
Dosen bukan hanya penyampai pengetahuan, tetapi juga penjaga obor untuk lingkungan akademik yang layak - Foto: ilustrasi
Surat Edaran Nomor 26 Kementerian Pendidikan dan Pelatihan tentang standar profesional bagi dosen universitas, sekilas, tampak sebagai dokumen teknis: menetapkan kriteria, menstandarisasi tenaga kerja, dan mengklasifikasikan jabatan. Namun, surat edaran ini juga mengirimkan pesan yang kuat: universitas-universitas di Vietnam memasuki fase di mana mereka harus benar-benar profesional, tidak hanya dalam sistem, tetapi juga pada setiap anggota staf pengajar secara individu.
Dari perspektif seorang dosen, saya percaya aspek terpenting dari surat edaran ini bukanlah pada jumlah publikasi atau topik penelitian, tetapi pada cara surat edaran ini mendefinisikan ulang "profesi dosen".
Etika akademik: landasan atau slogan?
Surat Edaran 26 menempatkan "etika" sebagai prioritas utama di antara tiga standar yang ada. Ini bukan hal baru, tetapi kali ini ditekankan secara lebih spesifik: dosen harus menjaga integritas ilmiah dan jujur dalam penelitian, publikasi, dan pengajaran mereka. Dalam konteks saat ini, hal ini bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Tidak sulit untuk melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan: pengejaran volume publikasi dan pengakuan internasional dengan segala cara; "penulisan bersama" secara formal; dan bahkan plagiarisme dan kutipan yang tidak tepat. Fenomena ini belum cukup meluas untuk menimbulkan kekhawatiran sistemik, tetapi cukup untuk mengikis kepercayaan akademis jika dibiarkan tanpa penanganan.
Masalahnya adalah: etika tidak bisa begitu saja "diatur." Seorang dosen mungkin memenuhi semua kriteria terkait kualifikasi, publikasi, dan topik penelitian, tetapi tetap kurang integritas dalam penelitiannya. Sebaliknya, ada juga yang melakukan pekerjaan ilmiah serius tetapi gagal "memenuhi standar" karena kurangnya publikasi.
Jika kita hanya berfokus pada kriteria, kita berisiko mengubah integritas ilmiah menjadi sekadar slogan. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem akademik yang transparan: proses peninjauan sejawat yang ketat, mekanisme deteksi plagiarisme yang efektif, dan yang terpenting, budaya menghormati kebenaran. Kemudian, etika tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu "diingatkan", tetapi akan menjadi norma alami.
Surat Edaran Nomor 26 dengan jelas menetapkan persyaratan untuk penelitian ilmiah: mulai dari dosen senior, harus ada publikasi internasional, hingga dosen tingkat tinggi, harus ada sejumlah publikasi tertentu, beserta topik penelitian dan buku-buku khusus. Pada prinsipnya, ini adalah langkah yang tepat. Universitas tidak bisa hanya mengajar tanpa melakukan penelitian.
Seorang dosen yang tidak melakukan penelitian ilmiah akan kesulitan memperbarui pengetahuannya dan membimbing mahasiswa. Namun kenyataannya, ceritanya tidak sesederhana itu.
Di banyak lembaga pendidikan, terutama sekolah swasta atau sekolah yang berorientasi pada aplikasi, kondisi penelitian terbatas: kurangnya dana, kurangnya kelompok penelitian, dan kurangnya waktu karena tekanan pengajaran yang tinggi.
Dalam konteks ini, tuntutan akan "standardisasi" dengan mudah berubah menjadi tekanan formal. Apa konsekuensinya? Maraknya makalah yang ditulis hanya untuk memenuhi standar, topik yang diangkat untuk mendapatkan persetujuan daripada untuk memecahkan masalah praktis.
Sistem akademik tidak dapat berkembang secara berkelanjutan jika didominasi oleh mentalitas "melakukannya demi melakukannya". Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel. Anggota fakultas tidak boleh dievaluasi hanya berdasarkan jumlah publikasi, tetapi lebih pada kualitas, dampak, dan penerapannya. Untuk bidang spesialisasi, produk alternatif seperti transfer teknologi, inovasi, atau kontribusi kepada masyarakat dapat diterima. Standardisasi diperlukan, tetapi harus sesuai dengan realitas.
Fitur baru utama dari surat edaran ini adalah penerapannya kepada semua dosen, baik di lembaga publik maupun swasta. Hal ini membantu menciptakan standar umum dan menghindari situasi adanya "dua standar" dalam sistem yang sama.
Namun, perbedaan kondisi antara jenis sekolah ini sangat signifikan. Universitas negeri besar memiliki tradisi penelitian yang kuat, fakultas yang mumpuni, dan sumber daya yang melimpah. Sementara itu, banyak universitas swasta berfokus pada pelatihan terapan, melayani kebutuhan pasar tenaga kerja, dengan model operasional yang lebih fleksibel.
Jika kriteria yang kaku diterapkan, risikonya adalah berkurangnya keberagaman dalam sistem universitas. Universitas mungkin terpaksa "mengikuti standar" alih-alih mengembangkan kekuatan mereka sendiri.
Solusinya bukanlah menurunkan standar, melainkan menstratifikasikannya. Berbagai kriteria dapat ditetapkan, sesuai dengan orientasi penelitian, aplikasi, atau praktik profesional. Sistem universitas yang sehat bukanlah sistem yang homogen, melainkan sistem yang beragam dengan standar yang sama.
Dari "berkualifikasi" menjadi "peran yang tepat"
Surat Edaran 26 juga menetapkan persyaratan untuk bahasa asing, teknologi informasi, dan inovasi. Ini adalah kompetensi yang sangat diperlukan dalam konteks transformasi digital yang kuat di pendidikan tinggi. Tetapi ada pertanyaan yang perlu diajukan: apakah kita melatih dosen sebagai "pelaku segala hal," atau sebagai "pakar di bidangnya"?
Seorang anggota fakultas yang baik tidak harus mahir dalam segala hal. Yang penting adalah mereka unggul dalam peran masing-masing: pengajaran, penelitian, atau keterkaitan dengan praktik. Oleh karena itu, alih-alih mengharuskan semua anggota fakultas untuk memenuhi serangkaian kriteria komprehensif yang sama, spesialisasi harus didorong. Beberapa mungkin kuat dalam penelitian, yang lain dalam pengajaran, dan yang lainnya lagi dalam keterkaitan dengan dunia bisnis. Ketika setiap individu memanfaatkan kekuatan mereka, kolektif akan menjadi lebih kuat.
Agar Surat Edaran 26 benar-benar dapat diimplementasikan, saya percaya ada tiga pendekatan utama yang dibutuhkan:
Pertama, kita perlu membangun mekanisme evaluasi multidimensi. Mekanisme ini tidak boleh hanya bergantung pada data konkret, tetapi juga harus mencakup umpan balik kualitatif dari mahasiswa, kolega, dan pemangku kepentingan.
Kedua, berinvestasilah pada lingkungan penelitian. Jika anggota fakultas diharuskan melakukan penelitian ilmiah, kondisi yang diperlukan harus diciptakan: pendanaan penelitian, waktu, koneksi internasional, dan terutama pengurangan beban administratif.
Ketiga, membina budaya akademik sangat penting, namun juga merupakan elemen yang paling menantang. Lingkungan yang menghargai pengetahuan, mendorong debat, dan menjunjung tinggi kejujuran secara alami akan menghasilkan dosen-dosen "berstandar" dalam arti kata yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, Surat Edaran 26 bukan hanya tentang angka; ini tentang apa yang kita inginkan agar universitas-universitas di Vietnam menjadi seperti apa. Jika kita hanya fokus pada pemenuhan standar, kita akan memiliki fakultas yang memenuhi persyaratan di atas kertas. Tetapi jika kita melangkah lebih jauh, dengan mengincar "profesi yang tepat," kita dapat membangun sistem pendidikan tinggi yang benar-benar mendalam. Dalam sistem tersebut, dosen bukan hanya penyebar pengetahuan, tetapi juga penjaga api untuk lingkungan akademik yang layak.
Sumber: https://tuoitre.vn/chuan-hoa-giang-vien-dai-hoc-2026041212544883.htm






Komentar (0)