![]() |
Kekalahan Atalanta 2-10 bukan hanya kerugian bagi satu klub, tetapi juga simbol dari penurunan umum Serie A di Eropa. |
Pada dini hari tanggal 19 Maret, Bayern Munich mengamankan kemenangan 4-1 atas Atalanta di kandang sendiri pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions. Meskipun sudah memiliki keunggulan signifikan setelah kemenangan 6-1 di leg pertama, tim asuhan Vincent Kompany melanjutkan performa dominannya.
Bagi Atalanta, ini adalah sebuah aib besar. Corriere dello Sport berkomentar bahwa hasil ini bukan hanya menyakitkan bagi Atalanta tetapi juga pukulan besar bagi prestise Serie A secara keseluruhan.
Ini juga merupakan situasi yang mengkhawatirkan bagi Serie A musim ini. Liga ini tidak lagi memiliki tim di perempat final Liga Champions. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Serie A sama sekali tidak memiliki tim di delapan besar kompetisi Eropa.
Atalanta juga menjadi tim Serie A pertama yang kebobolan 10 gol dalam satu babak gugur di kompetisi besar Eropa. Kekalahan 2-10 mereka juga merupakan kekalahan terberat yang pernah diderita oleh klub Italia di babak gugur, melampaui kekalahan Lazio 0-7 dari Barcelona pada musim 1975/76.
Di era Liga Champions modern, hanya Sporting Lisbon (yang kalah 1-12 dari Bayern pada tahun 2009) yang kebobolan lebih banyak gol daripada Atalanta di babak gugur.
Kegagalan Atalanta, tim Serie A terakhir yang tersisa di Liga Champions, juga mencerminkan realitas yang menyedihkan. Serie A, yang pernah menjadi liga dominan di Eropa selama tahun 1990-an dan awal 2000-an, kini mengalami penurunan yang jelas dalam hal kualitas dan hasil di kompetisi kontinental.
![]() |
Atalanta mengalami kekalahan telak melawan Bayern. |
Alasannya berasal dari kurangnya investasi yang signifikan, gaya bermain yang konservatif, kurangnya kreativitas, dan sistem pelatihan dan transfer pemain muda yang tidak efektif. Sebelum Atalanta, semua perwakilan Serie A tersingkir di babak awal, dengan Inter dan Juventus dikalahkan oleh lawan yang lebih lemah seperti Bodo/Glimt dan Galatasaray di babak play-off.
Napoli, juara Serie A musim lalu, bahkan hanya berada di peringkat ke-30 dari 36 tim di babak kualifikasi. Koefisien UEFA Italia terus menurun, dan mereka berisiko kehilangan tempat di empat besar peringkat koefisien UEFA.
Ini bisa dibilang sebagai titik terendah baru bagi sepak bola Italia di era modern. Serie A sangat membutuhkan perombakan radikal dalam taktik, keuangan, dan pendekatan modern terhadap sepak bola jika tidak ingin terus tertinggal dari liga-liga lain.
Sumber: https://znews.vn/atalanta-thua-2-10-serie-a-cham-day-post1636148.html








Komentar (0)