
Api dan manusia sangat terkait erat sehingga hanya sedikit orang yang mempertimbangkan apa yang terjadi pada api sebelum manusia belajar menggunakannya (Foto: Getty).
Bahkan hingga saat ini, setelah puluhan tahun penelitian, pemahaman kita tentang api purba masih sangat terbatas. Hanya ada sedikit buku dan dokumen yang secara langsung mendokumentasikan periode ini, sehingga rekonstruksi api sebagian besar bergantung pada bukti geologis.
Dengan pemanasan bumi yang cepat dan kebakaran hutan mematikan yang semakin sering terjadi di seluruh dunia, pemahaman tentang asal usul dan sejarah api menjadi lebih mendesak daripada sebelumnya.
Manusia mungkin telah menggunakan api sejak zaman dahulu kala, tetapi tidak pernah benar-benar menguasainya. Salah satu tantangan utama yang dihadapi para ilmuwan saat ini adalah membedakan antara api buatan manusia dan api alami. Untuk melakukan itu, pertama-tama perlu dipahami sifat dan peran api di masa lalu.
Sebagian besar pengetahuan kita saat ini berasal dari studi arang fosil yang ditemukan di batuan yang berusia lebih dari 350 juta tahun, yaitu pada periode Karbonifer.
Dalam bukunya "The Burning Planet: The Story of Fire Through Time," ahli geologi Inggris Andrew Scott menyatakan bahwa arang dapat mempertahankan banyak struktur tumbuhan setelah terbakar. Jika arang diperiksa di bawah kaca pembesar, bahkan dari api yang baru saja padam, masih mungkin untuk membedakan detail anatomi tumbuhan yang rumit.
Selama bertahun-tahun, Profesor Scott dan para mahasiswanya di Royal Holloway University di London telah mengumpulkan dan menganalisis sampel arang kuno untuk merekonstruksi sejarah kebakaran di masa lalu.
Kunci untuk memahami kapan api pertama kali muncul di Bumi terletak pada "segitiga api".
Pertama, ada bahan bakarnya. Api membutuhkan tumbuhan untuk menyala, jadi api tidak mungkin ada sebelum tumbuhan muncul. Tumbuhan laut mulai menyebar ke daratan sekitar 420 juta tahun yang lalu, jadi api kemungkinan besar tidak terbentuk sebelum waktu itu.
Kedua, ada sumber panas. Di alam purba, petir merupakan pemicu utama kebakaran. Bukti adanya petir telah ditemukan pada partikel pasir yang menggumpal di beberapa sedimen purba.
Ketiga, ada oksigen. Pembakaran membutuhkan oksigen, sama seperti pernapasan manusia. Saat ini, atmosfer mengandung sekitar 21% oksigen. Percobaan menunjukkan bahwa jika konsentrasi oksigen turun di bawah 17%, api sulit menyebar. Sebaliknya, ketika melebihi 30%, api sangat sulit dikendalikan, dan bahkan vegetasi yang lembap pun dapat terbakar. Inilah juga mengapa fasilitas medis melarang keras menyalakan api atau merokok di lingkungan dengan oksigen tambahan.
Konsentrasi oksigen di atmosfer Bumi telah berfluktuasi secara dramatis dari waktu ke waktu. Sekitar 350 hingga 250 juta tahun yang lalu, kadar oksigen tinggi, berkisar antara 23% hingga 30%, menciptakan kondisi yang kondusif untuk terjadinya kebakaran hutan yang meluas.
Bukti paling awal tentang kebakaran hutan berasal dari sekitar 420 juta tahun yang lalu, yang termanifestasi dalam endapan arang di batuan sedimen. Namun, pada saat itu, vegetasi masih jarang dan berskala kecil, sehingga membatasi luasnya kebakaran. Baru sekitar 350 juta tahun yang lalu, ketika hutan purba berkembang, kebakaran menyebar dan menghancurkan hutan pertama di planet ini.
Periode kebakaran hutan hebat lainnya terjadi antara 140 dan 65 juta tahun yang lalu, bertepatan dengan masa hidup dinosaurus seperti Triceratops dan Tyrannosaurus, dan juga ketika tumbuhan berbunga muncul. Sekitar 40 juta tahun yang lalu, kadar oksigen secara bertahap stabil mendekati tingkat modern. Hutan hujan tropis meluas, dan lingkungan yang lembap membuat kebakaran hutan menjadi kurang umum.
Namun, sekitar 7 juta tahun yang lalu, perluasan padang rumput mengubah keseimbangan ekologis. Padang rumput menjadi lebih mudah terbakar daripada hutan hujan, menciptakan siklus kebakaran yang berulang. Kebakaran yang sering terjadi ini menghanguskan pohon-pohon muda, mencegah padang rumput berubah menjadi hutan.
Di dunia yang penuh gejolak dan berapi-api itulah umat manusia mulai berevolusi, sekitar 1,5 juta tahun yang lalu.
Sumber: https://dantri.com.vn/khoa-hoc/lua-xuat-appear-on-earth-since-when-20260221031421306.htm







Komentar (0)