Sebagai upaya khusus untuk menunjukkan komitmen internasional terhadap wabah Ebola di Afrika, kemarin sore, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi pusat wabah di Republik Demokratik Kongo, sebuah negara yang telah mencatat lebih dari 200 kematian akibat Ebola hanya dalam waktu lebih dari dua minggu.
![]() |
| Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. |
Menurut sumber resmi, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, bersama dengan delegasi ahli internasional, telah resmi tiba di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, pusat wabah Ebola di Kongo timur. Berbicara kepada pers di sana, Direktur Jenderal WHO menegaskan bahwa komunitas internasional sedang berupaya mendukung pemerintah Kongo dalam menanggapi epidemi tersebut. Namun, kepala WHO juga menekankan pentingnya tindakan masyarakat setempat, itulah sebabnya ia hadir di sana.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, hingga 28 Mei, dalam waktu kurang dari setengah bulan, Kongo telah mencatat 1.077 kasus dugaan Ebola, termasuk 246 kematian. Kongo mencatat kasus dugaan Ebola pertamanya dalam wabah ke-17 di negara itu pada 15 Mei. Wabah Ebola paling parah di Kongo terjadi pada tahun 2018-2020, dengan sekitar 3.500 kasus dugaan tetapi hampir 2.300 kematian.
Di seluruh Afrika, epidemi Ebola selama 50 tahun terakhir (sejak 1976) telah merenggut nyawa lebih dari 15.000 orang, menjadikannya salah satu penyakit menular terkemuka di dunia dengan tingkat kematian tertinggi.
Menurut Ba Thi/VOV-Kairo
Sumber: https://baovinhlong.com.vn/quoc-te/202605/tong-giam-doc-who-toi-tam-diem-dich-ebola-o-congo-13902db/









Komentar (0)