Saat itu baru awal musim dingin, tetapi hawa dingin sudah cukup untuk mendorong sekelompok orang yang bekerja sepanjang malam untuk menyalakan api kecil di samping Jalan Raya Nasional 5A. Nyala api yang berkedip-kedip, memantul dari strip reflektif pada pakaian mereka, memberikan nuansa magis pada malam musim dingin. Seolah-olah api itu menerangi masa lalu, membuat bara api musim dingin yang jauh menjadi redup dalam ingatan mereka.

Bagaimana mungkin kita melupakan musim dingin yang kita habiskan dengan mengenakan sweter wol usang, tertawa hati-hati agar bibir pecah-pecah kita tidak semakin berdarah? Itu adalah musim dingin dengan kaki kita terendam air es di ladang desa, menangkap udang dan ikan kecil, meninggalkan betis kita yang dulunya kering, penuh bekas luka seperti kulit ular, dan tumit kita pecah-pecah karena bekas kerja keras.

Di tengah ladang desa, beberapa genggam tangkai padi yang dikumpulkan dengan tergesa-gesa sudah cukup bagi anak-anak untuk menyalakan api unggun yang hangat. Sosok-sosok kecil duduk melingkar di tengah ladang yang luas. Tangan mereka, yang masih berlumuran lumpur, melambai-lambai di atas bara api, terkadang mata mereka berkaca-kaca karena asap akibat tangkai padi yang belum sepenuhnya kering.

Salah satu harta paling berharga anak-anak desa selama hari-hari musim dingin itu adalah sebuah kompor kecil sederhana yang mereka buat sendiri dari tanah liat. Sedikit lebih besar dari telapak tangan anak-anak, kompor itu menampung segenggam kayu lapuk, cukup untuk menjaga api kecil tetap menyala, cukup untuk menghangatkan tangan mereka. "Bahan bakar" untuk kompor itu dikumpulkan dari tunggul pohon yang membusuk, terutama dari pohon ara dan beringin tua... Potongan kayu lapuk itu berpori dan lunak seperti biskuit, mudah terbakar dan menyimpan bara api untuk waktu yang lama. Berkumpul berkelompok di halaman kuil atau halaman koperasi, bara api yang menyala dari kompor-kompor kecil itu, bersama dengan cerita-cerita masa kecil, menemani kami melalui malam-malam musim dingin dan musim-musim kenangan yang tak terhitung jumlahnya.

Foto ilustrasi: baonghean.vn

Terkadang, saat menatap perutku, aku melihat bekas luka itu perlahan memudar seiring waktu, tetapi ingatan tentang bagaimana bekas luka itu terbentuk tetap utuh dan segar; itu juga mengingatkanku pada nyala api yang berkedip-kedip di hari-hari musim dingin.

Di ujung desa saya, terdapat rumpun bambu yang sangat besar. Selubung bambu kering—lapisan terluar tunas bambu—masih digunakan sebagai bahan bakar oleh banyak rumah tangga pada masa-masa kelangkaan itu. Beberapa anak akan mengambilnya, mengikatnya erat-erat seperti obor, menyalakan intinya, dan obor itu akan membara, cukup untuk menghangatkan mereka untuk sementara waktu. Terkadang, dalam momen kegembiraan, seorang anak akan berlari cepat dengan obor di tangan, membiarkan angin kencang meniup api, menyebabkan nyala api berkobar terang di depan, sementara asap di belakang berputar-putar putih seperti knalpot sepeda motor. Karena saya terpeleset saat memanjat bambu untuk memetik selubungnya, duri panjang menggores perut saya.

Ketika saya menceritakan kisah ini kepada anak-anak sekarang, mereka merasa aneh, tetapi di masa lalu, bahkan sapu jerami yang sudah usang, setelah bertahun-tahun digunakan, dipakai oleh anak-anak untuk "menghangatkan" diri mereka selama musim dingin. Semakin rapat anyaman sapunya, semakin lama dan hangat apinya menyala.

Musim dingin di masa lalu adalah hari-hari yang dingin dan sulit, tetapi juga hari-hari penuh kenangan indah dan kasih sayang. Dengan hati-hati merawat bara api yang menyala, diam-diam melewati musim dingin yang penuh kesulitan dan kekurangan, kini, dalam nostalgia kita, hati kita dipenuhi kerinduan dan emosi...

    Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/tu-trong-ky-uc-nhum-lua-ngay-dong-1014549