Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Visi baru untuk Bandara Da Nang.

Dalam sejarah perkotaan, terdapat bangunan-bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembangunan tetapi juga mencatat seluruh proses pembentukan dan transformasi sebuah kota. Bandara Da Nang adalah salah satu contohnya.

Báo Đà NẵngBáo Đà Nẵng01/03/2026

Para penumpang merasakan pengalaman menggunakan gerbang imigrasi otomatis di terminal internasional Bandara Internasional Da Nang. Foto: THANH LAN
Para penumpang merasakan pengalaman menggunakan gerbang imigrasi otomatis di terminal internasional Bandara Internasional Da Nang . Foto: THANH LAN

Selama hampir seabad, di lokasi yang sama, bandara ini telah menjalankan empat peran berturut-turut: landasan pendaratan kolonial, pangkalan udara masa perang, infrastruktur sipil selama rekonstruksi, dan gerbang internasional menuju kota modern.

Melihat kembali 100 tahun terakhir

Pada tahun 1926-1930, ketika Tourane masih menjadi persinggahan di jalur udara Indochina, tempat itu hanyalah lapangan terbang dengan landasan pacu tanah, yang cukup untuk pesawat baling-baling mendarat dan mengisi bahan bakar. Itu bukanlah "bandara" dalam pengertian modern, tetapi tempat itu menetapkan sesuatu yang penting: lokasi transportasi strategis Da Nang di Vietnam Tengah. Keputusan untuk membangun lokasi pendaratan tersebut secara tidak sengaja membentuk lanskap perkotaan di masa depan selama hampir 100 tahun setelahnya.

Dekade 1960-an dan 1970-an mengubah lokasi ini menjadi tempat yang sama sekali berbeda, yang dikenal sebagai Pangkalan Udara Da Nang. AS memperluasnya menjadi pangkalan udara terkemuka di Asia Tenggara, membangun landasan pacu beton yang panjang untuk pesawat jet, apron, depot teknis, dan sistem logistik. Periode ini menciptakan warisan infrastruktur landasan pacu yang masih digunakan Bandara Da Nang hingga saat ini.

Setelah tahun 1975, Bandara Da Nang memasuki periode yang lebih tenang: sipilisasi, penggunaan kembali fasilitas lama, terminal kecil, dan kapasitas operasional yang terbatas. Peran utamanya adalah konektivitas domestik selama rekonstruksi negara. Namun justru pemeliharaan berkelanjutan inilah yang mencegah infrastruktur terganggu, memungkinkan Da Nang memasuki siklus pertumbuhan baru.

Sejak awal tahun 2000-an, seiring dengan meningkatnya pariwisata dan jasa, bandara ini telah mengalami modernisasi yang signifikan. Terminal T1 (2011) dan T2 (2017) telah mengubah Da Nang menjadi gerbang internasional Vietnam Tengah. Peningkatan pesat jumlah penumpang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi perkotaan. Bandara ini bukan lagi sekadar fasilitas transportasi, tetapi telah menjadi kekuatan pendorong pembangunan.

Empat lapisan peran historis telah meninggalkan empat warisan yang berbeda: posisi transportasi dari era kolonial, infrastruktur skala besar dari periode perang, keberlanjutan eksploitasi selama rekonstruksi, dan dinamika ekonomi di era modern.

Oleh karena itu, Bandara Da Nang saat ini bukan hanya kisah tentang penerbangan. Ini adalah kisah tentang restrukturisasi ruang pengembangan perkotaan untuk seratus tahun ke depan. Bagaimana kita dapat memanfaatkan nilai lahan bersejarah ini jika perannya berubah? Bagaimana kita dapat menyelaraskan pertumbuhan perkotaan, keselamatan penerbangan, dan efisiensi infrastruktur?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan pandangan bahwa bandara bukan hanya sekadar proyek rekayasa, tetapi sebagai warisan sejarah – sebuah infrastruktur – sebuah proyek perencanaan. Selama hampir seabad, setiap perubahan di bandara selalu bertepatan dengan titik balik bagi Da Nang. Dan sangat mungkin bahwa titik balik berikutnya bagi kota ini akan dimulai tepat di sini.

Visi masa depan

Selama bertahun-tahun, kisah bandara yang terletak di jantung kota sering kali dibingkai dalam pola pikir yang sudah familiar: bahwa bandara tersebut merupakan "kemacetan". Orang-orang melihat kebisingan, fragmentasi spasial, pembatasan ketinggian bangunan, dan dari situ sampai pada kesimpulan yang tampaknya logis: bandara harus dipindahkan untuk membebaskan lahan bagi pembangunan perkotaan.

Perspektif tersebut dulunya tepat untuk periode pembangunan ketika kota-kota dipahami terutama sebagai perluasan fisik perumahan, jalan, dan bangunan. Namun, dalam konteks kota-kota modern, di mana nilai-nilai inti tidak lagi terletak pada luas lahan tetapi pada pengetahuan, teknologi, konektivitas, dan pengalaman, perspektif tersebut tidak lagi relevan.

Isu yang dihadapi Da Nang saat ini bukanlah "hambatan apa yang ditimbulkan oleh bandara di tengah kota?", melainkan "peluang strategis apa yang dibuka oleh bandara di tengah kota?". Ini mewakili pergeseran pola pikir: dari pola pikir yang berorientasi pada infrastruktur ke pola pikir yang berorientasi pada posisi perkotaan.

Bandara Internasional Da Nang, jika dilihat dari sudut pandang baru, bukan lagi sekadar infrastruktur penerbangan. Bandara ini adalah titik kontak pertama antara kota dan dunia . Setiap hari, puluhan ribu orang mendarat di sini sebelum menikmati Pantai My Khe, sebelum menyeberangi Sungai Han, sebelum merasakan ritme kehidupan perkotaan. Momen pendaratan itu, pada dasarnya, adalah "halaman sampul" Da Nang. Dan di era pengalaman, "halaman sampul" itu memiliki nilai posisi yang jauh lebih besar daripada slogan iklan apa pun.

Jika kita melihat dunia, kota-kota terpintar tidak terburu-buru memindahkan bandara keluar dari pusat kota. Mereka justru mendefinisikan ulang ruang di sekitar bandara untuk mengubahnya menjadi pusat pengembangan baru.

Da Nang menghadapi peluang yang sangat sedikit dimiliki oleh kota-kota Asia lainnya: bandara internasional yang terletak tepat di jantung kota pesisir ini.

Jika dipindahkan, Da Nang akan kehilangan keuntungan yang telah hilang secara permanen di banyak kota ketika terpaksa memindahkan bandara mereka puluhan kilometer jauhnya. Jika tetap berada di tempatnya tetapi terus diperlakukan sebagai bandara biasa seperti selama ini, Da Nang akan menyia-nyiakan kesempatan. Hanya dengan mendefinisikan ulang peran bandara, kota ini dapat benar-benar memanfaatkan nilai strategisnya.

Mendefinisikan ulang di sini bukan berarti merenovasi terminal atau memperluas landasan pacu. Mendefinisikan ulang berarti menata ulang seluruh ruang di sekitar bandara sebagai pusat inovasi yang terhubung dengan pengetahuan, teknologi, budaya, dan layanan internasional. Kemudian, ketika orang asing tiba di Da Nang, mereka tidak hanya memasuki terminal, tetapi ruang yang langsung mencerminkan visi dan aspirasi kota tersebut.

Bandara, dari sekadar infrastruktur teknis, akan menjadi infrastruktur pengetahuan perkotaan. Dari titik pemisah spasial, bandara akan menjadi inti untuk restrukturisasi ruang pembangunan, terutama ke arah Barat dan Barat Laut. Dari yang dipandang sebagai hambatan, bandara akan menjadi kekuatan pendorong.

Yang lebih penting lagi, pendekatan ini sejalan dengan posisi Da Nang sebagai kota pesisir internasional. Sebuah kota pesisir tidak hanya didefinisikan oleh pantai dan jalan pesisirnya, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terhubung dengan dunia, kemampuannya untuk menarik pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia berkualitas tinggi. Bandara adalah contoh paling jelas dari konektivitas ini. Jika dikelola dengan baik, bandara dapat menjadi "gerbang pengetahuan internasional" kota ini.

Oleh karena itu, pertanyaan bagi Da Nang bukanlah "kapan bandara akan dipindahkan?", tetapi "kapan bandara akan diintegrasikan ke dalam struktur perencanaan strategis kota?" Ini bukan masalah lalu lintas, tetapi masalah penentuan posisi untuk masa depan. Ini bukan tentang mengatasi masalah yang ada, tetapi tentang memanfaatkan keunggulan yang langka.

Dalam pola pikir perencanaan yang baru, Bandara Da Nang seharusnya tidak dipandang sebagai area fungsional yang berdiri sendiri, melainkan sebagai inti dari struktur pembangunan yang terbuka. Mekanisme kebijakan khusus untuk memanfaatkan lahan di sekitarnya perlu diterapkan untuk mewujudkan visi ini.

Maka, kisah bandara Da Nang tidak lagi hanya tentang kebisingan atau batasan ketinggian. Kisah itu akan menjadi kisah tentang visi perkotaan. Sebuah kota yang melihat peluang di mana orang lain hanya melihat keterbatasan. Sebuah kota yang mengubah infrastruktur teknis menjadi infrastruktur pengetahuan. Sebuah kota yang memahami bahwa, di era baru ini, nilai tidak terletak pada seberapa banyak lahan yang tersedia untuk pembangunan, tetapi pada bagaimana ruang diorganisasikan untuk menciptakan pengetahuan, koneksi, dan pengalaman.

Sumber: https://baodanang.vn/tam-nhin-moi-cho-san-bay-da-nang-3326166.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Selamat Hari Reunifikasi

Selamat Hari Reunifikasi

Sungai di desa

Sungai di desa

Panen melimpah

Panen melimpah