Di banyak daerah pedesaan, pada hari ketiga Tahun Baru Imlek, banyak keluarga masih mempertahankan kebiasaan "Festival Kerbau atau Festival Hewan" - sebagai cara bagi para petani untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada hewan-hewan yang terkait erat dengan produksi dan kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Tradisi memberikan "uang keberuntungan" kepada hewan peliharaan di awal tahun. |
Tradisi Festival Kerbau
Dalam benak para petani, kerbau dan lembu bukan hanya ternak tetapi juga "landasan mata pencaharian mereka." Dahulu, hewan-hewan ini merupakan hewan penarik utama yang digunakan untuk membajak, mengolah tanah, dan mengangkut beras, jerami, dan hasil pertanian. Selain sebagai alat tenaga kerja, kawanan ternak juga merupakan aset penting yang terakumulasi bagi setiap keluarga.
Pada pagi hari ketiga Tết (Tahun Baru Imlek), setelah berhari-hari berkumpul bersama keluarga, banyak peternak bangun pagi-pagi untuk membersihkan kandang mereka, mengganti jerami, memandikan kerbau dan sapi mereka, dan memberi mereka rumput segar, dedak, atau makanan yang lebih enak dari biasanya agar hewan-hewan tersebut dapat "merayakan Tết." Beberapa keluarga juga meletakkan persembahan di depan kandang, menyalakan dupa untuk berdoa agar ternak mereka sehat, tumbuh dengan baik, terhindar dari penyakit, dan sukses dalam bertani.
Ibu Ly Thi Nhien (Komune Long Huu) mengatakan: Dalam beberapa tahun terakhir, karena kesulitan dalam penggembalaan kerbau, masyarakat secara bertahap beralih ke beternak sapi dalam kandang. Peternakan sapi menghadapi banyak tantangan seperti wabah penyakit, biaya pakan yang tinggi, dan fluktuasi harga. Melestarikan "Festival Kerbau" memiliki makna spiritual dan menciptakan harapan serta motivasi bagi masyarakat memasuki tahun baru. Saat ini, keluarganya memelihara 4 ekor sapi dan 10 ekor babi indukan, menghasilkan keuntungan puluhan juta dong setiap tahunnya, yang berkontribusi untuk meningkatkan taraf hidup keluarga.
Menurut tradisi rakyat, setelah berdoa, pemilik menempelkan uang kertas (persembahan nazar) di dahi dan tanduk lembu sebagai ritual "memberikan uang keberuntungan" di awal tahun. Tindakan ini menandakan harapan akan berkah, menangkal nasib buruk, mengharapkan kesehatan hewan, reproduksi yang baik, dan pertanian yang sukses dan makmur.
Tradisi "Festival Kerbau" juga merupakan kesempatan untuk mendidik anak-anak. Orang dewasa menceritakan kepada anak-anak kisah "kerbau berjalan duluan, bajak mengikuti di belakang," mengajarkan mereka untuk menghargai kerja keras. Le Dinh Thu Cat (dari komune Don Chau) menceritakan bahwa setiap tahun dia mengikuti kakeknya ke lumbung pada pagi hari ketiga Tet, menikmati "uang keberuntungan" yang diberikan kakeknya kepada sapi-sapi dan mendengarkan cerita tentang pertanian.
Meskipun mesin telah menggantikan tenaga kerja manual, peternakan tetap menjadi mata pencaharian penting bagi banyak rumah tangga. Kawanan kerbau dan sapi tidak hanya memberikan pendapatan tetapi juga berfungsi sebagai dana cadangan di masa-masa sulit.
Tunjukkan apresiasi terhadap hewan peliharaan.
"Festival Kerbau" tidak memiliki bendera atau bunga, tidak ada perayaan; hanya sebuah kandang yang bersih, seikat rumput segar, seember penuh air, dan tangan pemilik yang dengan lembut membelai hewan itu setelah setahun bekerja keras. Kesederhanaan ini menciptakan keindahan pedesaan yang unik.
Di komune Hiep My, Ibu Le Thi Chin (dusun Giong Dai) saat ini memelihara lebih dari 10 ekor sapi. Meskipun keluarganya tidak lagi memelihara kerbau seperti dulu, ia tetap mempertahankan tradisi tersebut setiap tahun. Menurut Ibu Chin, kebiasaan ini diwariskan dari orang tuanya sejak zaman ketika peternakan kerbau masih populer. Pada pagi hari tanggal 3 bulan lunar, ia membersihkan kandang, mengganti jerami, dan memberi makan sapi-sapinya rumput segar "untuk keberuntungan," dengan harapan ternaknya akan sehat, tumbuh cepat, dan mendapatkan harga yang baik.
![]() |
| Ibu Pham Hong Thu (Dusun Lac Hoa, Komune Ngu Lac) merawat kawanan sapinya setelah melakukan ritual "Festival Kerbau" di awal tahun. |
Setelah berkecimpung dalam peternakan selama 10 tahun terakhir, Ibu Pham Hong Thu (Dusun Lac Hoa, Komune Ngu Lac) saat ini memelihara 6 ekor sapi. Setiap tahun, keluarganya menyiapkan jerami kering, dedak, dan air bersih untuk ternak mereka pada pagi hari tanggal 3 bulan lunar. Menurut Ibu Thu, ini adalah kesempatan untuk mengingatkan para peternak agar lebih memperhatikan hewan ternak mereka dan berdoa agar usaha peternakan berjalan lancar.
Di tengah suasana musim semi yang semarak, gambaran para petani yang dengan penuh kasih sayang membelai dan merawat kawanan ternak mereka menjadi aspek pedesaan yang sederhana namun indah. "Festival Kerbau" bukan hanya sebuah kebiasaan, tetapi juga mewujudkan kepercayaan akan tahun baru yang makmur dan sukses, di mana orang-orang hidup harmonis dengan hewan-hewan mereka.
Teks dan foto: QUAN NGOC
Sumber: https://baovinhlong.com.vn/tin-moi/202602/giu-tuc-tet-ngay-xuan-95f255e/









Komentar (0)