
"Titik Hijau" adalah kumpulan puisi ketiga karya penyair Doan Trong Hai. Ia adalah seorang guru sastra dan anggota Asosiasi Penulis Kota Ho Chi Minh . Sebelumnya, Doan Trong Hai telah menerbitkan kumpulan puisi: "Tanah Cinta" (Penerbit Sastra dan Seni, 2006); dan "Keindahan dan Keabadian" (Penerbit Asosiasi Penulis Vietnam, 2013).
"Green Dot" muncul sebagai tonggak sejarah baru, yang melanjutkan gaya puitis penulis yang kaya emosi dan humanistik, sekaligus membuka ruang emosional yang lebih halus dan tenang—sebuah "jangkar" spiritual di tengah kehidupan perkotaan yang bergejolak.
Judul "Green Dot" menyiratkan berbagai lapisan makna. Bisa jadi itu adalah titik hijau kecil, sisa-sisa alam di tengah beton dan asap. Bisa juga itu adalah "titik hijau" jiwa – bagian yang murni dan baik hati yang diupayakan orang untuk dilestarikan di tengah kesulitan hidup.
Bagi Doan Trong Hai, puisi bukanlah tentang menciptakan kesan visual yang kuat, tetapi tentang melestarikan "titik-titik terang kecil" kemanusiaan: sebuah pandangan, sebuah kenangan, sebuah momen hening sebelum waktu berlalu. Dalam banyak puisinya, warna hijau muncul secara terus-menerus dan diam-diam: hijau dedaunan, hijau laut, hijau kenangan, hijau hal-hal yang tak dapat disebutkan namanya. Karena itu, "Green Dot" memiliki keindahan yang tenang, kaya akan kekuatan yang menghantui.

Alam dalam puisi Doan Trong Hai tidak digambarkan megah dalam gaya epik, juga tidak diidealkan menjadi simbol yang jauh, melainkan mengambil wujud yang akrab dan sehari-hari: secangkir teh di hari musim semi, setetes embun di daun, lanskap putih, ombak, ruang hijau di jantung kota. Di sana, pedesaan dipahami dari kedalaman budayanya dan kenangan yang dialami, dari ruang konkret seperti laut, sungai, hutan, dan desa, hingga alam spiritual tempat orang mencari penyembuhan diri dan penemuan diri.
Alam menjadi gudang prinsip-prinsip kehidupan, tempat orang belajar mendengarkan, bersabar, dan toleran; sementara negara muncul bukan melalui pernyataan-pernyataan besar, tetapi melalui cinta yang tenang dan abadi yang meresap ke dalam setiap gambar, setiap irama puisi – seperti "titik hijau" kecil namun sangat penting di peta jiwa Vietnam saat ini.
Cinta yang diungkapkan Doan Trong Hai dalam "Green Dot" bukanlah cinta yang riuh atau melodramatis, melainkan cinta yang mendalam dan penuh pertimbangan. Ini bukan sekadar cinta romantis dalam pengertian konvensional, tetapi cinta yang telah melewati berbagai pengalaman, dimurnikan oleh waktu, kehilangan, kesepian, dan kerasnya realitas kehidupan modern. Dalam banyak puisinya, cinta muncul sebagai momen refleksi yang tenang dan diperlukan, tempat berlindung yang rapuh namun abadi di tengah kekacauan dunia .
Doan Trong Hai menulis tentang cinta dengan suara yang rendah dan ringkas, namun dengan resonansi yang membekas; citra-citra seperti "kekosongan," "tanah putih," "tetesan embun," "titik biru"... membangkitkan emosi yang intim dan nuansa simbolis tentang kerapuhan kebahagiaan dan keinginan untuk melestarikannya.
“Green Dot” menunjukkan kematangan gaya penulisan Doan Trong Hai. Bahasa puitisnya sangat halus, dengan baris-baris pendek, citra yang terkendali, dan menghindari tampilan teknik yang berlebihan. Namun di balik kesederhanaan ini terdapat pemikiran puitis yang terstruktur dengan rapi, di mana setiap citra membawa makna simbolis dan berbagai macam asosiasi. Ritme yang lambat dan merata, dengan banyak jeda – “keheningan” yang disengaja – memungkinkan pembaca untuk membaca tidak hanya secara visual tetapi juga secara mendalam. Jenis puisi ini menuntut pembaca untuk berhenti sejenak, mendengarkan diri sendiri, dan dari sana menemukan “titik hijau” mereka sendiri dalam pikiran mereka.
Kumpulan puisi ini tidak bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar, melainkan menyarankan kepada pembaca bagaimana untuk memperlambat tempo hidup, menjalani hidup dengan lebih baik, dan menghargai hal-hal kecil namun abadi.
Dengan "Green Dot," Doan Trong Hai terus menegaskan posisinya sebagai penyair yang kontemplatif dan abadi, berkontribusi untuk memperkaya lanskap puisi Kota Ho Chi Minh ke arah yang humanistik, kontemplatif, dan penuh emosi. Sebuah "Titik Hijau" kecil di tengah luasnya kehidupan, cukup untuk meyakinkan pembaca bahwa: di tengah kebisingan dan perubahan, puisi masih memiliki kemampuan untuk menjaga warna hijau dalam jiwa manusia…
Sumber: https://nhandan.vn/cham-xanh-trong-tho-doan-trong-hai-post940346.html







Komentar (0)