Konstitusi menetapkan bahwa semua kekuasaan negara berada di tangan rakyat. Majelis Nasional , sebagai badan perwakilan rakyat tertinggi dan organ kekuasaan negara tertinggi, merupakan perwujudan kekuasaan tersebut yang paling terkonsentrasi. Oleh karena itu, kekuasaan Majelis Nasional adalah kekuasaan yang dipercayakan oleh rakyat melalui suara mereka dan dijalankan melalui perwakilan yang dipilih oleh rakyat. Dengan kata lain, kekuasaan Majelis Nasional tidak hanya terletak pada legislasi, pengawasan, dan pengambilan keputusan mengenai isu-isu nasional yang penting, tetapi juga pada kemampuannya untuk secara jujur mencerminkan kehendak dan aspirasi rakyat dalam setiap undang-undang, setiap kebijakan, dan setiap kegiatan pengawasan terhadap aparatur negara.
Pesan Ketua Majelis Nasional tentang asal usul dan tujuan kekuasaan Majelis Nasional menjadi lebih bermakna karena seluruh negeri menantikan pemilihan anggota Majelis Nasional ke-16 dan perwakilan Dewan Rakyat di semua tingkatan untuk periode 2026-2031. Ini bukan hanya peristiwa politik penting bagi negara, tetapi juga kesempatan bagi rakyat untuk menjalankan hak mereka atas pemerintahan sendiri, memilih perwakilan yang paling layak untuk berpartisipasi dalam organ kekuasaan negara tertinggi dan organ kekuasaan negara lokal.
Seiring negara kita memasuki tahap pembangunan baru dengan tuntutan yang sangat tinggi terhadap kualitas tata kelola nasional, harapan masyarakat terhadap lembaga-lembaga perwakilan juga semakin meningkat dan menjadi lebih ketat. Masyarakat tidak hanya menginginkan kebijakan yang baik, tetapi juga mengharapkan keputusan dari organ kekuasaan negara tertinggi untuk diterjemahkan menjadi perubahan konkret dan nyata dalam kehidupan nyata: mulai dari lingkungan bisnis yang lebih menguntungkan dan layanan publik yang lebih efisien hingga peluang pembangunan yang semakin adil dan terbuka serta kualitas hidup yang lebih tinggi.
Harapan-harapan ini menempatkan tanggung jawab yang lebih besar pada setiap anggota Majelis Nasional ke-16 serta pada Majelis Nasional ke-16 itu sendiri.
Dalam konteks ini, perwakilan Majelis Nasional tidak hanya berpartisipasi dalam diskusi dan pemungutan suara di ruang parlemen, tetapi yang terpenting, mereka harus menjadi perwakilan yang jujur bagi konstituen mereka, mendengarkan suara rakyat dan menerjemahkan isu-isu dari kehidupan nyata ke dalam proses pembuatan kebijakan dan undang-undang. Seorang perwakilan Majelis Nasional hanya benar-benar memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya oleh konstituennya ketika suaranya di ruang parlemen mencerminkan keprihatinan para pemilih, isu-isu praktis yang ada, dan ketika mereka berani membela kepentingan mayoritas rakyat dalam setiap keputusan yang dibuat oleh Majelis Nasional.
Bagi Majelis Nasional, kebutuhan mendesak adalah untuk terus berinovasi secara aktif dalam pemikiran legislatif. Di dunia yang kompleks dan dinamis, hukum tidak boleh hanya menjadi alat manajemen, tetapi harus menjadi landasan bagi pembangunan. Hal ini membutuhkan proses pembuatan kebijakan dan hukum yang didasarkan pada landasan ilmiah , penilaian dampak yang komprehensif, dan konsultasi yang beragam. Visi legislatif harus mengantisipasi dan mengantisipasi realitas. Bersamaan dengan itu, pengawasan tertinggi harus substantif, menekankan akuntabilitas, dan menyelidiki secara menyeluruh penyebab dan solusi terhadap hambatan-hambatan yang dihadapi negara.
"Kekuasaan Majelis Nasional berasal dari rakyat dan harus melayani rakyat" juga berarti terus memperkuat kepercayaan antara pemilih dan Majelis Nasional. Kepercayaan itu tidak dibangun di atas slogan, tetapi di atas efektivitas nyata dari setiap undang-undang, setiap kebijakan, dan setiap kegiatan pengawasan.
Ketika rakyat benar-benar merasa bahwa suara mereka didengar, hak-hak mereka dilindungi, dan buah dari pembangunan benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, barulah Majelis Nasional dapat sepenuhnya memenuhi misi sucinya: menjadi organ kekuasaan negara tertinggi, tetapi yang terpenting, organ kekuasaan rakyat.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/co-quan-quyen-luc-cua-nhan-dan-10408962.html






Komentar (0)