1. Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana rasa stabilitas itu berasal? Bagi saya, saya menemukan stabilitas itu di pundak ayah saya, seperti pohon purba yang berakar dalam di bumi, berdiri tegak dan melindungi saya melalui badai yang tak terhitung jumlahnya. Ayah saya, seorang pria yang pendiam dengan tangan kasar, cukup kuat untuk menopang seluruh hidup saya. Saya tumbuh dewasa, tetapi matanya dipenuhi dengan pikiran, seperti urat sedimen batuan purba, menceritakan kekhawatiran yang tak terhitung jumlahnya yang tidak pernah ia keluhkan. Dalam ingatan itu, saya melihat diri saya sebagai perahu kecil, hanyut di lautan luas, dan mercusuar yang membimbing saya adalah bayangan ayah saya, gigih dan tak pernah pudar. Saya ingat sore-sore senja itu, sinar matahari terakhir yang masih menempel di punggung ayah saya yang membungkuk saat ia duduk di beranda, dengan teliti memperbaiki sepeda yang baru saja saya rusak saat bermain-main. Noda minyak itu tidak hanya menempel di tangan ayah saya tetapi juga meninggalkan bekas yang dalam di pikiran muda saya setiap kali saya melakukan kesalahan.
Aku tak akan pernah melupakan pagi itu, ketika aku berusia 10 tahun, mengikuti ayahku ke ladang untuk mengairi lahan selama musim kemarau. Kabut pagi menyelimuti ladang, angin sejuk berdesir melalui batang padi yang kering, membawa aroma tanah yang baru dibajak dan wangi samar tanah aluvial. Aku berjuang dengan ember, tanganku masih lemah, tak mampu mengambil air dengan benar. Kemudian ember itu terlepas dari genggamanku dan jatuh ke parit. Aku membeku, kekecewaan melanda diriku saat melihatnya tenggelam. Mendengar suara itu, ayahku bergegas menghampiri. Bayangannya membentang panjang di tanah, bergerak begitu cepat sehingga aku merasa dia seperti embusan angin. Dia berlutut dan mencelupkan tangannya ke dalam air dingin, mencari ember itu. Tangannya kapalan, tetapi pada saat itu, aku merasa tangannya sangat kuat. Dia mendekat ke telingaku, berbisik lembut, suaranya dalam, hangat, dan mantap, lebih keras dari guntur: "Tenanglah, Nak. Semuanya akan baik-baik saja." Dia mengambil ember itu dan meletakkannya di tanganku, matanya bersinar dengan harapan yang tak terbatas. Ayahku tidak memarahiku; dia hanya dengan tenang memegang tanganku dan membimbingku melalui setiap langkah mengambil air. Pagi itu, jalan dari ladang ke rumah terasa lebih pendek.
2. Aku masih teringat sosok ayahku yang duduk termenung di samping teh paginya, matanya menatap jauh ke halaman yang kosong. Garis-garis di dahinya, bukti dari malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya, dari saat-saat ia terjaga mengkhawatirkan masa depan kami. Setiap kali aku tersandung, ia tidak terburu-buru membantuku berdiri, tetapi membiarkanku berdiri sendiri, matanya mengawasi, bersinar dengan keyakinan bahwa aku bisa melakukannya. Kemudian ia jatuh sakit. Saat itu sore hari di awal November, gerimis terus-menerus diikuti oleh angin utara yang dingin. Ia baru saja kembali dari pabrik, mantelnya yang pudar tidak cukup hangat, seluruh tubuhnya gemetar. Malam itu, ia batuk hebat, suaranya serak, matanya lelah tetapi masih berusaha mempertahankan sikap tenang. Ibuku sedang pergi, dan aku serta saudara-saudaraku masih terlalu muda untuk sepenuhnya memahami kelelahan ayah kami. Aku duduk di samping tempat tidurnya, tangan kecilku menyentuh lengannya, merasakan pembuluh darahnya menonjol.
Aku sangat khawatir, tetapi aku tidak berani menangis. Tiba-tiba, ayahku perlahan membuka matanya. Matanya cekung dan lelah, tetapi ia masih berusaha menatapku. Ia mengulurkan tangan dan dengan gemetar mengelus rambutku. Senyum tipis muncul di bibirnya, sekuat lilin yang tertiup angin. "Jangan khawatir, Nak. Aku baik-baik saja..." Suaranya lemah dan terbata-bata, tetapi itu menghilangkan rasa takut yang menyelimutiku. Keesokan paginya, meskipun masih lelah, ayahku berusaha bangun. Aku melihatnya diam-diam pergi ke dapur untuk memasak semangkuk bubur jahe panas, lalu sibuk menyiapkan barang-barangnya untuk bekerja. Kakinya masih gemetar, tetapi setiap langkahnya mantap. Ia tidak ingin kami melihatnya lemah, tidak ingin pekerjaannya terlewatkan. Pada saat itu, aku mengerti bahwa kasih sayang seorang ayah bukan hanya mata air yang lembut, tetapi juga batu karang yang kokoh, abadi, tak tergoyahkan, dan sunyi, bahkan ketika tubuhnya sedang berjuang melawan penyakit.
3. Sekarang setelah aku dewasa dan menghadapi hidup sendiri, aku semakin mengerti. Setiap keputusan yang kubuat, setiap kesuksesan yang kuraih, selalu ada kehadiran ayahku di baliknya, diam-diam mendukung dan membimbingku. Dia bukan lampu yang menyilaukan yang menerangi jalanku; dia adalah gunung yang kokoh dan abadi, cukup untuk kusandari saat aku lelah, cukup untuk menemukan dukungan saat aku tersesat. Dulu, sifat impulsifku seperti luka dalam pada harapan ayahku, luka tak terlihat yang terasa lebih berat daripada teguran apa pun. Itu adalah tahun ketika aku gagal ujian masuk universitas, kejutan pertama dalam hidupku yang membuatku patah semangat dan ingin menyerah. Malam itu, rumah sunyi. Aku duduk meringkuk di kamarku, menunggu teguran atau tatapan kecewa. Jantungku berdebar kencang seolah akan meledak.
Kemudian pintu kamar berderit terbuka. Ayah masuk, tanpa suara. Aku mendongak dan melihat kesedihan di matanya, tetapi tidak ada air mata yang mengalir. Dia tidak memarahi atau menawarkan penghiburan kosong; dia hanya duduk di sampingku. Dia mengulurkan tangan dan dengan lembut meletakkan tangannya di bahuku. Tangannya kasar, tetapi pada saat itu, aku merasakannya mengirimkan energi tak terlihat kepadaku. Kemudian dia berbicara, suaranya dalam, hangat, dan lambat: "Nak, satu pintu tertutup, tetapi banyak pintu lain terbuka. Yang penting adalah apakah kau berani berdiri dan melangkah maju." Aku membenamkan wajahku di tangannya, air mata mengalir dan membasahi bajunya. Aku terisak, seolah ingin melepaskan semua kelemahan dan keraguan diriku. Ayah tidak mengatakan apa pun lagi, hanya diam-diam mengencangkan cengkeramannya di bahuku, setiap remasan mantap dan kuat, seolah memberi kekuatan kepada seorang anak yang sedang berjuang. Keesokan paginya, ketika aku bangun, Ayah sudah pergi bekerja. Di meja saya ada sebuah buku tentang orang-orang yang gagal tetapi tidak menyerah, dan sebuah catatan kecil: "Ayah percaya kamu bisa melakukannya. Bangkit dan teruslah berjuang!" Pada saat itu, saya mengerti bahwa keheningan ayah saya lebih berharga daripada seribu kata nasihat. Genggaman kuatnya di bahu saya, tatapannya yang tak tergoyahkan, dan catatan kecil itu—semuanya adalah bukti kepercayaannya yang tanpa syarat, sebuah dorongan yang tidak membutuhkan gembar-gembor.
Waktu adalah aliran tanpa akhir, tanpa henti menguras kekuatan ayahku, mengukir kerutan di wajahnya, dan membuat rambutnya beruban hari demi hari. Tetapi cinta seorang ayah abadi, seperti bulan purnama yang menggantung di langit, menerangi jiwa setiap anak.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali Anda mengunjungi ayah Anda, sejak terakhir kali Anda duduk di sampingnya dan mendengarkan kisah hidupnya? Sejak terakhir kali Anda menggenggam tangannya, merasakan kapalan di tangannya dan kehangatan pengorbanannya? Pulanglah, bersama ayah Anda – dan rasakan perasaan paling tenang dan damai di dunia, sebelum waktu menghapus kenangan-kenangan berharga itu. Karena kita seringkali baru menyadari nilai sebenarnya dari bahu untuk bersandar, tatapan penuh kepercayaan, ketika semuanya telah menjadi kenangan. Dan kemudian, bahkan air mata yang paling pahit pun tak dapat mengisi kekosongan itu...
Konten: Luong Dinh Khoa
Foto: Sumber internet
Grafis: Mai Huyen
Sumber: https://baothanhhoa.vn/e-magazine-lang-le-mot-bo-vai-259826.htm






Komentar (0)