- Kota Ho Chi Minh baru saja diguyur hujan pertama musim ini, dan beberapa lubang saluran air di lingkungan sekitar langsung tersumbat oleh sampah. Pada suatu pagi di akhir pekan, Paman Tư Hẻm dengan rajin menyapu sampah agar saluran air bersih saat hujan turun, sementara tetangganya, Bapak Bảy, dengan santai menyapu halaman rumahnya, lalu dengan seenaknya membuang tumpukan daun kering dan kantong plastik ke saluran air di depan pintunya.
Melihat Paman Tư mengerutkan kening, Paman Bảy menjelaskan, "Rumah yang bersih adalah tanda peradaban, Paman! Buang saja sampah ke saluran pembuangan dan semuanya akan hanyut!" Paman Tư menggelengkan kepalanya, "Rumahmu bersih, tetapi saluran pembuangannya benar-benar tersumbat. Jika hujan deras sore ini, air akan kembali membanjiri ruang tamu. Di mana letak peradabannya? Kau membangun rumah yang luas, berpakaian rapi, tetapi kau menumpuk sampah seperti itu—bagaimana itu bisa diterima?"
- Kisah Bapak Bay bukanlah kisah yang unik. Banyak orang keluar rumah dengan pakaian rapi, mobil mengkilap, tetapi dengan santai membuang gelas plastik di jalan dan kantong plastik ke dalam lubang selokan untuk menghindari kesulitan mencari tempat sampah. Pola pikir "menjaga kebersihan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain" secara langsung merusak upaya tak terhitung untuk membersihkan dan melancarkan sistem drainase.
- Sebuah kota yang beradab tidak hanya diukur dari rumah-rumah modern atau halaman pribadi yang rapi, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan infrastruktur publik. Menjaga saluran pembuangan tetap bersih sebelum musim hujan membantu mengurangi banjir dan menunjukkan rasa tanggung jawab warga.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/dung-bat-ho-ga-nhin-tho-post852007.html






Komentar (0)