Terletak di jantung kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia, Museum Geologi Bandung adalah salah satu museum ilmu pengetahuan alam paling terkemuka di Indonesia.
Tempat ini bukan hanya merupakan rumah bagi jejak tertua Bumi, tetapi juga merupakan “portal waktu” untuk kembali ke jutaan tahun yang lalu.
Museum ini didirikan oleh ahli geologi Belanda pada tahun 1928 selama masa kolonial dan saat ini dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia.
Tempat ini saat ini menyimpan lebih dari 250.000 sampel batuan, mineral, dan fosil yang telah diklasifikasikan dan dipelajari selama hampir satu abad.
Tepat di lobi utama, kerangka dinosaurus Tyrannosaurus rex raksasa—simbol museum—menampilkan kesan yang kuat. Dengan panjang lebih dari 14 meter dan tinggi hampir 7 meter, model ini merupakan replika persis dari fosil yang ditemukan di Amerika Utara. Kerangka dinosaurus ini tidak hanya mengesankan secara visual, tetapi juga membuka perjalanan pengalaman yang nyata tentang sejarah Bumi dan evolusi kehidupan.
Museum ini terbagi menjadi tiga area utama. Dalam pameran Sejarah Kehidupan, pameran menunjukkan garis waktu geologis yang mencakup miliaran tahun sejak awal Bumi, melalui lautan purba, kemunculan organisme bersel tunggal, ikan bertulang, amfibi, reptil, dan akhirnya manusia.
Yang juga dipamerkan adalah fosil hewan prasejarah seperti Stegodon (gajah purba), Rhinoceros sondaicus (badak Jawa), kuda nil purba, dan kura-kura darat raksasa Megalochelys.
Zona Geologi Indonesia menampilkan peta geologi, batuan, mineral berharga, dan simulasi aktivitas vulkanik, karakteristik Cincin Api Pasifik yang mana Indonesia merupakan pusatnya.
Model, animasi, dan layar sentuh membantu pemirsa memahami struktur, pergerakan geologis, dan sumber daya negara.
Area Eksploitasi dan Pemanfaatan Mineral - memberikan pandangan komprehensif tentang peran sumber daya dalam pembangunan sosial-ekonomi . Selain itu, terdapat topik-topik edukatif seperti bencana lingkungan, perubahan iklim, dan langkah-langkah pertambangan berkelanjutan.
Salah satu pameran museum yang paling luar biasa adalah fosil Homo erectus (manusia Jawa purba) yang ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah. Spesimen fosil ini membuktikan keberadaan manusia prasejarah di kepulauan Indonesia lebih dari satu juta tahun yang lalu, yang turut menempatkan Indonesia di peta arkeologi dunia.

Selain itu, fosil gajah Blora (Elephas hysudrindicus), spesies gajah raksasa yang pernah hidup di Jawa, ditampilkan hampir 85% utuh, menunjukkan bahwa tingkat arkeologi dan konservasi Indonesia terus meningkat.
Setelah restorasi besar-besaran dengan dukungan Pemerintah Jepang melalui JICA pada tahun 2000, museum ini telah menjadi destinasi pendidikan dan wisata terkemuka, menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya. Di akhir pekan, tempat ini sering dikunjungi ratusan pelajar dari provinsi tetangga untuk belajar dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Husna, siswa kelas 10 di Bandung, bercerita bahwa museum ini menyimpan banyak hal menarik tentang sejarah bumi dan manusia. Husna paling terkesan dengan kerangka dinosaurus raksasa tersebut. Karena sudah sering ke sana, kali ini Husna mengajak adik perempuannya dan yakin adiknya itu bisa menjelaskan banyak hal menarik kepadanya.
Tutorial, video interaktif, papan simulasi dan model geologi dirancang agar mudah digunakan dan menarik.
Selain menjadi pusat pendidikan yang menarik bagi pelajar dan wisatawan, museum ini juga diperuntukkan bagi para profesional dan peneliti di bidang arkeologi.
Museum ini juga secara rutin menyelenggarakan seminar, pameran keliling dan memiliki kegiatan kerja sama internasional di bidang geologi, lingkungan hidup dan pelestarian warisan alam.
“Misi kami adalah mendidik, menyebarluaskan informasi dan pengetahuan di bidang geologi, membimbing, dan mendidik masyarakat tentang cara meminimalkan risiko di bidang geologi, membantu mengelola sumber daya alam dengan lebih baik, dan mencegah bencana alam secara efektif. Setiap hari, kami menerima 2-3 ribu pengunjung domestik dan internasional,” ujar Bapak Raden Isnu Hajar Sulistyawan, Direktur Museum.
Museum Geologi Bandung bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga simbol semangat Indonesia dalam melestarikan pengetahuan dan warisan alam. Dalam konteks perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang semakin serius, Museum Geologi Bandung juga berperan sebagai "gudang peringatan" - tempat orang-orang menengok masa lalu untuk menemukan jalan bagi masa depan.
Source: https://www.vietnamplus.vn/bao-tang-dia-chat-bandung-noi-luu-giu-nhung-dau-tich-co-xua-cua-trai-dat-post1053779.vnp
Komentar (0)