Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Kehidupan dan budaya digital

Umat ​​manusia sedang hidup dalam periode transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya – era digital. Sementara revolusi industri sebelumnya mengubah metode produksi, era digital memiliki dampak mendalam pada setiap aspek kehidupan. Mulai dari cara orang berkomunikasi, belajar, bekerja, dan menghibur diri, hingga cara berpikir, nilai-nilai, dan identitas budaya mereka.

Báo Sài Gòn Giải phóngBáo Sài Gòn Giải phóng15/02/2026

Video musik
Video musik "Surrender" karya penyanyi muda Thoại Nghi dibuat menggunakan teknologi AI.

Pertama dan terpenting, era digital telah secara fundamental mengubah cara orang terhubung dan berkomunikasi. Hanya dengan ponsel pintar atau komputer yang terhubung ke internet, orang dapat mengobrol dan bertukar informasi satu sama lain dari mana saja di dunia . Platform media sosial, email, dan aplikasi panggilan video telah menghapus jarak geografis, sehingga memudahkan orang untuk berbagi emosi, pengetahuan, dan pengalaman hidup. Akibatnya, kehidupan menjadi lebih cepat dan efisien; hubungan sosial telah meluas, tidak lagi terbatas pada desa atau batas negara.

Namun, di samping aspek positifnya, komunikasi digital juga menempatkan orang pada risiko menjadi "lebih jauh satu sama lain dalam kehidupan nyata," karena banyak yang terlalu asyik dengan dunia virtual dan kurang memberikan perhatian langsung serta mendengarkan orang-orang di sekitar mereka.

Di bidang pembelajaran dan pendidikan , era digital telah membuka ruang pengetahuan yang sangat luas. Siswa masa kini tidak hanya belajar melalui buku teks tradisional, tetapi juga mengakses sejumlah besar sumber daya dari internet: kuliah daring, perpustakaan digital, ruang kelas virtual, dan pembelajaran yang dibantu kecerdasan buatan. Pembelajaran tidak lagi terbatas di dalam empat dinding ruang kelas, tetapi dapat berlangsung kapan saja, di mana saja. Hal ini sangat penting dalam mempromosikan pembelajaran mandiri dan pembelajaran sepanjang hayat.

Namun, tanpa keterampilan menyaring informasi, peserta didik dapat dengan mudah jatuh ke dalam keadaan "kelebihan pengetahuan," menerima informasi yang tidak akurat atau tidak terverifikasi, yang menyebabkan pembelajaran dangkal, pembelajaran yang menyimpang, atau ketergantungan berlebihan pada teknologi.

Era digital juga berdampak besar pada tenaga kerja dan lapangan kerja. Teknologi digital , otomatisasi, dan kecerdasan buatan secara bertahap menggantikan banyak pekerjaan manual yang berulang, sekaligus menciptakan profesi baru seperti analisis data, keamanan siber, e-commerce, dan pembuatan konten digital. Berkat teknologi, orang dapat bekerja jarak jauh, bekerja secara fleksibel, dan meningkatkan produktivitas kerja.

Namun, pergeseran ini juga menghadirkan tantangan besar: mereka yang gagal beradaptasi dan memperbarui keterampilan digital mereka berisiko tertinggal, atau bahkan kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu, era digital menuntut setiap orang untuk terus belajar, berinovasi dalam berpikir, dan siap beradaptasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi digital menghadirkan kemudahan dan optimalisasi yang signifikan. Mulai dari belanja online dan pembayaran tanpa uang tunai hingga layanan transportasi daring dan layanan kesehatan jarak jauh, setiap kebutuhan dapat dipenuhi dengan cepat hanya dengan beberapa sentuhan. Hidup menjadi lebih nyaman, menghemat waktu dan tenaga. Namun, kemudahan ini juga menyebabkan gaya hidup kurang aktif dan ketergantungan pada perangkat pintar, yang meningkatkan masalah kesehatan fisik dan mental seperti rabun dekat, obesitas, stres, dan kecanduan internet.

cn3-tieu-diem-6662-1217.jpg.jpg
Lagu "Say Mot Doi Vi Em" (Aku Akan Menjalani Hidupku Untukmu) dibawakan oleh seorang artis AI.

Dampak era digital terhadap budaya dan nilai-nilai tidak dapat diabaikan. Lingkungan digital memfasilitasi penyebaran nilai-nilai budaya secara luas, memungkinkan orang untuk mengakses budaya global terbaik. Namun, arus masuk yang cepat ini juga dapat melemahkan identitas tradisional jika kurangnya kesadaran dalam melestarikannya. Lebih jauh lagi, fenomena negatif seperti perundungan siber, berita palsu, bahasa yang menyimpang, gaya hidup pragmatis, dan pengejaran "like" secara signifikan memengaruhi kesadaran dan karakter, terutama di kalangan anak muda. Hal ini menuntut setiap individu untuk memiliki karakter yang kuat, etika digital, dan tanggung jawab ketika berpartisipasi di dunia maya.

Dihadapkan dengan peluang dan tantangan ini, masyarakat di era digital perlu hidup secara proaktif dan selektif. Teknologi harus dilihat sebagai alat untuk melayani umat manusia, bukan sebagai faktor yang sepenuhnya mendominasi kehidupan. Setiap orang perlu mengembangkan keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, kemampuan manajemen waktu, dan keseimbangan antara dunia nyata dan virtual. Pada saat yang sama, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk membimbing dan mendidik masyarakat menuju gaya hidup yang sehat dan manusiawi di lingkungan digital, membantu mereka berkembang secara komprehensif baik dalam intelektual maupun karakter.

Singkatnya, kehidupan di era digital adalah permadani beraneka ragam dengan campuran warna terang dan gelap. Teknologi digital membawa kemajuan luar biasa, meningkatkan kualitas hidup dan membuka masa depan yang menjanjikan. Namun, untuk menghindari tersapu arus teknologi, orang perlu menjunjung tinggi nilai-nilai inti, menguasai pengetahuan, dan menggunakan teknologi secara cerdas dan manusiawi. Hanya dengan demikian era digital akan benar-benar menjadi kekuatan pendorong bagi pembangunan berkelanjutan individu dan masyarakat.

Jika tulisan, percetakan, fotografi, dan film pernah mengantarkan era baru kreativitas, era digital saat ini, dengan internet, kecerdasan buatan, media sosial, dan teknologi multimedia, secara fundamental mengubah cara orang menciptakan, menerima, dan menyebarkan nilai-nilai budaya dan artistik. Budaya dan seni tidak lagi terbatas pada ruang fisik atau kerangka kerja tradisional, tetapi secara dinamis berkembang dalam ruang digital yang luas, multidimensi, dan penuh tantangan.

Dengan dukungan teknologi digital, seniman tidak lagi bergantung pada pena, kertas, kanvas, atau panggung tradisional. Hanya dengan komputer atau ponsel pintar, para kreator dapat melukis, menggubah musik, membuat film, mendesain busana, atau menciptakan karya seni multimedia yang kompleks. Teknologi kecerdasan buatan juga secara langsung berpartisipasi dalam proses kreatif, menyarankan melodi, skema warna, dan komposisi, sehingga mengubah persepsi tradisional tentang subjek kreatif dalam seni.

Selain mengubah cara seni diciptakan, era digital telah merevolusi cara seni dan budaya dilestarikan dan disebarluaskan. Internet dan platform digital telah meruntuhkan batasan spasial, membawa karya seni ke khalayak global dalam sekejap. Sebuah lagu rakyat, lukisan tradisional, tarian kuno, atau festival budaya lokal dapat didigitalisasi, disimpan, dan dipromosikan secara luas di platform daring.

Akibatnya, nilai-nilai budaya yang dulunya berisiko menghilang kini "dihidupkan kembali" dalam kehidupan kontemporer, menjangkau generasi muda dan komunitas internasional. Oleh karena itu, budaya dan seni bukan lagi "milik" satu komunitas atau bangsa saja, melainkan menjadi aliran pertukaran dan dialog yang berkelanjutan antar budaya.

Sumber: https://www.sggp.org.vn/cuoc-life-and-digital-culture-post837428.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Melepaskan

Melepaskan

Kejayaan bagi Vietnam!

Kejayaan bagi Vietnam!

Guru sekolah saya

Guru sekolah saya