Ini adalah pertemuan tatap muka kedua antara Putin dan Xi dalam waktu kurang dari setahun, dan juga menandai peringatan ke-25 Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Bertetangga tahun 2001 – sebuah dokumen yang meletakkan dasar bagi hubungan Rusia-Tiongkok modern setelah puluhan tahun persaingan dan ketidakpercayaan selama Perang Dingin.
Yang perlu diperhatikan, kunjungan Putin diumumkan hanya satu hari setelah Presiden AS Donald Trump meninggalkan Beijing setelah perjalanan dua hari. Para analis berpendapat bahwa kebijakan luar negeri Trump yang tidak terduga semakin mendekatkan Rusia dan China.

Hubungan antara Rusia dan China khususnya semakin menguat sejak pecahnya konflik Ukraina pada tahun 2022, yang mengisolasi Moskow dari Barat dan memaksanya untuk mengalihkan fokusnya ke Asia dalam mencari pasar dan mitra dagang.
Sebelum kunjungan tersebut, Putin menyatakan: “Rusia dan China dengan percaya diri melangkah menuju masa depan.” Ia menyatakan bahwa kedua negara “secara aktif mengembangkan kerja sama di bidang politik , ekonomi, pertahanan, memperluas pertukaran budaya, dan mempromosikan hubungan antar masyarakat.”
"Singkatnya, kedua belah pihak bekerja sama untuk memperkuat kerja sama bilateral dan mendorong pembangunan global demi kepentingan kedua bangsa," tegas pemimpin Rusia tersebut.
Mengapa Rusia membutuhkan China?
China kini dipandang sebagai "urat nadi" ekonomi Rusia. Perdagangan bilateral telah meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2020 dan 2024, mencapai $237 miliar pada tahun 2024.
Namun, hubungan ini tidak seimbang. China adalah mitra dagang terbesar Rusia, tetapi Rusia hanya menyumbang sekitar 4% dari total perdagangan internasional China. Ukuran ekonomi China juga jauh lebih besar, memberikan Beijing lebih banyak pengaruh dalam negosiasi.
Setelah pecahnya konflik Ukraina, Rusia semakin bergantung pada teknologi dan kemampuan manufaktur Tiongkok. Menurut Bloomberg, lebih dari 90% teknologi yang dikenai sanksi yang diimpor Rusia saat ini berasal dari Tiongkok, termasuk banyak komponen yang dapat digunakan untuk keperluan militer dan produksi pesawat nirawak.
Selain itu, China telah menjadi pelanggan utama minyak dan energi Rusia di tengah penutupan sebagian besar pasar Eropa bagi Moskow karena sanksi.
Para ahli percaya bahwa ini memberi Beijing posisi yang lebih kuat, memungkinkan mereka untuk membeli minyak dan gas Rusia dengan harga preferensial sekaligus memperluas pengaruhnya atas masa depan ekonomi Moskow.
China juga membutuhkan Rusia.
Terlepas dari keunggulan yang dimilikinya, China tetap membutuhkan Rusia untuk keamanan energi dan alasan geopolitik.
Konflik di sekitar Iran dan gangguan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran Beijing tentang pasokan minyak dan gas. China sangat bergantung pada jalur pelayaran internasional untuk impor energi.
Dalam konteks ini, Rusia telah muncul sebagai sumber pasokan yang stabil melalui jalur darat. Proyek pipa gas "Power of Siberia 2" diperkirakan akan menjadi topik utama dalam diskusi ini.

Jika selesai dibangun, jalur pipa tersebut akan mengangkut sekitar 50 miliar meter kubik gas alam Rusia setiap tahunnya ke China melalui Mongolia, yang secara signifikan akan memperluas kerja sama energi antara kedua negara.
Di luar hubungan ekonomi, Beijing juga memandang Moskow sebagai mitra strategis dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Kedua negara adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan sering mengoordinasikan posisi mereka untuk menentang kebijakan yang dipimpin AS.
Meskipun belum membentuk aliansi militer formal, Rusia dan China memperkuat kerja sama pertahanan melalui latihan bersama yang lebih sering. Tahun lalu, kedua negara mengadakan latihan angkatan laut di Laut Jepang dekat kota Vladivostok, Rusia, yang mencakup bidang-bidang seperti penyelamatan kapal selam, peperangan anti-kapal selam, pertahanan udara, pertahanan rudal, dan operasi maritim.
Para analis percaya bahwa kekuatan hubungan Rusia-China terletak pada fleksibilitasnya. Tidak seperti aliansi masa lalu yang didasarkan pada ideologi, hubungan saat ini dibangun atas dasar kepentingan ekonomi dan strategis yang praktis, sehingga lebih berkelanjutan dalam tatanan dunia yang semakin terpolarisasi.
Kata kunci:
Sumber: https://congluan.vn/thuong-dinh-trung-nga-vi-sao-hai-nuoc-can-nhau-post346728.html







Komentar (0)