Setiap tahun, ketika air banjir meluap dari tepian sungai, mengubah ladang-ladang yang biasa kita lihat menjadi putih, Delta Mekong seolah mengenakan jubah baru yang lembut, luas, dan penuh warna. Di kampung halaman saya, kami menyebutnya musim banjir.
Air keruh dan berlumpur di musim banjir tidak hanya membawa udang dan ikan, tetapi juga membangkitkan tunas hijau kecil yang telah tertidur di bawah lumpur selama bertahun-tahun. Di antara mereka adalah kucai—sayuran liar yang tampak biasa saja, namun menyimpan begitu banyak keakraban di dalamnya. Bagi saya, kucai bukan hanya sayuran, tetapi bagian dari kenangan saya, sepotong masa kecil saya yang berlumpur, damai dan manis, seperti musim banjir di kampung halaman saya.
![]() |
Para petani di Ca Mau sedang memanen kucai air. |
Kucai air tidak secerah Sesbania grandiflora, dan tidak seumum bunga teratai. Mereka tumbuh dengan tenang di sawah yang tergenang air, daunnya yang panjang dan ramping berwarna hijau zamrud yang indah. Tidak ada yang menanamnya, dan mereka juga tidak perlu membudidayakannya; begitu air tiba, rumpun kucai muncul dengan sendirinya, lembut dan halus seperti sutra. Dalam kesederhanaan itulah terletak inti dari bumi dan langit, seolah-olah alam dengan murah hati menganugerahkan sentuhan kelembutan dan kasih sayang kepada manusia.
Dahulu, kampung halaman saya miskin. Setiap musim banjir membawa lebih banyak kekhawatiran. Tetapi justru di masa-masa kekurangan itulah kami menemukan kepuasan dengan cara kami sendiri yang unik—kepuasan dalam kehangatan semangat komunitas, dalam makanan sederhana namun menenangkan. Saya masih ingat ayah saya pergi menebar jala saat fajar, dan ibu saya membawa keranjang bambu di sepanjang tepi sawah di belakang rumah, dengan teliti memetik daun bawang hijau yang lembut. Ketika kembali, ia sering duduk di beranda, dengan hati-hati memetik setiap helai daun bawang, menceritakan kisah-kisah masa lalu. Di tengah desiran angin di kebun, gemericik air di parit, dan cerita ibu saya yang perlahan, ada sesuatu yang begitu damai yang selalu saya rindukan untuk merasakannya kembali di kemudian hari di kota.
Sama seperti daun kucai yang diam-diam tumbuh dari tanah setiap musim hujan, tanpa perlu ditanam, sayuran ini juga tidak memerlukan persiapan yang rumit. Cukup direbus atau dimakan mentah, dicelupkan ke dalam saus ikan fermentasi, ikan rebus, atau pasta ikan fermentasi... sudah cukup untuk menciptakan rasa yang harum, manis, dan menyehatkan. Aroma air yang sedikit berbau tanah dipadukan dengan rasa menyegarkan di lidah memberikan hidangan sederhana namun tak terlupakan ini. Ayahku dulu berkata bahwa makan kucai seperti mencicipi esensi ladang, esensi pergantian musim. Bagiku, makan kucai membangkitkan berbagai kenangan—masa kecil tanpa alas kaki mengarungi sawah, berlumuran lumpur, dan sore hari yang dihabiskan di dekat kompor menunggu ibuku merebus sayuran setelah seharian bepergian di sepanjang jalur air.
![]() |
| Para petani di Ca Mau sedang memanen kucai air. |
Hingga kini, sayuran ini masih muncul diam-diam setiap kali air banjir kembali, seperti hadiah akrab dari alam bagi penduduk pedesaan di tepi sungai. Namun, mungkin hanya mereka yang telah mengalami kesulitan mencari nafkah di ladang yang tergenang air, yang tumbuh dalam kemiskinan namun dibalut kehangatan tanah kelahiran mereka, yang dapat sepenuhnya menghargai cita rasa daun bawang air.
Di tengah banyaknya hidangan modern dan rumit saat ini, daun bawang air jarang disebutkan. Mereka tidak muncul di meja jamuan mewah, juga tidak tercantum dalam menu restoran. Namun, bagi saya, setiap tangkai daun bawang yang lembut membawa napas sungai, manisnya tanah aluvial, dan kasih sayang yang terpendam dalam setiap hidangan sederhana namun hangat dan penuh cinta.
Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/van-hoc-nghe-thuat/huong-vi-dong-que-mien-tay-1018899








Komentar (0)