| Rumah pemakaman tradisional masyarakat Co Tu adalah sebuah karya seni yang secara harmonis menggabungkan arsitektur, patung, dan spiritualitas. |
Melestarikan semangat nasional melalui setiap detail.
Terlahir dalam keluarga dengan tradisi panjang pembuatan batu nisan, Bapak Pham Xuan Tin mulai mempelajari kerajinan tersebut pada usia 11 tahun. Ia sering menemani ayahnya ke desa-desa terpencil, dimulai dengan tugas-tugas sederhana seperti mengukir pola yang telah digambar ayahnya.
Ketika ia mencapai tingkat keahlian yang tinggi, ia mulai memahat patung-patung bundar untuk diletakkan para tamu di sekitar makam. Dalam ingatannya, ia tidak melupakan patung-patung pertamanya, seperti patung seseorang yang membawa keranjang, seorang penari, atau seseorang yang memainkan gong... "Ayah saya sangat bangga ketika melihat karya-karya pertama ini," kenangnya. Ia menjadi pematung terkenal di seluruh desa.
Suatu hari di awal Desember, di balai desa di pusat distrik Nam Dong, sekelompok pengrajin Co Tu dengan tekun mengukir dan melukis balok kayu menjadi karya seni yang sarat dengan budaya tradisional. Di antara mereka, Bapak Pham Xuan Tin dikenal sebagai "maestro besar." Di usia 70 tahun, beliau masih mempertahankan semangat dan rasa tanggung jawab terhadap kerajinan yang diwariskan dari leluhurnya. "Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan pengetahuan mendalam tentang budaya, jadi saya selalu memeriksa setiap pola dan setiap detail dengan cermat," ujar Bapak Tin.
Makam tradisional masyarakat Co Tu adalah sebuah karya seni yang secara harmonis memadukan arsitektur, pahatan, dan spiritualitas. Mulai dari pilar dan atap hingga motif-motifnya, semuanya mengandung makna mendalam, mencerminkan pandangan dunia masyarakat Co Tu. Di antara semuanya, a chua (atap makam) dianggap sebagai "jiwa" dari seluruh struktur. A chua sering diukir dengan kepala kerbau atau kambing, melambangkan hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal, serta penghormatan kepada leluhur.
Pada hari kedatangan kami, Bapak Tin sedang menyesuaikan struktur makam leluhur. Beliau menghapus beberapa detail yang kurang tepat yang dibuat oleh para muridnya. Baginya, membangun makam bukan hanya seni tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan agama. Bahkan kesalahan kecil pun tidak dapat diterima. Oleh karena itu, beliau selalu menginstruksikan para muridnya untuk bekerja dengan hati-hati, karena ini bukan hanya struktur untuk orang yang meninggal tetapi juga warisan spiritual.
Selain a chua (sejenis peti mati kayu), peti mati satu bagian ini juga menunjukkan keterampilan memahat dan ketelitian para pengrajin. Peti mati ini terbuat dari batang pohon besar, dibelah dua dan dilubangi untuk menampung jenazah. Tutupnya diukir dengan pola yang mirip dengan a chua, menciptakan harmoni antara komponen-komponen tersebut. "Motif pada peti mati dan makam semuanya mencerminkan kepercayaan masyarakat Co Tu tentang alam semesta, kehidupan, dan kematian. Dari rasi bintang dan pohon hingga hewan seperti cicak dan ayam jantan, semuanya membawa makna yang mendalam," jelas Bapak Tin lebih lanjut.
Dengan pengalaman selama beberapa dekade, Bapak Tin telah beralih dari penggunaan kayu berharga seperti kayu besi dan kayu jati, yang semakin langka, ke bahan alternatif seperti semen. Namun, beliau tetap mempertahankan pola tradisional untuk melestarikan nilai-nilai budaya.
Melatih generasi penerus untuk melestarikan kerajinan ini.
Sejak tahun 2020, Bapak Pham Xuan Tin telah lebih banyak meluangkan waktu untuk mengajarkan keahliannya kepada generasi muda. Di komune Thuong Lo, beliau membuka kelas pelatihan untuk 20 siswa, termasuk anak muda dan pengrajin berpengalaman. “Membangun makam dan memahat patung mudah dipelajari, tetapi bakat dibutuhkan untuk mencapai keindahan,” ujarnya. Banyak muridnya telah memenangkan penghargaan dalam berbagai kompetisi, seperti Bapak Tran Van A Hinh, yang memenangkan Penghargaan Dorongan di Lokakarya Patung Tradisional pada tahun 2023.
Selain mengajar, ia juga terlibat langsung dalam proyek pelestarian budaya lokal. Model makam yang ia dan murid-muridnya buat tidak hanya praktis tetapi juga merupakan sumber daya yang berharga, membantu generasi muda memahami dan menghargai warisan nasional mereka. Dedikasi Pham Xuan Tin tidak hanya menjaga agar kerajinan pahat makam tetap hidup tetapi juga menyebarkan semangat kebanggaan budaya nasional. Karya-karya beliau dan murid-muridnya adalah karya seni sekaligus simbol cinta dan penghormatan kepada leluhur, komunitas, dan tanah air.
Sumber: https://baothuathienhue.vn/van-hoa-nghe-thuat/dai-su-phu-nghe-thuat-nha-mo-149570.html






Komentar (0)