Aku kembali ke kampung halamanku pada suatu sore musim panas yang gerimis, ketika aroma pertama bunga magnolia memenuhi udara. Duduk di dalam becak, perlahan mengelilingi jalanan, mendengarkan angin sejuk yang menggerakkan dedaunan kuning pohon sấu, aku merasakan kedamaian yang luar biasa. Setelah bertahun-tahun pergi, kenangan yang kupikir telah lama kulupakan, namun, hanya dengan melangkah ke jalan-jalan tua itu, semuanya kembali terlintas, sejelas seolah tak pernah pudar.
| Gambar ilustrasi. |
Kota masa kecilku telah banyak berubah. Banyak jalan telah diperlebar, trotoar luas, dan toko serta restoran ramai dengan lampu-lampu terang. Jalan-jalan tampak muda, semarak, dan hidup. Namun di tengah semua kebisingan dan warna itu, aku masih mengenali wajah-wajah familiar dari masa lalu. Kesungguhan rumah-rumah tua, atap gentengnya yang ditutupi lumut dan jendela-jendela bercat biru yang setengah tertutup. Pohon-pohon kapuk dan asam jawa tua dengan batang berlumut, yang dililiti tanaman merambat parasit. Di persimpangan Cua Dong, bunga kapuk terakhir musim ini menyala terang dengan rasa sesal sebelum jatuh ke tanah. Dan aku merasa seolah-olah melihat diriku sendiri dari masa lalu, memegang es krim yang setengah dimakan, berlari mengejar teman-temanku yang menerbangkan layang-layang di ujung jalan.
Setelah berjalan-jalan santai di jalanan, aku kembali dan berdiri diam di depan gerbang rumah lamaku, tempat teralis bougainvillea akan menjuntai seperti air terjun bunga merah muda dan ungu setiap musim panas. Dinding putih pucat tua yang dulu kutemui, aku, dan teman-teman kami biasa menggambar, kini dicat abu-abu muda mengkilap oleh pemilik baru. Di halaman bata, bangku kayu panjang tempat ibuku biasa duduk merajut di bawah pohon crape myrtle kuning yang mekar cerah telah hilang. Taman kecil di depan rumah, dengan rumpun mawar, krisan, dan impatiens, juga telah hilang. Namun anehnya, aku masih samar-samar mencium aroma manis bunga osmanthus, sebuah pengingat lembut bahwa kenangan tak pernah meninggalkanku.
Aku berjalan menyusuri jalan kecil itu, tempat aku tak terhitung banyaknya sore hari melewatkan tidur siang, bermain kelereng dan hacky sack bersama teman-temanku. Dengan setiap langkah, kenangan kembali membanjiri pikiranku seperti film gerak lambat. Berhenti di samping sepeda tua milik penjual bunga, aku memilih untuk membeli seikat bunga lili putih. Bunga-bunga murni dan lembut ini hanya mekar dalam waktu singkat selama transisi dari musim semi ke musim panas, namun tetap mampu menyentuh hati banyak orang.
Jalanan telah berubah, dan rambutku kini diwarnai kabut waktu. Namun, setiap kali aku kembali, berjalan menyusuri jantung kota kelahiranku, aku masih merasa seperti anak kecil lagi. Aku tahu bahwa setiap orang akan tumbuh dewasa, berubah, dan harus meninggalkan tempat yang pernah menjadi milik mereka dan yang sangat mereka cintai. Tetapi kota masa kecilku akan selalu ada di sana, seperti bagian dari darah dagingku, sebuah alam kenangan yang tidak akan pernah pudar oleh waktu. Jadi setiap kali aku kembali, aku terharu menyadari bahwa jalanan mungkin telah berubah, tetapi di hatiku, jalanan itu akan selalu menjadi jalanan lama, lembut, hangat, seperti pelukan dari era yang telah berlalu. Dan aku merasa sedih mendengar melodi yang mengharukan: "Berjalan sendirian di jalanan pada sore hari / Diam-diam mengingat namamu / Di luar, sinar matahari yang lembut telah hilang / Di luar, siapa yang masih tahu namamu?"
Lam Hong
Sumber: https://baonamdinh.vn/van-hoa-nghe-thuat/202504/chieu-mot-minhqua-pho-61766d2/






Komentar (0)