Sekilas, argumen ini tampak masuk akal. Dalam kehidupan sehari-hari, pembelian sebagian besar didasarkan pada pilihan sukarela. Konsumen membeli apa yang mereka suka, dan berhenti di situ saja. Namun, energi, terutama minyak, bukan sekadar barang pribadi. Energi adalah urat nadi perekonomian , yang terkait dengan ketahanan energi dan komitmen iklim internasional. Pada titik inilah perbandingan dengan negara-negara maju membutuhkan pandangan yang lebih komprehensif.
Faktanya, banyak negara maju telah menerapkan mekanisme wajib untuk biofuel. Uni Eropa telah menerbitkan Renewable Energy Directive (RED) sejak 2009, yang mengatur rasio pencampuran minimum biomassa dalam bensin. Amerika Serikat, sejak 2005 dengan program RFS, mewajibkan semua produsen dan distributor untuk memastikan rasio etanol tertentu, umumnya E10, bahkan E15 di banyak negara bagian. Di Brasil, tingkat pencampuran etanol selalu berfluktuasi dari 18% hingga 27% tergantung periode, sehingga sepenuhnya diserahkan kepada pasar untuk menentukan. Baru-baru ini, pada awal Agustus 2025, Brasil meningkatkan tingkat pencampuran etanol wajib menjadi 30% (E30) dalam bensin, dengan tujuan mencapai swasembada bensin dan mengurangi impor.
Dapat dikatakan bahwa berkat "keterpaksaan" inilah pasar etanol global terbentuk dan berkembang. Jika kita hanya mengandalkan partisipasi sukarela konsumen, industri biofuel akan sulit bertahan, karena kebiasaan menggunakan bahan bakar tradisional telah mengakar selama beberapa generasi.
Oleh karena itu, anggapan bahwa "negara tidak memaksa" adalah keliru, atau setidaknya hanya pengamatan sepihak. Yang mereka lakukan secara berbeda adalah menerapkan kebijakan secara sistematis, transparan, dan bermitra dengan pelaku bisnis dan konsumen.
(Ilustrasi: Internet)
Banyak penentang E10 sering mengingat kegagalan E5. Memang benar bahwa sebelumnya masyarakat tidak tertarik, beberapa bisnis merugi, dan banyak SPBU terpaksa berhenti beroperasi. Namun, akar kegagalannya bukan terletak pada "pemaksaan", melainkan pada kurangnya implementasi yang sinkron dan drastis.
Harga jual E5 tidak menciptakan perbedaan yang cukup menarik dibandingkan dengan bensin mineral. Kegiatan komunikasi tidak menjelaskan manfaat lingkungan dan kesehatan atau kompatibilitas mesin. Sistem penyimpanan dan distribusi tidak memenuhi standar, sehingga menyebabkan pemisahan dan memengaruhi kualitas. Semua ini membuat kepercayaan konsumen goyah.
Jadi, kegagalan E5 bukan karena faktor "wajib", melainkan karena pada tahap tersebut belum cukup kondisi yang dipersiapkan agar kebijakan wajib tersebut efektif. Inilah poin yang perlu dipelajari saat beralih ke E10.
Mengapa peta jalan diperlukan?
Pertama, Vietnam telah berkomitmen untuk mencapai Net Zero pada tahun 2050. Ini bukan hanya janji kepada komunitas internasional, tetapi juga tanggung jawab kepada generasi mendatang. Jika kita hanya berhenti pada insentif sukarela, transisi akan sangat lambat, sehingga sulit untuk memenuhi tenggat waktu yang ketat.
Kedua, mekanisme wajib ini menciptakan pasar yang cukup besar bagi pabrik etanol untuk beroperasi secara stabil. Berkat hal ini, sektor pertanian juga memiliki hasil produksi singkong dan jagung yang lebih berkelanjutan, sehingga menciptakan lapangan kerja bagi para petani.
Ketiga, kebiasaan konsumsi bahan bakar pada dasarnya konservatif dan sulit diubah tanpa insentif kebijakan. Ketika E10 menjadi standar baru, masyarakat akan beradaptasi secara bertahap, seperti saat kita beralih dari A83 ke A92, lalu A95.
Bukan berarti "dipaksa total". Banyak negara masih mempertahankan beberapa lini bensin mineral premium untuk mobil sport atau kendaraan khusus. Vietnam dapat sepenuhnya merujuk pada model ini: E10 sebagai basis populer, dan sebagian kecil bensin premium dipertahankan untuk kelompok pelanggan tertentu dan kendaraan khusus.
Yang lebih penting, kebijakan ini harus disertai solusi yang lunak: Subsidi yang wajar, sehingga E10 jauh lebih murah daripada A95; Kontrol kualitas yang ketat, mencegah terulangnya pemisahan, menjadikan E10 "mimpi buruk" bagi konsumen; Komunikasi ilmiah, menerbitkan daftar kendaraan yang sesuai, menjelaskan secara gamblang dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan ketahanan energi; Masa transisi yang wajar, dipertahankan secara paralel setidaknya selama beberapa waktu agar masyarakat dapat memverifikasi.
Hanya jika kondisi-kondisi ini terjamin, maka faktor “wajib” tersebut akan menjadi pendorong pembangunan, bukan malah menjadi perlawanan pasar.
Kasus Thailand merupakan contoh nyata peran kebijakan wajib dan suportif. Negara ini memperkenalkan biofuel E10 ke pasar pada tahun 2007, dan hanya dalam beberapa tahun, sepenuhnya menghilangkan bensin mineral RON 91, yang memaksa masyarakat beralih ke E10. Berkat kebijakan subsidi, E10 20-40% lebih murah daripada bensin mineral, sehingga menyebabkan konsumsi melonjak drastis. Hingga saat ini, lebih dari 90% bahan bakar transportasi di Thailand adalah E10, E20, dan E85, dengan E10 mendominasi.
Banyak orang masih ingat bahwa sebelum tahun 2007, penggunaan helm telah dipromosikan selama bertahun-tahun, tetapi tidak banyak yang merespons. Banyak yang menganggapnya "tidak nyaman, panas, mahal" dan menganggap helm sebagai pilihan yang sembarangan. Baru setelah Pemerintah mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penggunaan helm mulai 15 Desember 2007, dengan sanksi yang tegas, tingkat penggunaan helm langsung meroket dari di bawah 30% menjadi lebih dari 90% hanya dalam beberapa bulan.
Kebijakan ini tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga menyelamatkan puluhan ribu nyawa. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), peraturan helm membantu mengurangi cedera kepala dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Vietnam hingga lebih dari 20% pada tahun-tahun pertama penerapannya.
Meskipun demikian, ada perubahan dalam kepentingan publik yang tidak dapat diharapkan terjadi secara sukarela, tetapi membutuhkan dorongan kebijakan. Dan begitu perubahan tersebut menjadi norma, hanya sedikit yang memperdebatkan perlunya perubahan tersebut.
Biofuel bukanlah pilihan pribadi, melainkan keputusan strategis yang berkaitan dengan masa depan lingkungan dan ketahanan energi nasional. Awalnya, pasti akan ada keraguan, seperti isu penggunaan helm hampir dua dekade lalu. Namun, ketika kebijakannya jelas dan ditegakkan secara ketat, masyarakat lambat laun akan menganggapnya sebagai hal yang wajar, bahkan menjadi budaya keselamatan.
Seperti kata pepatah Brasil, "Tak seorang pun suka minum obat, tetapi semua orang membutuhkannya untuk sembuh." Hal yang sama berlaku untuk biofuel. Terkadang, "paksaan" bukanlah beban, melainkan cara bagi kita untuk memaksa diri bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Thien Tuong
Sumber: https://bsr.com.vn/web/bsr/-/xang-bio-hoc-bat-buoc-hay-tu-nguyen
Komentar (0)