Sejarah tembikar Huong Canh tercatat ratusan tahun yang lalu. Para tetua desa mengatakan bahwa tembikar muncul ketika peralatan pertanian dan wadah kayu serta tembaga tidak lagi memenuhi persyaratan produksi dan kehidupan. Tanah Huong Canh memiliki daya rekat yang tinggi, "tua tulang", dan tahan panas dengan baik, sehingga produk yang dibakar mencapai kekencangan khas yang hanya dapat ditandingi oleh sedikit tempat.

Sudut Huong Canh (distrik Binh Xuyen, provinsi lama Vinh Phuc ) sekarang menjadi komune Binh Nguyen, provinsi Phu Tho.
Berkat itu, tempayan, panci, dan wajan Huong Canh... telah menjadi barang yang tak asing lagi bagi banyak keluarga di Delta Utara. Banyak penduduk desa masih ingat gambar tempayan gerabah hitam mengilap yang diletakkan di sudut halaman, menampung air hujan yang sejuk di musim panas dan menjaganya tetap hangat di musim dingin.

Vas keramik Huong Canh dibuat dengan semangat artistik yang mendalam.
Keistimewaan tembikar Huong Canh terletak pada keasliannya. Tanpa glasir, warna produknya merupakan warna alami tanah setelah dibakar. Tembikar ini memiliki permukaan halus seperti kulit, berwarna hitam atau cokelat tua, terkadang memantulkan jejak api tungku pembakaran—sebuah tanda unik yang hanya dapat diukir oleh api.

Tanah diuleni hingga berbentuk oleh tangan terampil para perajin di Huong Canh.
Dalam tungku tradisional, memasukkan produk ke dalam tungku seperti "uji coba". Perajin harus memahami setiap butiran tanah, kelembapan, kekuatan angin, dan tahu kapan harus menambahkan kayu bakar dan kapan harus "menutup" tungku. Jika ritmenya tidak tepat, produk akan retak atau "mati"; tetapi jika temponya tepat, keramik akan kokoh, dengan nada yang beresonansi saat diketuk ringan, sekuat tanah itu sendiri.

Produk sempurna dari tanah tradisional di Huong Canh.
Generasi perajin Huong Canh saat ini masih melestarikan teknik tradisional. Roda ini tidak digerakkan oleh listrik, melainkan dengan tenaga kaki. Perajin duduk membungkuk, tangannya mengusap tanah liat secara melingkar, tatapannya saksama mengikuti jiwa produk tersebut. Tanah liat diremas dengan air hujan, "diletakkan" dalam keranjang bambu atau kain tebal hingga mencapai kekentalan yang tepat, lalu diletakkan di atas roda.

Pelestarian metode pembuatan tembikar tradisional masih dipertahankan dari generasi ke generasi di Huong Canh.
Setiap balok tanah liat kecil, di bawah tangan sang pengrajin, secara bertahap menjadi badan guci, leher vas, dan mulut guci... Seorang pengrajin berkata: "Tembikar Huong Canh tidak dibuat oleh mata atau tangan, melainkan oleh emosi. Jika hati tidak tenang, tanah liat akan memberontak."

Bunga teratai ditata secara kreatif di setiap produk keramik Huong Canh.
Tak hanya sebagai barang rumah tangga, keramik Huong Canh telah merambah ranah budaya dan seni kontemporer. Banyak kolektor dan arsitek menggunakan keramik untuk dekorasi interior, pot bonsai, dan patung. Beberapa produk membutuhkan suhu pembakaran yang sangat tinggi, yang menyebabkan tanah berubah strukturnya, menciptakan warna hitam misterius atau cokelat hangus seperti basal. Kekasaran inilah yang menjadi daya tariknya, karena setiap bekas pembakaran, setiap retakan kecil, merupakan "tanda waktu", yang tak dapat "ditiru" oleh rantai industri.

Gambar-gambar yang sangat biasa juga dimasukkan oleh para pengrajin ke dalam produk keramik Huong Canh.
Namun, Huong Canh juga mengalami banyak pasang surut. Ada masa ketika desa itu sunyi karena produk-produk tradisional tidak banyak digunakan. Persaingan dengan plastik, baja tahan karat, atau keramik industri menyebabkan banyak rumah tangga meninggalkan profesi mereka. Namun, dari kesulitan-kesulitan itu, tangan-tangan muda kembali. Mereka membuka lokakarya kreatif, menggabungkan desain modern dengan teknik tradisional, membawa keramik Huong Canh ke pameran-pameran domestik dan internasional. Produk-produk desa ini tidak lagi hanya berupa guci, tetapi juga mangkuk, teko, lampu, dan barang-barang dekoratif dengan napas baru.

Seniman tembikar Nguyen Hong Quang adalah salah satu dari sedikit anak muda yang menggemari tembikar tradisional di kampung halamannya Huong Canh.
Kini, Desa Huong Canh masih mempertahankan gaya hidup pedesaan. Jalan desa tertutup debu tanah liat pucat yang dipanggang, suara dentingan meja putar berpadu dengan suara kayu bakar yang berderak di tungku pembakaran. Di bawah atap-atap rendah, para perajin berambut perak hidup perlahan: menguleni tanah liat di pagi hari, membentuknya di siang hari, memeriksa tungku pembakaran di sore hari, dan membersihkan debu tembikar di malam hari. Setiap produk yang keluar dari tungku pembakaran adalah sebuah kisah — bukan kisah seorang individu, melainkan kisah sebuah komunitas yang terikat dengan kerajinan tersebut. Dari generasi ke generasi, keramik Huong Canh masih diam-diam menandai perjalanan manusia bersama bumi.

Orang Huong Canh selalu memiliki kecintaan yang kuat terhadap tanah kelahiran dan dibesarkan mereka.
Meninggalkan Huong Canh, saya masih ingat warna cokelat tua tanahnya, aroma kayu bakar dari tungku tembikar, dan bunyi tumpul ketika jari-jari saya menyentuh produk dengan lembut. Keindahannya tidak berisik, tidak mencolok, tetapi cukup untuk membangkitkan kenangan akan nilai-nilai abadi yang tak terhapuskan oleh waktu. Huong Canh tak hanya melestarikan kerajinannya, tetapi juga melestarikan semangat tanahnya: sabar, kuat, sederhana namun mendalam. Dan dari keheningan itulah desa kecil di dataran tengah terus memupuk kebanggaannya, mengirimkan napas tanah air ke dalam setiap tembikar.

Tembikar Huong Canh bukan lagi barang biasa, tetapi membawa nafas tanah air.
Kim Lien
Sumber: https://baophutho.vn/huong-canh-hoi-tho-cua-dat-243204.htm






Komentar (0)