
Pulau kecil Con Son juga dikenal sebagai Pulau Linh karena, menurut legenda rakyat, pada zaman dahulu, muara Sungai Binh Thuy merupakan tempat tinggal banyak monster laut, dan angin kencang serta gelombang besar seringkali membawa malapetaka bagi mereka yang bepergian dengan perahu. Untuk menangkal malapetaka ini, penduduk setempat membangun sebuah altar untuk berdoa agar laut tenang dan gelombang lembut. Tak lama kemudian, di tempat altar itu dibangun, daratan muncul di atas air dan secara bertahap meluas, dengan tumbuh-tumbuhan hijau yang subur. Sejak saat itu, penduduk setempat menamakannya Pulau Linh.

Pada waktu itu, Pulau Con Linh memiliki banyak pohon lak, sejenis pohon yang digunakan untuk mengekstrak resin untuk melapisi perahu dan kano, sehingga pulau itu juga disebut Con Son (Pulau Lak). Sebelum tahun 1945, Pulau Con Son masih liar dan belum berkembang, tanpa rumah. Banyak orang dari dusun Luoi dan Ba Do di Binh Thuy akan mendayung perahu mereka menyeberangi pulau di pagi hari untuk mengolah lahan, memasang jaring, dan membangun pagar, lalu mendayung perahu mereka kembali ke rumah di malam hari.
Barulah sekitar tahun 1960 orang-orang mulai mengolah ladang dan kebun. Pada waktu itu, Pulau Con Son sangat sepi, hanya ada beberapa gubuk yang dibangun untuk menjaga ladang. Nyamuk, lintah, dan serangga lainnya sangat banyak. Sesekali, beberapa perahu akan berlabuh untuk berburu kepiting lumpur, kura-kura, ular, ikan, dan udang.
Di pulau kecil itu, hewan yang paling umum adalah kelelawar buah, berang-berang, dan burung pipit. Di malam hari, kelelawar terbang kembali dalam jumlah besar, memenuhi langit (karena itulah pulau ini dikenal dengan nama "Pulau Kelelawar"). Bahkan hingga saat ini, Pulau Son masih mempertahankan nama-nama tempat yang berasal dari masa awal pemukiman, seperti Kanal Mat Quan, Kanal Lat, Kanal Chao Chet, dan Kanal Vam Ho… Setiap nama kanal memiliki legenda yang menarik.
Hampir dua pertiga abad telah berlalu sejak penduduk pertama menginjakkan kaki di Pulau Son. Berkat upaya para pionir dalam mereklamasi dan mengolah lahan, selama bertahun-tahun, Pulau Son yang dulunya masih alami telah menjadi pulau yang makmur dan berkembang, wilayah pertanian yang kaya, dan tujuan wisata budaya yang menarik.

Saat ini, Pulau Son memiliki luas lahan 74,4 hektar dan 79 rumah tangga. Kesan pertama saat tiba adalah jalanan yang berkelok-kelok, kebun buah yang rimbun, kanal-kanal yang berliku-liku dan ramai dengan perahu, serta jembatan monyet yang unik yang membentang di atasnya. Oleh karena itu, Pulau Son telah menjadi destinasi wisata yang menarik.

Saat ini, Pulau Con Son memiliki lebih dari 20 rumah tangga yang berpartisipasi dalam model kerja sama pariwisata, yang menggabungkan promosi fitur budaya dan semangat kebersamaan, di mana setiap rumah tangga menyumbangkan satu produk dan kemudian memperkenalkan layanan yang tersedia di rumah tetangga mereka kepada wisatawan.
Pengunjung Pulau Son tidak hanya dapat merasakan kehidupan pedesaan seperti mengeringkan kanal untuk menangkap ikan, mendayung perahu, memetik buah, dan menikmati berbagai buah khas Vietnam Selatan, tetapi juga dapat menikmati berbagai hidangan sederhana, kue tradisional, dan kembali ke suasana komunitas tradisional sebuah desa di Vietnam Selatan.

Sumber: https://baohaiduong.vn/vi-vu-con-son-miet-vuon-tren-dong-song-hau-390421.html








Komentar (0)