secara fundamental mengubah model operasional dan tata kelola lembaga keuangan.
Tren seperti perbankan terbuka, AI, komputasi awan, dan tata kelola data cerdas menjadi prioritas strategis bagi banyak bank. Industri keuangan dan perbankan secara bertahap beralih dari "mendigitalkan layanan" ke model perbankan cerdas, yang beroperasi berdasarkan data dan konektivitas digital yang komprehensif.
Menurut data dari Bank Negara Vietnam, lebih dari 95% lembaga kredit telah menerapkan atau sedang menerapkan strategi transformasi digital; hampir 80% transaksi keuangan di Vietnam dilakukan melalui saluran digital. Hal ini dianggap sebagai fondasi penting untuk memperluas akses ke layanan keuangan, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan daya saing sistem perbankan.

Tidak hanya bank komersial, tetapi juga lembaga pengatur sangat mendorong pengembangan infrastruktur digital nasional. Bapak Le Anh Dung, Wakil Direktur Departemen Pembayaran, Bank Negara Vietnam, mengatakan bahwa Vietnam telah membangun sistem pembayaran elektronik antar bank, jaringan kode QR nasional, dan basis data penduduk skala besar serta sistem identifikasi elektronik.
Menurut Bapak Dung, AI, blockchain, dan mata uang digital bank sentral (CBDC) semuanya membuka banyak peluang bagi industri perbankan. AI dapat membantu mengotomatisasi proses kredit, meningkatkan manajemen risiko, dan mempersonalisasi pengalaman pelanggan. Sementara itu, blockchain dan tokenisasi diharapkan dapat mengubah metode pembayaran lintas batas, mengurangi biaya dan waktu transaksi.
Meningkatkan keamanan dan meningkatkan kesadaran pengguna.
Di samping peluang pertumbuhan, sektor keuangan dan perbankan menghadapi tekanan yang semakin meningkat terkait keamanan siber seiring dengan pesatnya perkembangan ekosistem digital.
Menurut Bapak Dao Minh Tu, risiko serangan siber tidak lagi terbatas pada pencurian data tetapi bergeser ke bentuk yang lebih canggih seperti pemalsuan identitas menggunakan AI atau mengeksploitasi kerentanan data dari pihak ketiga.
Laporan Risiko Keamanan Siber Asia Pasifik Visa, yang diterbitkan pada April 2026, menunjukkan bahwa serangan berbasis AI meningkat pesat baik dalam skala maupun kecanggihan. Sementara itu, laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari Forum Ekonomi Dunia menunjukkan bahwa 65% organisasi besar menganggap kerentanan pihak ketiga dan rantai pasokan sebagai tantangan utama terhadap ketahanan keamanan siber.
Menurut para ahli, AI saat ini menghadirkan situasi "dua sisi" bagi industri keuangan. Di satu sisi, teknologi ini membantu meningkatkan efisiensi operasional; tetapi di sisi lain, AI juga dieksploitasi oleh penjahat siber untuk membuat deepfake, memalsukan dokumen, dan melakukan transaksi curang dengan tingkat kesulitan yang semakin sulit dideteksi.
Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara inovasi dan pengendalian risiko, kata Bapak Le Anh Dung, Wakil Direktur Departemen Pembayaran. Jika Vietnam terlalu berhati-hati, negara ini mungkin akan kehilangan kesempatan untuk melakukan terobosan dalam ekonomi digital. Namun, jika mengejar teknologi tanpa mekanisme pengendalian yang tepat, sistem keuangan dapat menghadapi banyak risiko yang tidak terduga. "Oleh karena itu, strategi inovasi yang bertanggung jawab, yang berpusat pada kepercayaan dan keamanan sistem, akan menjadi fondasi penting bagi Vietnam untuk mengembangkan pembayaran digital secara berkelanjutan di masa mendatang," tegas Bapak Dung.
Sembari menegaskan bahwa transformasi digital merupakan syarat penting bagi sektor keuangan dan perbankan untuk mempertahankan daya saingnya, banyak pendapat yang menyatakan bahwa, untuk pembangunan berkelanjutan, proses ini perlu disertai dengan investasi sistematis dalam keamanan siber, manajemen risiko, dan perlindungan data pengguna.
Derek Lok, Direktur Yubico, merekomendasikan agar industri perbankan beralih ke model keamanan yang lebih kuat, di mana otentikasi multi-faktor memainkan peran kunci. Standar FIDO, yang berbasis pada enkripsi asimetris, dianggap sebagai solusi potensial untuk menggantikan kata sandi tradisional, sehingga secara signifikan mengurangi risiko pencurian informasi. Tidak seperti metode otentikasi konvensional, FIDO menggunakan kunci pribadi yang disimpan di perangkat pengguna dan hanya diaktifkan ketika lapisan otentikasi tambahan seperti biometrik atau PIN ada. Mekanisme ini secara signifikan membatasi risiko pencurian informasi, terutama dalam kasus di mana perangkat terinfeksi malware.
Sementara itu, Saket Kumar Jha, Direktur Pendapatan di HyperVerge, berpendapat bahwa alih-alih hanya memverifikasi pelanggan pada saat membuka rekening atau mengambil pinjaman, lembaga keuangan perlu memantau seluruh siklus transaksi. Pendekatan ini membantu mendeteksi anomali sejak dini, terutama karena teknologi seperti deepfake dan GenAI semakin banyak dieksploitasi untuk penipuan identitas.
Secara khusus, meskipun masyarakat semakin banyak menggunakan layanan digital, kemampuan mereka untuk mengidentifikasi risiko tetap terbatas, yang menyebabkan peningkatan berkelanjutan dalam penipuan keuangan daring, terutama dalam konteks AI yang membuat aktivitas penipuan menjadi lebih canggih. Berdasarkan realitas ini, banyak yang berpendapat bahwa dalam lingkungan keuangan digital, investasi pada teknologi saja tidak cukup. Salah satu faktor terpenting saat ini adalah meningkatkan kesadaran pengguna tentang keamanan data serta mencegah dan memerangi penipuan daring.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/tai-chinh-so-tang-toc-ap-luc-an-ninh-mang-gia-tang-10417519.html








Komentar (0)