![]() |
Cinta sejati membantu kita berjuang untuk meningkatkan diri. (Ilustrasi: Adegan dari film *A Time Called You*) |
Awalnya, kita menganggap cinta sebagai kisah membunuh naga jahat atau menaklukkan iblis ganas – kekuatan yang membuat kita aman dalam pelukan orang yang kita cintai. Seiring bertambahnya usia, hati kita retak atau bahkan hancur beberapa kali, kita menyadari bahwa cinta mungkin hanyalah sebuah bentuk mata uang, sesuatu yang dihargai dan dipertukarkan, sementara apa yang sebenarnya kita inginkan mungkin tetap menjadi misteri.
Kita mulai bertanya-tanya: Apakah cinta benar-benar ada? Sebenarnya, cinta adalah kumpulan momen-momen kecil yang terbungkus dalam serangkaian tindakan tanpa akhir yang kita pilih untuk menunjukkan kepada seseorang, berulang kali, bahwa kita peduli padanya.
Cinta adalah kata benda sekaligus kata kerja. Ia adalah air mata yang membasahi kemeja flanel lembut orang yang kita cintai ketika kita menyerah pada kekacauan hidup, ia adalah tawa pukul dua pagi dalam kegelapan yang membuat perut kita sakit sementara dunia di luar tertidur. Cinta adalah emosi sekaligus tindakan, cara untuk mengekspresikan perasaan terdalam di jiwa kita yang kita miliki untuk orang lain.
Namun, cinta berarti jauh lebih dari itu. Cinta adalah kekuatan pendorong tanpa henti yang mendorong kita untuk menjadi lebih baik – dan mendorong orang lain untuk menjadi demikian juga. Cinta adalah sarana yang kita gunakan untuk belajar, tumbuh, dan berkembang menjadi versi diri kita yang lebih baik dan lebih bijaksana.
Pada kenyataannya, cinta adalah sarana yang kita gunakan untuk belajar membangun hubungan dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia. Tidak seorang pun dilahirkan dengan mengetahui aturan untuk hubungan yang sukses atau alat yang kita butuhkan untuk membangun kebahagiaan. Sebaliknya, kita harus membayar harga untuk pelajaran itu. Melalui coba-coba, kita tidak hanya belajar apa itu cinta tetapi juga bagaimana rasanya ketika kita dengan tulus mempraktikkannya.
Kita keliru percaya bahwa cinta hanyalah sebuah hubungan dengan seseorang. Padahal, sebenarnya ada tiga tahapan cinta yang harus kita lalui hingga mencapai kesempurnaan diri kita. Sama seperti kita tidak terlahir dengan kemampuan berlari, kita jarang mengalami cinta yang utuh dan abadi pada pengalaman pertama.
Sebaliknya, kita ditakdirkan untuk melewati krisis, kesedihan, dan keinginan egoistis untuk mengatasi anggapan kita sendiri tentang cinta dan menemukan apa sebenarnya cinta sejati itu.
Terkadang aku bertanya-tanya, jika saat aku bertemu cinta ketigaku, kami masih muda, sebelum menikah, atau sebelum memiliki anak, apakah kami berdua bisa mengatasi semua dogma dan langsung menuju kebahagiaan. Tetapi dalam refleksi diriku sendiri, aku menyadari bahwa bagiku, dan kurasa bagi kita semua, itu tidak mungkin terjadi karena aku bukanlah orang yang dia butuhkan, yang memungkinkan dia untuk kembali menjadi versi terbaik dirinya.
Aku mengenang kembali kisah cintaku, dan setiap kisah bukan hanya berbeda, tetapi juga memunculkan versi diriku yang berbeda, dan harapan bahwa cinta pertama mungkin adalah satu-satunya yang terdengar manis, tetapi kenyataannya jarang sekali cinta bekerja seperti itu.
Cinta datang bagaikan banjir saat kita paling tidak mengharapkannya; cinta tidak datang untuk membuat hidup kita lebih mudah atau untuk menenangkan ambisi kita, tetapi untuk membantu kita menyelesaikan perjalanan pulang, kembali kepada diri kita sendiri.
Karena cinta adalah kekuatan yang membuat alam semesta berputar; detak jantung kita, perasaan ciuman yang penuh jiwa, dan pemenuhan keinginan bersama setiap orang untuk dikenal, dihargai, dan diperhatikan sebagaimana adanya.
Cinta tidak peduli dengan hiasan-hiasan yang dangkal; cinta hanya berfokus pada apa yang tulus. Cinta adalah kekuatan pendorong yang menggerakkan kita maju, membantu kita tumbuh, dan bahkan mengangkat batas pemahaman kita sendiri. Cinta membuat kita menjadi orang yang lebih baik.
Cinta bukan sekadar yang tersisa... Cinta adalah segalanya.
Sumber: https://znews.vn/dieu-gi-giup-ban-nhan-ra-day-la-tinh-yeu-dich-thuc-post1652672.html








Komentar (0)