Pameran ini mengajak kita memasuki ruang metafisik di mana kehidupan dan kematian saling terkait dalam siklus abadi. |
Di lingkungan mewah Lebadang Memory Space, yang terletak di bukit Kim Son (kelurahan Thuy Bang, distrik Thuan Hoa), pameran pada pertengahan Mei ini menjadi destinasi yang memikat bagi para pencinta seni pada umumnya dan penggemar lukisan pada khususnya. Pada hari pembukaan, gerimis setelah panas terik awal musim panas seolah menghilangkan rasa lelah, memberi ruang untuk refleksi dan kontemplasi terhadap karya seni yang dipajang di terowongan di dalam Lebadang Memory Space.
Di sana, 22 karya Pham Tran Viet Nam – seorang seniman yang lulus di bidang patung tetapi menekuni lukisan sebagai sarana ekspresi utama dalam perjalanan artistiknya – mengejutkan banyak orang. Berbeda dengan sikap tenang dan terkendali seorang seniman yang baru saja melewati usia 40-an, karya-karya ini menghantui, menembus kekuatan batin dengan perspektif unik dan tema-tema yang selalu mendorong refleksi.
Bagi Pham Tran Viet Nam, melukis dan pameran "Lingkaran Kehidupan dan Kematian" adalah ritual transisi. Di sana, karya-karya barunya "dilahirkan kembali" oleh karya-karya lama, melahirkan bentuk-bentuk baru. Beberapa orang menyamakan "Lingkaran Kehidupan dan Kematian" dengan menara pengawas metafisik. Di sana, Pham Tran Viet Nam sendiri menjadi saksi atas bentuk-bentuk dan fragmen-fragmen yang menghantui yang muncul dari ketiadaan dan endapan… Jika penonton cukup tenang dan peka, mereka dapat mendengar suara-suara dari alam lain. Dan di balik jarak itu, bukanlah penghilangan, melainkan keabadian yang berkilauan. Berhenti di samping setiap karya, penonton merasa tertarik ke alam eterik yang diciptakannya. Keindahan dalam lukisan-lukisan itu terletak bukan pada teknik atau komposisi, tetapi pada getaran keberadaan.
Melukis menjadi bentuk ritual, di mana warna menjadi asap dupa, dan garis menjadi suara doa untuk orang yang telah meninggal. Lukisan tidak menggambarkan, tidak menafsirkan, tetapi meng अपील pada intuisi. Inilah yang disebut Pham Tran Viet Nam sebagai "intuisi super," suatu keadaan kreatif yang melampaui logika dan bentuk, di mana gambar dibangun bukan menurut aturan visual konvensional, tetapi seolah-olah dipanggil dari aliran bawah sadar yang dalam.
Pham Tran Viet Nam berbagi bahwa saat melukis seri ini, ia merasa seperti orang yang berjalan dalam tidur. Dalam keadaan itu, emosi dan energi mengalir secara alami. Proses melukisnya seperti menafsirkan jiwa dan bahasa makhluk lain. “Secara bertahap, melalui kerja terus-menerus, saya mulai memahami lebih dalam jiwa dan bahasa dari gambar-gambar yang saya ciptakan. Saya berempati dan secara alami menyatu dengan makhluk lain itu…,” jelas Pham Tran Viet Nam.
Peneliti seni Ngo Kim Khoi, kurator "Siklus Hidup dan Mati," mengatakan pameran ini mengajak kita ke ruang metafisik di mana hidup dan mati saling terkait dalam siklus abadi. Pakar ini percaya bahwa perjalanan artistik Pham Tran Viet Nam melampaui seni biasa, menjadi kesadaran sakral di mana hidup dan mati menyatu. Siklus hidup dan mati bukanlah awal maupun akhir; setiap momen kelahiran membuka kematian baru, dan kematian membuka siklus baru.
“Pham Tran Viet Nam adalah pengembara antara mimpi dan kenyataan, mengubah setiap sapuan kuas menjadi doa bagi yang telah meninggal, gema dari pecahan-pecahan yang hancur,” komentar kritikus seni Ngo Kim Khoi. Ia menyebutkan karya utama pameran, “Lingkaran Kehidupan dan Kematian,” sebagai lukisan cat minyak sepanjang lebih dari 20 meter, yang digantung dalam lingkaran tertutup. Ini bukan sekadar karya seni, tetapi juga simbol dari keadaan sesaat di mana hidup dan mati menyatu. Berdiri di hadapannya, para penonton tidak hanya mengamati tetapi juga merasakan secara mendalam kerapuhan eksistensi dan pertanyaan abadi: apa itu hidup? apa itu kematian?
Melalui sapuan kuas dan warna, Pham Tran Viet Nam mendengarkan dan menjadi saksi atas penderitaan yang tak terungkap dan pencarian makna yang kacau dalam eksistensi manusia. Ini adalah perjalanan yang oleh Ngo Kim Khoi disebut sebagai "ziarah tanpa tujuan," di mana setiap orang menemukan ketenangan yang cukup untuk merasakan getaran keberadaan mereka dan menyadari bahwa justru dalam ketidaksempurnaanlah makna eksistensi yang sesungguhnya muncul.
Teks dan foto: NHAT MINH
Sumber: https://huengaynay.vn/van-hoa-nghe-thuat/tieng-vong-cua-nhung-manh-vo-154332.html






Komentar (0)