Orang-orang di Hue menggunakan aplikasi Hue-S sebagai saluran interaksi digital. Foto: Bao Phuoc

Landasan penting adalah keterlibatan terkoordinasi dari seluruh sistem politik . Transformasi digital telah menjadi tugas berkelanjutan dalam tata kelola dan inovasi layanan. Dari landasan kesadaran inilah Hue telah mencapai hasil yang cukup komprehensif. 16 dari 18 target untuk tahun 2025 telah tercapai dan terlampaui. Secara khusus, di bidang pemerintahan digital, Hue terus menjadi salah satu daerah terdepan di seluruh negeri. Sistem manajemen dan operasional dokumen elektronik telah diimplementasikan secara serentak; layanan publik daring telah berkembang pesat; persentase aplikasi yang diproses secara daring meningkat; dan model "layanan satu pintu terpusat" secara bertahap terbukti efektif.

Yang lebih penting lagi adalah Hue telah membangun platform digital yang khas: Hue-S. Dari aplikasi awal, Hue-S telah menjadi "ekosistem digital" yang terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari warganya. Dengan ratusan ribu pengguna tetap, Hue-S bukan hanya produk teknologi, tetapi juga perwujudan metode interaksi baru antara pemerintah dan masyarakat, di mana warga tidak hanya menerima layanan tetapi juga berpartisipasi dalam proses tata kelola perkotaan.

Dalam ekonomi digital, proporsi ekonomi digital diperkirakan akan mencapai sekitar 15% dari PDB pada tahun 2025. Mayoritas bisnis telah menerapkan teknologi informasi dalam produksi dan operasional bisnis mereka; e-commerce mulai menyebar ke produk-produk khusus dan produk OCOP (One Commune One Product). Jumlah bisnis teknologi digital telah melampaui target yang ditetapkan, menunjukkan bahwa ekosistem baru secara bertahap terbentuk, meskipun dalam skala yang sederhana...

Namun, hambatan terbesar mungkin tetap terletak pada data. Data khusus masih tersebar, tidak konsisten, tidak terstandarisasi, dan tidak sepenuhnya saling terhubung. Sementara itu, transformasi digital dalam fase barunya tidak dapat berhenti pada digitalisasi proses, tetapi harus bergerak menuju tata kelola berbasis data. Sampai data menjadi "sumber daya bersama" sistem, analisis, peramalan, dan manajemen yang cerdas akan tetap terbatas. Selain itu, pembangunan yang tidak merata tetap menjadi tantangan. Beberapa daerah kekurangan infrastruktur dan peralatan; tenaga kerja TI masih sedikit; dan kesadaran serta keterampilan digital para pejabat dan warga tidak seragam.

Transformasi digital saat ini sangat bergantung pada pendanaan anggaran negara, sementara mobilisasi sumber daya sosial, menarik perusahaan teknologi, dan mengembangkan ekosistem inovasi masih terbatas. Hal ini menghambat banyak inisiatif untuk berkembang lebih jauh dan banyak model untuk direplikasi. Terlihat bahwa transformasi digital Hue selama lima tahun terakhir telah berjalan dengan baik dalam fase "pembangunan fondasi" dan "perluasan aplikasi". Namun, memasuki fase baru, dengan Hue secara resmi menjadi kota yang dikelola secara terpusat, dibutuhkan pendekatan yang lebih mendalam, lebih cerdas, dan lebih menghasilkan nilai.

Pertama dan terpenting, transformasi digital perlu dikaitkan erat dengan model pengembangan perkotaan baru Hue. Sebuah kota warisan budaya, ekologis, dan cerdas tidak bisa hanya menjadi tempat penerapan teknologi; kota tersebut harus menjadi tempat di mana teknologi berfungsi untuk melestarikan dan mempromosikan nilai-nilai warisan, meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan sektor ekonomi baru. Hal ini membutuhkan pola pikir terintegrasi, di mana transformasi digital tidak dapat dipisahkan dari perencanaan kota, pembangunan ekonomi, dan tata kelola sosial.

Kedua, data harus menjadi fokus utama fase selanjutnya. Membangun gudang data bersama, menstandarisasi data industri, menghubungkan kota dengan tingkat akar rumput, dan mendirikan pusat analisis dan peramalan harus dianggap sebagai prioritas utama. Hanya ketika data dimanfaatkan secara efektif, Hue dapat beralih ke fase tata kelola cerdas dan benar-benar menerapkan kecerdasan buatan.

Ketiga, transformasi digital harus dikaitkan dengan sektor-sektor unggulan Hue. Pariwisata cerdas, warisan digital, museum digital, pendidikan digital, layanan kesehatan digital, e-commerce untuk produk-produk khas… ini bukan sekadar konsep, tetapi perlu diwujudkan menjadi produk dan layanan bernilai tambah tinggi. Inilah jalan bagi transformasi digital untuk secara langsung berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing kota.

Keempat, sumber daya manusia digital perlu diidentifikasi sebagai area terobosan. Ini bukan hanya tentang melatih pegawai negeri, tetapi juga tentang membangun ekosistem pelatihan-penelitian-bisnis, yang terhubung dengan Universitas Hue dan pusat-pusat inovasi. Sebuah kota yang dikelola secara terpusat di era digital tidak dapat berfungsi tanpa tenaga kerja berkualitas tinggi.

Pada akhirnya, hal terpenting adalah melestarikan identitas Hue selama transformasi digital. Hue tidak membutuhkan transformasi digital yang berisik dan mencolok, melainkan transformasi yang halus, efektif, dan manusiawi, di mana teknologi melayani masyarakat, bukan menggantikan mereka; di mana warisan budaya dilestarikan melalui metode baru; dan di mana setiap warga merasa nyaman, aman, dan percaya pada lingkungan digital.

Di depan terbentang perjalanan panjang, dengan tuntutan yang lebih tinggi dan tantangan yang lebih besar. Jika terus mempertahankan semangat inovasi, ketekunan, dan fokus yang tepat, Hue benar-benar dapat bertransformasi dari sebuah wilayah yang "berprestasi baik dalam transformasi digital" menjadi model kota digital dengan identitasnya sendiri, di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan terhubung oleh teknologi, sambil tetap melestarikan esensi kota warisan budaya.

Huong Binh

Sumber: https://huengaynay.vn/kinh-te/khoa-hoc-cong-nghe/chuyen-doi-so-tu-nen-tang-vung-chac-den-yeu-cau-but-pha-165547.html