
Masa muda di sekolah berasrama
Di Sekolah Menengah Atas Etnis (Kelurahan Ham Thang), upacara kelulusan dan apresiasi untuk siswa kelas 12 tahun ini tidak terlalu mewah. Namun, justru kesederhanaan inilah yang membuat emosi lebih terlihat di mata, senyuman, dan bahkan air mata para siswa dari dataran tinggi.
Berbeda dengan banyak sekolah menengah lainnya, mayoritas siswa di sini adalah anak-anak dari komunitas etnis minoritas, yang berasal dari desa-desa yang berjarak puluhan kilometer dari pusat kota. Beberapa siswa meninggalkan desa dan pelukan orang tua mereka untuk pertama kalinya untuk memulai kehidupan berasrama di kelas 10. Tiga tahun bersekolah bukan hanya tentang jam pelajaran di kelas, tetapi juga tentang makan bersama, sesi belajar larut malam, dan momen rindu rumah di mana guru memberikan dorongan dan dukungan.
Anak-anak yang dulu menangis karena rindu rumah kini tahu cara mencuci pakaian sendiri, merawat diri sendiri, memperhatikan teman-teman mereka, dan hidup lebih bertanggung jawab. Apa yang mereka bawa setelah tiga tahun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kedewasaan. Ha Thi Phuong Diem, seorang siswa kelas 12.6, berbagi bahwa yang paling ia rindukan bukanlah jam belajar yang menegangkan, tetapi kehidupan komunal di asrama. "Di sini, kami hidup bersama seperti keluarga. Ketika saya merasa rindu rumah, guru dan teman-temanlah yang ada untuk menyemangati saya," kata Diem.
Pada upacara wisuda dan perpisahan, gambar-gambar familiar dari asrama, ruang kelas, halaman sekolah, makan bersama, dan malam-malam persiapan ujian akhir perlahan muncul di setiap bingkai, membawa kembali tiga tahun masa muda dalam momen perpisahan ini. Karangan bunga diberikan kepada guru wali kelas, pengelola asrama, staf kantin, petugas keamanan, dan lainnya sebagai ucapan terima kasih yang tulus kepada mereka yang telah diam-diam merawat para siswa selama bertahun-tahun jauh dari rumah.
Ucapan terima kasih
Suasana emosional itu juga terasa pada upacara kelulusan dan apresiasi untuk siswa kelas 12 di SMA Tanh Linh. Momen yang membuat banyak orang meneteskan air mata adalah ritual menyematkan bunga untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang tua dan guru mereka. Diiringi musik lembut, setiap siswa berjalan menuju tempat duduk orang tua mereka dan dengan lembut menyematkan bunga-bunga kecil di kerah baju orang tua mereka. Ada pelukan erat, tangan gemetar, dan air mata tanpa suara saat para siswa mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada orang tua mereka untuk pertama kalinya di hadapan banyak orang.
Banyak siswa kemudian menundukkan kepala di hadapan guru mereka sebagai tanda terima kasih kepada mereka yang telah diam-diam membimbing mereka sepanjang tahun-tahun sekolah mereka. Ceramah, pengingat, dan bahkan ketegasan di masa itu kini menjadi kenangan indah sebelum mereka mengucapkan selamat tinggal.
Upacara tersebut menjadi lebih bermakna dengan perayaan ulang tahun ke-18. Sebuah kue besar diterangi lilin diiringi tepuk tangan meriah, menandai tonggak kedewasaan bagi setiap siswa yang lulus. Menginjak usia 18 tahun membawa serta berbagai macam emosi: kegembiraan, antusiasme, dan sedikit kecemasan saat mereka berdiri di ambang masa depan.
Setiap sekolah menyelenggarakan upacara kelulusan dan apresiasi sendiri, tetapi semuanya memiliki ikatan emosional yang sama: mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang tua, guru, dan sekolah yang telah mendampingi siswa sepanjang masa muda mereka. Menurut sekolah-sekolah tersebut, upacara ini tidak hanya menandai perpisahan dengan kehidupan sekolah tetapi juga berkontribusi dalam mendidik siswa tentang keterampilan hidup, rasa syukur, dan tanggung jawab saat mereka memasuki usia dewasa.
Upacara kelulusan akan segera berakhir, dan halaman sekolah akan kosong dari seragam putih yang familiar. Tetapi pelukan yang lama, kata-kata terima kasih yang tertahan, dan kenangan saat berusia 18 tahun pasti akan tetap terpatri di hati setiap siswa untuk waktu yang lama saat mereka berdiri di ambang kedewasaan.
Sumber: https://baolamdong.vn/tuoi-18-va-nhung-loi-cam-on-444497.html









Komentar (0)