Saat masih kecil, saya tidak mengerti; saya hanya merasa itu menyebalkan. Terkadang, bahkan ketika saya sangat lapar, saya harus duduk diam dan menunggu semua orang datang sebelum saya bisa makan. Tetapi seiring bertambahnya usia, saya menyadari bahwa ucapan sederhana "silakan makan" dapat mengandung rasa terima kasih yang begitu besar.
Undangan untuk makan itu mengajarkan anak itu bahwa makanan ini bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan. Di ladang, sang ayah telah mengarungi lumpur sejak pagi. Di dapur yang panas terik, ibu berdiri di samping panci nasi yang mengepul. Setiap butir nasi basah kuyup oleh keringat orang dewasa.
Ayahku adalah pria yang pendiam, karena menghabiskan seluruh hidupnya bekerja di ladang, sehingga kata-katanya kering seperti tanah di musim kemarau. Tetapi dia mengajari anak-anaknya dengan caranya sendiri yang unik. Di setiap makan, dia akan duduk di ujung meja, dengan tenang memilih bagian ikan yang terbaik dan memasukkannya ke dalam mangkuk kecil. Terkadang, sebelum aku sempat makan sepotong ikan, aku akan melihatnya hanya mengambil kepala dan ekornya saja, meninggalkan sisanya.
Sebagai anak yang riang, saya mengira ayah saya mungkin tidak suka makan ikan. Belakangan, saya mengerti bahwa di dunia ini, ada tindakan cinta yang tak membutuhkan kata-kata, yang diam-diam ditemukan dalam sepotong ikan yang telah dibersihkan durinya dengan hati-hati.

Cita rasa ikan rebus dan sup asam dalam satu hidangan membangkitkan begitu banyak perasaan rindu kampung halaman. (Gambar dibuat oleh AI)
Ibu saya berbeda; beliau mengajari saya berbagai hal sambil makan. Beliau mengajari saya, "Makan sambil memperhatikan panci, duduk sambil memperhatikan arah." Saat itu, saya pikir beliau terlalu ketat; bahkan makan semangkuk nasi tambahan pun akan membuat saya dimarahi, dan makan terlalu cepat akan membuat saya ditatap tajam. Tetapi kemudian, setelah bepergian ke banyak tempat dan bertemu banyak orang, saya mengerti bahwa itu adalah pelajaran tentang kehalusan. Anak yang tahu bagaimana melihat panci nasi untuk mengambil porsi yang tepat adalah anak yang memikirkan orang lain. Seseorang yang tahu bagaimana duduk dengan benar dan memberikan tempat duduknya yang nyaman kepada orang yang lebih tua adalah orang yang bersikap moderat.
Suatu hari kami kedatangan tamu. Ibu menggoreng ikan gabus berwarna cokelat keemasan. Saya sangat tergoda sehingga terus-menerus meraih perut ikan itu. Saya belum makan lebih dari beberapa suapan ketika ibu dengan lembut menendang kaki saya di bawah meja. Ia tersenyum kepada para tamu, tetapi matanya sangat serius. Malam itu, ia berbisik, "Potongan terbaik tidak selalu untukmu, anakku. Mengetahui cara berbagi dengan orang lain adalah hal yang benar-benar berharga." Pepatah itu tetap terpatri dalam ingatan saya hingga hari ini.
Makan bersama keluarga juga merupakan saat orang tua saya mengajari saya dan saudara perempuan saya cara berbagi. Pada hari-hari hujan, ketika kami sangat miskin sehingga harus mencampur kentang dengan nasi, ibu saya selalu menambahkan sepasang sumpit ekstra ke dalam hidangan setiap kali ada tamu yang datang. Dia tidak pernah membiarkan tamu merasa malu melihat makanan di atas meja.
Ibuku berkata, "Kita makan apa pun yang ada, semakin banyak orang, semakin meriah." Terkadang, panci sup asam itu hanya berisi bunga teratai dan beberapa ikan kecil, tetapi duduk berdesakan di sekitar meja, mendengarkan hujan yang jatuh di luar atap jerami, tiba-tiba rasanya sangat lezat.
Keadaan sekarang jauh lebih baik daripada dulu; meja makan penuh dengan daging dan ikan. Tetapi terkadang semua orang terpaku pada ponsel mereka, makan dengan cepat lalu berdiri. Beberapa keluarga bahkan tidak sempat duduk bersama untuk makan sekali seminggu. Orang dewasa sibuk bekerja, anak-anak sibuk dengan kelas tambahan. Beberapa anak tahu nama banyak masakan asing tetapi lupa cara mengajak kakek-nenek mereka makan.
Sedih rasanya memikirkannya. Karena, sebenarnya, yang menyatukan sebuah keluarga bukanlah rumah besar, melainkan momen-momen ketika orang-orang bersedia duduk bersama. Makan bersama bagaikan benang yang mendekatkan orang-orang terkasih setelah seharian beraktivitas. Di sana, anak-anak belajar mendengarkan melalui cerita ayah mereka, belajar kesabaran dari ibu mereka saat membersihkan ikan, dan belajar rasa syukur dari semangkuk nasi putih harum yang terbuat dari beras yang baru dipanen.
Aku ingat ketika aku gagal ujian masuk universitas, aku sangat sedih sehingga aku tidak makan selama berhari-hari. Siang itu, ayahku tidak banyak bicara, dia hanya duduk diam, mengambil sepotong ikan rebus untukku, dan perlahan berkata, "Makanlah, anakku. Jika kau jatuh, bangkitlah dan coba lagi." Kalimat singkat itu tetap terpatri dalam ingatanku sepanjang hidupku, setiap kali aku merasa ragu di dunia yang luas ini. Ternyata beberapa pelajaran hidup tidak datang dari sekolah, tetapi dari meja makan keluarga.
Makan bersama keluarga juga menjadi momen di mana saya dan saudara-saudara perempuan saya belajar saling menyayangi melalui hal-hal kecil. Saat itulah Ibu selalu menyimpan potongan makanan terbaik untuk kami. Saat itulah Ayah, yang pulang larut malam dari bekerja di ladang, tetap memastikan untuk duduk dan makan bersama seluruh keluarga. Saat itulah saudara-saudara berbagi potongan daging terakhir. Saat itulah pertanyaan-pertanyaan: "Bagaimana sekolahmu hari ini?", "Apakah kamu lelah setelah bekerja, Nak?". Hal-hal yang tampaknya biasa ini menjadi kenangan yang menopang kami melewati banyak badai.
Suatu kali, saya makan di restoran mewah di tengah kota besar. Makanan disajikan dengan indah dan mahal, dan pelayan membungkuk dengan hormat. Tetapi di tengah gemerlap lampu, saya diliputi kerinduan akan ikan rebus buatan ibu saya dari masa lalu. Baru setelah seumur hidup kita menyadari bahwa hal-hal terbaik tidak selalu ditemukan dalam makanan gourmet, tetapi terkadang dalam hidangan sederhana yang dipenuhi tawa.
Dewasa ini, banyak orang tua khawatir anak-anak mereka kurang memiliki keterampilan hidup, sehingga mereka mendaftarkan anak-anak mereka ke berbagai macam kelas. Tetapi mungkin yang terpenting adalah mengajarkan anak-anak untuk duduk dengan sopan di meja makan, mengundang orang lain untuk makan, menunggu orang dewasa, menyajikan makanan kepada kakek-nenek mereka, dan menanyakan kabar orang tua mereka setelah seharian beraktivitas. Hal-hal kecil ini memupuk karakter yang indah. Karena keluarga bukan hanya tempat untuk kembali; tetapi juga tempat orang belajar bagaimana hidup dengan layak di dunia ini.
Saat senja tiba, di luar, perapian masih menyala terang. Para ibu masih sibuk menyajikan nasi, menunggu anak-anak mereka. Para ayah masih dengan tenang menunggu semua orang hadir sebelum mengambil sumpit mereka. Dan di suatu tempat, di tengah aroma harum ikan rebus di sebuah rumah kecil, seorang anak tumbuh besar, mempelajari pelajaran hidup pertamanya dari makan malam keluarga. Pelajaran yang tidak ditemukan dalam buku, tetapi yang akan tetap bersama mereka sepanjang hidup mereka.
AN LAM
Sumber: https://baoangiang.com.vn/mam-com-giu-lua-nha-a489543.html







