
Wanita Thailand berkulit hitam, setelah menikah, harus mengikat rambut mereka menjadi sanggul di atas kepala, sedangkan wanita Thailand berkulit putih tidak memiliki kebiasaan ini.

Blus yang dikenakan oleh wanita dari kelompok etnis Thai Putih memiliki garis leher berbentuk V, sedangkan blus yang dikenakan oleh wanita dari kelompok etnis Thai Hitam memiliki garis leher bulat dan tegak yang pas melingkari leher.

Pakaian tradisional lengkap untuk wanita etnis Thailand meliputi blus pendek (xửa cóm), blus panjang (xửa luông), rok (xỉn), ikat pinggang (xà yều), jilbab (piêu), topi kerucut (cúp), bros, dan perhiasan seperti anting-anting, kalung, dan gelang. Blus pendek tersebut dirancang agar pas di badan, dengan ujungnya hanya menyentuh pinggang rok, dan memiliki deretan kancing perak berbentuk kupu-kupu sebagai aksen, yang menunjukkan gaya unik pakaian wanita etnis Thailand.

Menurut cerita rakyat Thailand, dua baris kancing perak pada kedua lipatan pakaian tradisional Thailand melambangkan persatuan antara laki-laki dan perempuan, untuk melestarikan garis keturunan.

Deretan bunga aster kupu-kupu di sebelah kiri (sisi jantan) disebut "to po" (jantan), dan deretan bunga aster di sebelah kanan (sisi betina) disebut "to me" (betina). Masyarakat Thailand percaya bahwa jumlah bunga aster kupu-kupu harus ganjil untuk melambangkan kehidupan, kesuburan, dan kelimpahan.

Blus tradisional Vietnam umumnya dikenakan dalam kehidupan sehari-hari dan tersedia dalam berbagai warna seperti putih, nila, biru, ungu, dan kuning.
Majalah Warisan






Komentar (0)