![]() |
Terdegradasinya West Ham merupakan kejutan di Liga Premier musim ini. |
Tiga tahun lalu, sekitar 70.000 penggemar membanjiri jalanan London Timur untuk menyambut kembalinya West Ham dengan trofi Liga Europa. Itu adalah momen yang membuat banyak orang percaya bahwa tim tersebut akhirnya berhasil keluar dari masa-masa sulit yang mengikuti kepergian mereka dari Upton Park.
Kemenangan melawan Fiorentina lebih dari sekadar gelar juara. Itu adalah konfirmasi bahwa West Ham mampu berdiri sejajar dengan klub-klub yang lebih ambisius di Liga Premier. Pada saat itu, Stadion London berhenti menjadi simbol kontroversi dan menjadi tempat harapan untuk masa depan yang lebih cerah.
Namun, sepak bola Inggris tidak pernah menjadi lingkungan yang memungkinkan tim untuk berpuas diri dengan perasaan kemenangan.
Pada musim panas setelah memenangkan Kejuaraan Eropa, West Ham menjual Declan Rice ke Arsenal dengan harga yang sangat tinggi. Seharusnya itu menjadi fondasi untuk siklus pengembangan baru. Mereka memiliki uang, daya tarik, dan posisi yang lebih baik di bursa transfer.
Sayangnya, West Ham gagal menerjemahkan sumber daya tersebut menjadi rencana yang jelas.
Pemain-pemain mahal terus berdatangan, tetapi tim semakin kehilangan arah. Max Kilman didatangkan dengan harga £40 juta dan kemudian menghilang dari skuad pada akhir Januari. Niclas Fullkrug tiba di London pada usia lebih dari 30 tahun, sebelum pergi dengan kekecewaan setelah hanya beberapa bulan. James Ward-Prowse bukan lagi pemain kunci. Daftar pemain yang tidak efektif semakin panjang setiap musimnya.
West Ham menghabiskan banyak uang, tetapi gagal membangun skuad yang cukup stabil untuk bersaing dalam jangka panjang.
Keruntuhan itu tidak terjadi dalam sehari.
Degradasi West Ham bukanlah kecelakaan mendadak di putaran terakhir. Itu adalah hasil dari beberapa musim dengan solusi tambal sulam.
Pada pertandingan terakhir melawan Leeds United, para penggemar West Ham hampir siap secara mental untuk menghadapi yang terburuk. Bahkan sebelum kick-off, suasana di luar stadion lebih dipenuhi rasa pasrah daripada harapan. Tim mereka tidak lagi memiliki kendali penuh atas nasib mereka sendiri.
![]() |
Para penggemar West Ham di stadion sudah muak. |
Ketika West Ham unggul di babak kedua, frustrasi di tribun dengan cepat meningkat menjadi ejekan yang ditujukan kepada ketua klub, David Sullivan. Kemarahan ini bukan hanya tentang 90 menit terakhir musim ini. Kemarahan itu telah menumpuk selama bertahun-tahun, berakar dari serangkaian keputusan yang telah mengikis kepercayaan penggemar.
West Ham menikmati periode stabilitas yang langka di bawah David Moyes. Mereka bermain pragmatis, tanpa gaya berlebihan, tetapi tahu bagaimana meraih hasil. Yang terpenting, tim memahami posisi mereka.
Setelah memenangkan Liga Europa, perasaan itu perlahan memudar. West Ham ingin mencapai level baru, tetapi kekurangan fondasi untuk melakukan perubahan cepat.
Liga Primer saat ini tidak memungkinkan klub mana pun untuk bertahan hanya dengan mengandalkan momentum. Tim yang tidak memiliki struktur yang jelas akan terdegradasi dengan sangat cepat, tidak peduli seberapa gemilang masa lalu mereka.
West Ham adalah contoh paling jelas dari hal itu.
Harapan terakhir itu bernama Bowen.
Di tengah suasana suram itu, Jarrod Bowen tetap menjadi sosok langka yang membantu para penggemar West Ham mempertahankan secercah harapan.
Dia adalah salah satu dari sedikit pemain yang tersisa dari malam bersejarah di Praha itu. Bowen juga yang mencetak gol penentu yang membantu West Ham mengangkat trofi pada tahun 2023. Selama masa penurunan performa tim, striker Inggris ini mempertahankan semangat juangnya dan menjadi pilar dukungan terbesar dalam serangan.
![]() |
West Ham kini perlu mempelajari kembali cara membangun tim dari fondasi yang paling mendasar. |
Setelah terdegradasi, Bowen menegaskan keinginannya untuk membantu klub kembali ke Liga Primer. Pernyataan itu tentu memberikan dorongan besar kepada para penggemar, karena di masa sulit ini, yang dibutuhkan West Ham bukanlah sekadar uang atau rencana pembangunan kembali, tetapi juga pemain yang bersedia tetap bersama tim.
Tentu saja, Championship bukanlah tempat yang mudah bagi klub besar mana pun. West Ham akan kehilangan banyak pendapatan. Mereka akan terpaksa menjual pemain dan memangkas tagihan gaji mereka. Tekanan finansial dan harapan promosi akan sangat membebani mereka sejak musim pertama.
Yang lebih penting lagi, West Ham sekarang harus mempelajari kembali cara membangun tim dari fondasi yang paling mendasar.
Tiga tahun lalu, mereka berada di puncak Eropa, yakin akan masa depan yang cerah. Hari ini, West Ham harus menerima kenyataan bahwa sebuah trofi tidak dapat menutupi semua masalah yang menghantui klub.
Sumber: https://znews.vn/west-ham-tra-gia-cho-giac-mo-dang-do-post1654068.html










Komentar (0)