Dalam tiga dekade terakhir abad ke-19, sastra modern Denmark dan seluruh sastra modern Nordik muncul berkat peran kritikus sastra G. Brandes.
Periode Sastra Modern (1)
Sastra modern lahir:
| Kritikus sastra G. Brandes. |
Dalam tiga dekade terakhir abad ke-19, sastra modern Denmark dan seluruh sastra modern Nordik muncul berkat peran kritikus sastra G. Brandes (1842-1927).
Ia mengkritik Romantisisme yang ketinggalan zaman, dangkal, dan tidak realistis. Dipengaruhi oleh filsafat Hegelian (Jerman), kritik objektif Sainte-Beuve (Prancis), dan studi sastra pragmatis Taine (Prancis), ia mengikuti realisme dan naturalisme, menuntut agar sastra berpegang teguh pada kenyataan, bersifat ilmiah, progresif, dan menentang politik reaksioner.
Tahun 1871 merupakan tahun penting bagi sastra Nordik: kuliah Brandes di Universitas Kopenhagen tentang Gerakan Politik dalam Sastra Eropa Abad ke-19 membuka jalan menuju benteng Romantisisme.
Kemudian, gagasan Brandes secara bertahap bergeser ke arah radikalisme aristokratis dari filsuf Jerman Nietzsche.
J.P. Jacobsen (1847-1885) mempopulerkan pemikiran Darwin. Ia menulis novel-novel ateistik, menentang Kekristenan (meskipun ia berubah pikiran menjelang akhir hayatnya). Karya-karyanya memiliki nada tragis, sangat sarat dengan keputusasaan dan ketidakberdayaan.
H. Bang (1837-1912) menulis novel, cerita pendek, kritik, dan puisi impresionistik. Novelnya, *Generasi Tanpa Harapan*, mengungkap moralitas borjuis yang dekaden, ditulis berdasarkan teori genetika, dan ia dituntut di pengadilan. Ia bersimpati kepada mereka yang hidup dalam ketidakjelasan, berjuang tanpa harapan, dan gaya penulisannya naturalistik, yang mengarah pada pesimisme.
H. Drachman (1846-1908) bimbang antara radikalisme borjuis dan konservatisme. Kumpulan puisinya mengungkapkan simpati terhadap Komune Paris. Namun, ia kemudian memutuskan hubungan dengan kelompok radikal Brandes, dan menulis novel serta puisi romantis yang impulsif.
Novel-novel realis karya H. Pontoppidan (1857-1943, Hadiah Nobel 1917) membuka jalan bagi novel modern. Sebagai perwakilan terkemuka dari sastra realis kritis Denmark, ia mendalami psikologi sosial. Ia membandingkan manusia modern, yang ditandai oleh perubahan ekonomi , teknologi, dan sosial, dengan manusia tradisional yang berakar kuat pada tanah. Novelnya *Per the Red* menunjukkan bahwa dalam masyarakat kapitalis, kerja keras dan bakat tidak efektif; kesuksesan bergantung pada uang, kekuasaan, dan kekejaman. Tokoh-tokoh utama semuanya berusaha melarikan diri dengan menjauhkan diri dari masyarakat atau berbuat baik dengan kekayaan mereka.
Sebagai tanggapan terhadap naturalisme pesimistis, beberapa penulis muda mencari cita-cita baru, sebuah estetika neo-romantis yang introspektif, liris, simbolis, atau mistis, seperti J. Jorgensen, H. Rode, L. Holstein, S. Clausen, G. Wied, dan Vigo Stuckenberg.
Pada awal abad ke-19, dari tahun 1890 hingga Perang Dunia I, sastra Nordik mengalami transformasi yang cukup kompleks, tetapi juga mengikuti tren umum sastra Eropa pada waktu itu: para penyair muda bereaksi terhadap dominasi Simbolisme dan Neo-Romantisisme tahun 1890-an. Meskipun tradisi Simbolisme bertahan hingga saat ini, di negara-negara Nordik mereka menolak "diri" absolut, membuka cakrawala baru (tema industri, kota-kota besar, eksperimen linguistik). Realisme psikologis diekspresikan dalam novel dan teater, yang membahas isu-isu sosialis. Sastra lokal dan sastra yang ditulis oleh petani dan pekerja sendiri juga berkembang pesat.
Di Denmark, muncul gelombang sastra materialis dan neorealis yang diwarnai ideologi sosialis. Tokoh yang paling menonjol adalah J.V. Jensen (1873-1950). Dipengaruhi oleh penyair Inggris Kipling, yang memuji imperialisme dan pengaruh peradabannya, ia menciptakan karakter-karakter yang berorientasi pada tindakan dan praktis, mengagungkan zaman teknologi dan revolusi industri. Ia menulis puisi, novel, dan cerita pendek yang memuji kota kelahirannya, Jutlandia, dan menggambarkan kehidupan para petani di akhir abad ke-19. Ia dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1944.
J.V. Jensen mewakili tren sastra lokal yang mencakup banyak penulis dari Jutlandia Selatan. Secara khusus, ada novelis J. Knudsen (1858-1915). Jensen mencari jalan menuju masa depan dalam teknologi modern dan manusia unggul, sementara Knudsen menemukannya dalam iman Kristen. Mengikuti kecenderungan naturalis, ia menggambarkan jiwa-jiwa untuk mengangkat pertanyaan tentang kebaikan dan kejahatan. Karyanya yang penting adalah *Pendeta Palsu*.
Tren lain dalam sastra pada masa itu adalah sastra yang memicu perjuangan sosial. M. Andersen-Nexoe (1869-1954) adalah penulis terkemuka pertama yang mewakili gerakan buruh Denmark, memperkenalkan materi baru dan menempatkan proletariat sebagai pusat karya-karyanya.
Novel terkenal dunia *Pele Sang Penakluk* (yang merayakan pencerahan kelas, solidaritas di antara kaum tertindas, dan mencerminkan keyakinan akan keadilan sosial) adalah bukti dari karyanya. Setelah Revolusi Oktober Rusia, ia bergabung dengan Partai Komunis Denmark dan menulis novel *Ditche, Putri Seorang Pria* (yang merayakan kebaikan perempuan proletar). Pada usia 82 tahun, ia beremigrasi ke Republik Demokratik Jerman, tempat ia tinggal hingga kematiannya.
Sumber






Komentar (0)