Angin sepoi-sepoi musim semi bertiup, membawa serta aroma bunga dan antisipasi yang penuh harap akan Tết (Tahun Baru Imlek). Di tengah hamparan hari-hari akhir tahun yang luas, kita merasa gelisah, merindukan datangnya musim semi.
Aku duduk di sini menghitung mundur hari-hari di kalender. Kota kelahiranku memanggilku kembali dengan ribuan kenangan dan kerinduan. Kenangan-kenangan itu kembali membanjiri pikiranku, sejelas film gerak lambat. Itu adalah jalan desa berdebu merah tempat aku berlari dan bermain dengan teman-temanku di masa kecil. Itu adalah aroma jerami yang terbakar dan asap yang mengepul dari ladang saat orang-orang mempersiapkan lahan untuk musim tanam baru. Itu adalah gambaran ibuku yang dengan tekun merawat barisan sayuran hijau, mempersiapkan Tet (Tahun Baru Imlek)... Semua kenangan ini terukir dalam benakku, dan aku pikir tidak peduli berapa tahun berlalu, kenangan itu tidak akan pernah pudar.
Aku merindukan musim semi kembali ke rumah lamaku, tempat jejak masa kecilku masih tersisa. Halaman depan yang luas, tempat padi dijemur di musim panas, jagung di musim dingin, dan berbagai jenis kacang di musim semi. Di kebun belakang, ada teralis labu dan waluh yang ditanam ibuku, dan pohon jambu yang biasa kami panjat bersama saudara-saudaraku untuk memetik buahnya.
Aku ingat sore-sore menjelang akhir tahun, ketika Ayah memanggilku dan saudara-saudaraku untuk membantu mengecat dinding dan membersihkan altar leluhur. Meskipun rumah itu sudah tua, setiap Tet (Tahun Baru Imlek) rumah itu akan direnovasi dan dirapikan untuk menyambut tahun baru yang penuh harapan.
![]() |
| Ilustrasi: Tran Thanh Long |
Aku merindukan datangnya musim semi dan mendengar kembali suara-suara yang sudah kukenal: kokok ayam jantan di waktu subuh, gonggongan anjing yang riuh saling menggoda, pengeras suara desa yang menyiarkan lagu-lagu yang merayakan musim semi, Partai, dan pembaharuan negara.
Aku ingat tawa anak-anak yang berlarian dan melompat-lompat di jalan desa, memamerkan pakaian dan sepatu baru yang baru saja dibeli orang tua mereka. Jalan desa itu berlumpur di musim hujan dan tertutup debu merah di musim kemarau, dengan rumput liar tumbuh di sepanjang kedua sisinya. Itulah jalan yang kami lalui ke sekolah setiap hari, saksi bisu kenangan masa kecil yang tak terhitung jumlahnya.
Aku sangat merindukan datangnya musim semi agar bisa pergi ke pasar Tet bersama ibuku seperti dulu. Pasar sore pada hari ketiga puluh Tet mungkin adalah pasar paling istimewa sepanjang tahun. Sejak pagi buta, orang-orang memadati pasar. Kios-kios dipenuhi dengan bunga-bunga yang semarak: bunga persik merah muda, bunga aprikot kuning, krisan kuning, dan gladiol merah tua. Aroma bunga bercampur dengan aroma banh chung dan banh tet (kue beras tradisional Vietnam) yang baru dimasak. Teriakan para penjual memenuhi udara; para penjual berharap pelanggan akan membeli bunga mereka tepat waktu untuk masakan Malam Tahun Baru, sementara para penjual bunga dengan bangga memamerkan hasil panen mereka yang segar dan indah.
Ibuku membimbingku dari satu kios ke kios lainnya, menawar harga dan dengan hati-hati memilih setiap barang. Setiap tahun, ia akan membeli beberapa pot bunga untuk menghias altar, beberapa manisan dan camilan untuk dipersembahkan kepada tamu, serta beras ketan, bawang bombai, dan ketumbar untuk persiapan liburan Tet. Momen-momen yang kuhabiskan berdesakan di tengah keramaian, tangan ibuku menggenggam erat tanganku, keranjangnya penuh dengan barang dagangan, dan senyumnya di awal musim semi akan selalu terukir dalam ingatanku, dipenuhi dengan begitu banyak cinta.
Kita sangat menantikan datangnya musim semi agar bisa melihat desa yang ramai bersiap menyambut Tet. Berbulan-bulan sebelum Tet, setiap rumah tangga menggemukkan babi mereka, dengan hati-hati menyiapkan setiap hidangan, berharap dapat berbagi babi yang lezat dengan penduduk desa selama liburan. Pada sore hari tanggal tiga puluh bulan lunar, semua orang bergotong royong menyembelih babi, kemudian membagi dagingnya secara merata kepada semua orang.
Para pria berkumpul di sekitar api unggun yang menyala, memasak kue beras ketan (bánh chưng dan bánh tét), mengobrol dan berbagi cerita sepanjang malam. Para wanita sibuk dengan nampan berisi manisan, selai kelapa, manisan jahe, dan menyiapkan persembahan lima buah untuk upacara Malam Tahun Baru. Anak-anak bermain di seluruh desa, dengan penuh semangat menunggu saat kembang api menerangi langit malam. Suasana musim semi meresap ke setiap lorong dan setiap rumah, membuat semua orang ceria dan gembira.
Kita sangat menantikan datangnya musim semi agar bisa berkumpul bersama keluarga. Makan malam Tahun Baru, meskipun sederhana, dipenuhi dengan kehangatan dan kasih sayang. Ibu menyiapkan makanan sejak pagi, ayah membersihkan altar leluhur, dan saudara-saudara membantu berbagai tugas. Ketika makanan sudah siap, seluruh keluarga berkumpul, dan ayah membacakan doa kepada leluhur, berharap tahun baru yang damai dan penuh keberuntungan. Pada saat-saat seperti itulah kita benar-benar memahami pepatah, "Tet adalah waktu untuk pulang ke rumah." Pulang ke rumah bukan hanya tentang kembali ke rumah, tetapi tentang kembali kepada orang-orang terkasih, mereka yang telah bekerja keras untuk membesarkan kita.
Rambut ayah sudah beruban, punggung ibu membungkuk. Jumlah waktu yang masih bisa kita habiskan bersama terbatas. Itulah mengapa setiap musim semi adalah hadiah yang berharga, kesempatan untuk mengungkapkan bakti kita kepada orang tua, untuk mengingat momen-momen yang kita habiskan bersama. Kita merindukan datangnya musim semi... tidak perlu yang mewah, hanya ingin berada di rumah, mengatakan "Aku pulang," duduk di meja makan keluarga. Itu saja, sederhana namun penuh dengan cinta…
Mai Hoang
Sumber: https://baodaklak.vn/van-hoa-xa-hoi/van-hoa/202602/mong-xuan-de-ve-1582ce5/








Komentar (0)