Pada tanggal 24 Mei, Rumah Sakit Umum Xuyen A mengumumkan bahwa para dokter telah berhasil melakukan operasi pada LQD (24 tahun, berdomisili di Cu Chi, Kota Ho Chi Minh), seorang pemuda yang menderita berbagai luka parah setelah kecelakaan lalu lintas.
Berdasarkan riwayat medis, pemuda tersebut terlibat dalam kecelakaan saat mengendarai sepeda motor di Jalan Nguyen Thi Lang (Komune Cu Chi, Kota Ho Chi Minh). Korban dirawat di ruang gawat darurat dalam kondisi kritis dengan beberapa luka serius.

Hasil CT scan seluruh tubuh menunjukkan bahwa pasien mengalami robekan tendon patela, kerusakan sendi lutut akibat benda tajam, dislokasi siku, fraktur klavikula, fraktur maksilofasial, dan yang paling penting, lidah yang putus.
Menurut dokter, ini adalah kasus cedera multipel parah yang secara bersamaan memengaruhi mobilitas pasien, kemampuan makan dan mengunyah, serta komunikasi. Namun, yang membuat kasus ini sangat sulit adalah berat badan pasien yang mencapai 130 kg.
Setelah konsultasi multidisiplin, sebuah tim yang terdiri dari ahli bedah ortopedi, anestesiologi, dan maksilofasial dikerahkan untuk melakukan operasi darurat.
Selama berjam-jam tanpa henti, para dokter merawat serangkaian cedera kompleks pada pasien tersebut. Tim melakukan perbaikan tendon patella, merawat cedera sendi lutut, meluruskan siku yang terkilir, dan mengimobilisasi pasien dengan gips untuk menjaga mobilitasnya.
Selain itu, pasien menjalani operasi untuk memperbaiki tulang selangka yang patah dan mengobati cedera pada rahang atas dan rongga mulut, termasuk prosedur bedah mikro untuk mempertahankan bagian lidah yang terputus.
Dr. Nguyen Duy Toan, seorang spesialis Ortopedi dan Traumatologi di Rumah Sakit Umum Xuyen A, menyatakan bahwa operasi pada pasien obesitas selalu membawa lebih banyak risiko daripada pada pasien dengan ukuran tubuh normal.

"Lapisan jaringan lemak yang tebal membuat akses ke lesi menjadi lebih sulit, memperpanjang waktu operasi dan meningkatkan risiko infeksi pascaoperasi," kata Dr. Toan.
Menurut ahli ini, obesitas sering dikaitkan dengan gangguan pernapasan, kardiovaskular, atau metabolisme, sehingga membuat proses anestesi dan resusitasi menjadi jauh lebih rumit.
"Pasien-pasien ini memiliki risiko komplikasi terkait anestesi yang lebih tinggi dari biasanya, sehingga tim harus mempersiapkan diri dengan sangat hati-hati, mulai dari menilai kondisi keseluruhan mereka dan mengendalikan pernapasan hingga memilih peralatan yang sesuai dengan kondisi fisik mereka," jelas dokter tersebut.
Para dokter mengatakan bahwa sekadar melakukan intubasi dan mengendalikan pernapasan pada pasien seberat 130 kg merupakan tantangan besar di ruang operasi. Berkat koordinasi yang lancar antara berbagai spesialisasi, operasi tersebut berhasil. Setelah 4 hari perawatan, pemuda itu mampu menggerakkan lengan dan kakinya, berlatih berjalan dengan alat bantu, dan makan secara normal.
Menurut para ahli, obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kronis tetapi juga mempersulit pengobatan cedera, operasi, dan pemulihan jika terjadi kecelakaan.
Berdasarkan kasus di atas, dokter menyarankan masyarakat untuk menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, dan mematuhi peraturan keselamatan lalu lintas untuk mengurangi risiko cedera serius dan komplikasi berbahaya selama perawatan.
Sumber: https://tienphong.vn/bac-si-chay-dua-cuu-benh-nhan-nang-130kg-bi-dut-luoi-post1845882.tpo








Komentar (0)