Orang dewasa sibuk dengan pekerjaan, anak-anak kewalahan dengan tekanan akademis, dan telepon seluler tanpa disadari menciptakan jarak tak terlihat antara anggota keluarga.
Kekhawatiran ini juga diangkat dalam seminar "Makan Bersama Keluarga di Masyarakat Modern: Nilai dan Tantangan" yang diselenggarakan oleh Universitas Hanoi pada tanggal 26 Mei.
Lebih dari sekadar diskusi tentang budaya keluarga, program ini juga membuka banyak kisah yang kaya akan emosi tentang hubungan, kesenjangan generasi, dan kerinduan untuk didengar di setiap rumah saat ini.

Seminar tersebut menarik banyak mahasiswa, yang merenungkan peran mendengarkan dan menjalin hubungan dalam keluarga.
Santapan keluarga – tempat "jiwa" rumah tetap terjaga.
Dalam sambutan pembukaannya di seminar tersebut, Dr. Nguyen Tien Dung, Wakil Rektor dan Ketua Serikat Pekerja Universitas Hanoi, menyatakan bahwa makan bersama keluarga bukan hanya tentang mengisi kembali energi setelah seharian bekerja dan belajar, tetapi lebih merupakan ruang dan waktu di mana semua kekhawatiran dan tekanan dunia luar ditinggalkan di luar pintu.
“Hidangan keluarga yang hangat dan nyaman benar-benar dapat menyehatkan jiwa kita dan memperkuat ikatan keluarga. Hidangan ini juga berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kita dan tempat bagi anggota keluarga untuk berkomunikasi dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka,” ujar Dr. Nguyen Tien Dung.

Dr. Nguyen Tien Dung - Wakil Rektor dan Ketua Serikat Pekerja Universitas Hanoi, menyampaikan pidato pada seminar tersebut.
Dalam budaya Vietnam, makan bersama keluarga sejak lama bukan hanya bagian yang biasa dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga dianggap sebagai fondasi utama untuk membangun rumah tangga yang bahagia dan langgeng.
Namun, dalam masyarakat modern, makan bersama seluruh anggota keluarga tampaknya menjadi sebuah kemewahan.
Tekanan kerja, jadwal belajar yang padat, kegiatan sosial, dan perkembangan teknologi menyebabkan banyak orang memiliki semakin sedikit waktu untuk keluarga mereka. Ada rumah-rumah di mana lampu menyala, tetapi jarang sekali seluruh keluarga duduk bersama untuk makan lengkap.
Menurut Nguyen Tien Dung, hal yang paling mengkhawatirkan bukanlah hanya hilangnya rutinitas sehari-hari, tetapi juga risiko kehilangan "jiwa" tradisi keluarga dan hubungan antar generasi.
"Kebahagiaan tidak terletak pada hal-hal yang muluk-muluk. Kebahagiaan hadir dalam aroma nasi yang dimasak sempurna, dalam hidangan sederhana yang disiapkan dengan cinta dan perhatian."
"Tidak peduli seberapa luas dunia di luar sana, berapa banyak godaan atau tekanan yang ada, hanya dengan mengetahui bahwa selalu ada makanan hangat yang menunggu kita di rumah akan memberi kita kekuatan untuk mengatasi semuanya," katanya.
Sebagai penutup pidatonya, Wakil Kepala Sekolah menyampaikan pesan yang menyentuh hati banyak orang: Hargai dan pelihara nilai makan bersama keluarga. Karena suara terhangat dalam hidup adalah panggilan: "Pulanglah untuk makan malam!"

Sebuah drama pendek karya mahasiswa Universitas Hanoi merekonstruksi adegan yang familiar: seluruh keluarga duduk bersama, tetapi masing-masing orang tenggelam dalam dunianya sendiri.
Ketika orang-orang terkasih duduk bersebelahan tetapi semakin menjauh satu sama lain.
Salah satu momen paling menyentuh hati dalam seminar tersebut adalah sandiwara yang dibawakan oleh mahasiswa dari Universitas Hanoi.
Tanpa detail yang rumit, sketsa tersebut merekonstruksi adegan yang familiar di banyak keluarga saat ini: seluruh keluarga duduk mengelilingi meja makan, tetapi kurangnya kedekatan karena setiap orang asyik dengan ponsel dan dunianya sendiri.
Pemandangan itu membuat banyak hadirin terdiam karena begitu familiar dalam kehidupan modern.
Dalam seminar tersebut, jurnalis Ho Minh Chien – Pemimpin Redaksi Majalah Keluarga Vietnam – mengenang momen makan bersama di masa kecilnya yang, meskipun sederhana, selalu dipenuhi oleh kakek-nenek, orang tua, saudara kandung, dan percakapan yang tulus.
"Dulu, belum ada telepon, belum ada media sosial. Orang-orang benar-benar berbicara dan mendengarkan satu sama lain," katanya.

Jurnalis Ho Minh Chien, Pemimpin Redaksi Majalah Keluarga Vietnam, berbagi wawasannya dalam seminar tersebut.
Namun, saat ini, pemandangan umum di banyak keluarga adalah seluruh anggota keluarga duduk di meja yang sama, tetapi masing-masing orang sibuk dengan dunianya sendiri, terpaku pada ponsel mereka dan hampir tidak berinteraksi satu sama lain.
Menurut jurnalis Ho Minh Chien, ini adalah situasi yang mengkhawatirkan, terutama di kota-kota besar – di mana laju pekerjaan yang cepat dan tekanan hidup membuat orang semakin kekurangan waktu untuk keluarga mereka.
"Makan bersama keluarga dan mempererat ikatan keluarga menghadapi tantangan besar," ujarnya.
Dari sudut pandang seseorang yang memiliki pengalaman bertahun-tahun meliput masalah keluarga, ia percaya bahwa banyak konflik dan kekerasan dalam rumah tangga saat ini tidak berasal dari masalah besar, melainkan muncul secara diam-diam dari keheningan, kurangnya mendengarkan, dan kurangnya berbagi.
"Kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya kekerasan fisik; itu juga termasuk kekerasan psikologis. Ada keluarga di mana tidak ada teriakan, tetapi ada sikap dingin dan ketidakpedulian satu sama lain di dalam rumah mereka sendiri," katanya.
Generasi muda perlu didengarkan, bukan dihakimi.
Senada dengan pandangan tersebut, Dr. Nguyen Thi Nhu – Kepala Departemen Pendidikan Politik , Universitas Hanoi, meyakini bahwa banyak keluarga saat ini “hidup sangat dekat satu sama lain tetapi tidak saling memahami.”
Menurutnya, anak muda saat ini menghadapi banyak tekanan dari studi, pekerjaan, masa depan mereka, perbandingan, dan bahkan perundungan di sekolah. Namun, tidak semua orang cukup berani untuk terbuka kepada keluarga mereka.
"Yang paling dibutuhkan kaum muda bukanlah penghakiman, melainkan didengarkan dengan penuh pengertian," tegas Dr. Nguyen Thi Nhu.

Dr. Nguyen Thi Nhu - Kepala Departemen Pendidikan Politik, Universitas Hanoi, berbagi wawasannya dalam seminar tersebut.
Dia mengatakan bahwa banyak orang tua sangat menyayangi anak-anak mereka tetapi tidak tahu bagaimana cara mendukung mereka secara emosional. Sementara itu, banyak anak muda memilih untuk tetap diam karena takut membuat orang tua mereka khawatir atau kecewa.
Dosen perempuan itu menceritakan kisah seorang mahasiswa yang meminta untuk membayar uang kuliah terlambat karena takut memberi tahu orang tuanya bahwa ia harus mengulang mata kuliah tersebut untuk ketiga kalinya. Menurutnya, ini adalah manifestasi nyata dari kesenjangan komunikasi yang ada di banyak keluarga saat ini.
"Keluarga adalah solusi penyembuhan terbaik jika anggotanya tahu bagaimana mendengarkan dan mendukung satu sama lain," katanya.

Banyak siswa secara terbuka berbagi tentang tekanan psikologis dan kesenjangan komunikasi yang mereka hadapi dengan orang tua mereka dalam kehidupan modern.
Dari sudut pandang seorang remaja, Chu Dinh Nam, seorang siswa kelas 4A-22 jurusan Bahasa Inggris, berbagi bahwa ia sering merasa tertekan tetapi tidak ingin menceritakannya kepada orang tuanya karena takut membuat mereka khawatir.
"Terkadang saya memilih untuk curhat kepada teman-teman saya daripada kepada orang tua saya," Nam berbagi.
Namun, setiap kali saya pulang dan duduk makan bersama keluarga, semua tekanan itu sepertinya hilang.
"Makan bersama keluarga memberi saya perasaan aman, gembira, dan seperti saya bisa menjadi diri saya sendiri lagi," kata mahasiswa laki-laki itu.
Sementara itu, mahasiswa Le Minh Khue - kelas 1I-22C, Jurusan Bahasa Italia, percaya bahwa teknologi bukanlah penghalang terbesar untuk konektivitas.
"Meskipun tinggal jauh dari rumah, saya tetap menelepon orang tua saya setiap hari. Hanya mendengar suara piring beradu saja sudah membuat saya merasa hangat," ujar Khue.
Mahasiswi tersebut juga percaya bahwa tradisi saling menunggu giliran makan masih dianggap sakral oleh banyak anak muda saat ini, termasuk Generasi Z.

Panitia memberikan bunga sebagai ucapan terima kasih kepada para tamu.

Para tamu, dosen, dan mahasiswa berpose untuk foto kenang-kenangan setelah seminar "Makan Bersama Keluarga di Masyarakat Modern: Nilai dan Tantangan".
Diskusi telah berakhir, tetapi gema cerita yang dibagikan saat makan bersama keluarga masih terngiang. Di tengah tekanan kehidupan modern dan banyaknya koneksi "virtual", makan bersama keluarga mungkin tetap menjadi tempat paling damai bagi setiap orang untuk kembali, didengarkan, dan merasakan kasih sayang yang tulus.
Karena terkadang, kebahagiaan tidak terletak pada hal-hal besar, tetapi hanya pada momen-momen ketika seluruh keluarga berkumpul di sekitar hidangan hangat, mengobrol, dan berbagi setelah seharian bekerja. Ketika ponsel diletakkan, itu juga saat jarak antar generasi dipersempit oleh kepedulian dan kasih sayang yang tulus.
Dan mungkin, suara terhangat dari sebuah rumah selalu adalah panggilan penuh kasih sayang: "Pulanglah untuk makan malam!"
Sumber: https://nongnghiepmoitruong.vn/bua-com-gia-dinh-thoi-hien-dai-giu-mam-com-giu-su-gan-ket-d813364.html









Komentar (0)