Media pemerintah mengutip pernyataan Melikov yang mengatakan bahwa 22 orang tewas dalam serangan pada tanggal 23 Juni, yang menargetkan gereja dan sinagoge.
Para pakar keamanan Barat mengatakan serangan-serangan tersebut merupakan bukti bahwa Rusia menghadapi masalah yang semakin besar akibat kekerasan militan Islamis domestik. Namun, Melikov bersikeras bahwa ancaman tersebut berasal dari luar.
"Faktor ancaman utama yang memengaruhi situasi di republik ini tetaplah meningkatnya aktivitas organisasi teroris internasional. Sekeras apa pun mereka mencoba meyakinkan kita bahwa peristiwa di Dagestan terjadi di dalam negeri, saya tidak akan pernah mempercayainya," ujarnya.
Anggota pasukan keamanan menegakkan hukum setelah beberapa serangan di Makhachkala dan Derbent, 24 Juni. Foto: Reuters
"Dalam hal ini, tidak diperlukan kehadiran instruktur Barat atau asing lainnya di wilayah Dagestan, karena saat ini dinas khusus dan para pemimpin organisasi teroris juga menggunakan internet, jejaring sosial, dan dapat memengaruhi proses pelatihan maupun ideologi mereka yang mampu melakukan kejahatan ini," tambahnya.
Serangan di Dagestan terjadi tiga bulan setelah orang-orang bersenjata menyerbu sebuah gedung konser dekat Moskow, menggunakan senjata otomatis dan membakarnya, menewaskan 145 orang dalam pembantaian yang diklaim oleh kelompok militan Negara Islam (IS).
Dalam pertemuan dengan Bapak Melikoc, ulama senior Muslim Akhmed Abdulayev mengatakan bahwa sebuah dekrit agama akan segera dikeluarkan yang melarang penggunaan niqab. Laporan setelah serangan 23 Juni menyebutkan bahwa salah satu pria bersenjata berencana melarikan diri sambil mengenakan niqab.
Ulama Abdulayev mengatakan niqab akan dilarang sampai perdamaian dan ketenangan dipulihkan di wilayah tersebut.
Ngoc Anh (menurut Reuters)
[iklan_2]
Sumber: https://www.congluan.vn/lanh-dagestan-do-loi-cac-cuoc-tan-cong-cho-nhung-ke-khung-bo-quoc-te-post302017.html
Komentar (0)