
Pesawat ruang angkasa Orion mendarat dengan selamat di Samudra Pasifik di lepas pantai California pada pagi hari tanggal 11 April - Foto: NASA
Misi Artemis II berhasil diselesaikan setelah 10 hari mengorbit Bulan, menandai penerbangan berawak pertama yang kembali ke area tersebut sejak Apollo 17. Pesawat ruang angkasa Orion mendarat dengan selamat di Samudra Pasifik di lepas pantai California, mengakhiri tonggak penting dalam eksplorasi ruang angkasa modern.
Menurut NASA, Artemis II bukanlah misi "sekali seumur hidup", melainkan awal dari serangkaian misi berkelanjutan yang bertujuan untuk mengembalikan manusia ke permukaan bulan pada tahun 2027 dan membangun kehadiran manusia jangka panjang di sana.
Di luar makna simbolisnya, Artemis II juga membantu menguji sistem pesawat ruang angkasa Orion dalam kondisi dunia nyata, mulai dari sistem kendali penerbangan dan pendukung kehidupan hingga kemampuannya untuk menahan suhu tinggi saat memasuki kembali atmosfer. Ini adalah fondasi penting untuk mempersiapkan misi yang lebih kompleks di masa depan.
Strategi baru: membangun pangkalan di Bulan, bukan stasiun orbit.
Perubahan penting dalam rencana NASA adalah meninggalkan gagasan membangun stasiun ruang angkasa yang mengorbit Bulan (Gateway), untuk fokus langsung pada pembangunan pangkalan di permukaan Bulan.
Menurut para ahli, kehadiran langsung di Bulan akan menghasilkan banyak manfaat ilmiah , mulai dari pengujian teknologi dan ekstraksi sumber daya hingga pelatihan keterampilan bertahan hidup di luar angkasa. Hal ini juga dianggap sebagai "latihan" penting sebelum melanjutkan ke misi yang lebih jauh seperti ke Mars.
Oleh karena itu, program Artemis dirancang tidak hanya untuk "mendarat" di Bulan, tetapi juga untuk membangun ekosistem eksplorasi ruang angkasa yang berkelanjutan, dengan partisipasi dari sektor publik dan swasta.
Setelah Artemis II, NASA menguraikan peta jalan spesifik untuk langkah selanjutnya.
Misi Artemis III dijadwalkan pada tahun 2027, tetapi tidak akan langsung mengirim manusia ke Bulan. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah untuk menguji proses penyambungan antara pesawat ruang angkasa Orion dan wahana pendarat bulan lainnya di orbit dekat Bumi. Ini adalah langkah penting untuk memastikan keamanan pendaratan di masa mendatang.
Wahana pendarat ini dikembangkan oleh dua perusahaan swasta besar, Blue Origin (didirikan oleh Jeff Bezos) dan SpaceX (didirikan oleh Elon Musk), yang menunjukkan tren kemitraan publik-swasta yang semakin jelas di industri kedirgantaraan.
Pada tahun 2028, misi Artemis IV akan membawa para astronot ke orbit bulan, setelah itu dua di antaranya akan mendarat di wilayah Kutub Selatan, yang diyakini memiliki es air. Mereka akan tinggal di sana selama sekitar satu minggu untuk melakukan penelitian ilmiah.
Misi-misi selanjutnya seperti Artemis V akan bertujuan untuk meningkatkan frekuensi pendaratan, berpotensi mencapai sekali setiap enam bulan, sambil mengoptimalkan biaya dan teknologi untuk membuat perjalanan antara Bumi dan Bulan menjadi lebih "teratur".

Artemis II adalah batu loncatan untuk membuka kembali era eksplorasi bulan - Foto: NASA
Pelajaran penting dari Artemis II
Selain keberhasilannya, Artemis II juga membantu NASA mengidentifikasi masalah teknis yang perlu ditangani dengan lebih baik.
Salah satu tujuan utama adalah untuk memeriksa perisai panas pesawat ruang angkasa Orion, setelah ditemukannya lebih dari 100 titik kerusakan selama misi Artemis I tanpa awak pada tahun 2022. Dengan orbit kembali yang baru, NASA melaporkan tidak ada anomali signifikan, yang menunjukkan bahwa perbaikan berada di jalur yang benar.
Namun, pesawat ruang angkasa Orion mengalami masalah dengan sistem katup helium pada sistem propulsinya. Meskipun kebocoran terdeteksi sebelum peluncuran, tingkat keparahannya meningkat di ruang angkasa, memaksa NASA untuk mempertimbangkan mendesain ulang sistem tersebut untuk misi mendatang.
Di luar aspek teknisnya, Artemis II juga sukses secara media. Gambar Bulan dan Bumi dari luar angkasa menarik puluhan juta penayangan daring, menunjukkan daya tarik yang kuat dari misi luar angkasa bagi masyarakat global.
Meskipun memiliki peta jalan yang jelas, NASA masih menghadapi banyak tantangan sebelum dapat mengirim manusia kembali ke permukaan Bulan.
Roket generasi berikutnya untuk Artemis III hampir selesai, sementara pesawat ruang angkasa Orion juga sedang dirakit di Kennedy Space Center. Namun, penyelesaian masalah teknis, khususnya pada sistem propulsi, masih menjadi masalah yang belum terselesaikan.
Yang lebih penting lagi, wahana pendarat yang dikembangkan oleh Blue Origin dan SpaceX belum sepenuhnya diuji di luar angkasa. Laporan audit terbaru menunjukkan bahwa kedua proyek tersebut tertunda dari jadwal dan menghadapi banyak tantangan teknis, yang dapat berdampak pada rencana keseluruhan.
Meskipun demikian, NASA masih berupaya meluncurkan Artemis III pada tahun 2027, yang menunjukkan tekadnya untuk mempercepat perjalanan kembali ke Bulan.
Selain misi ke Bulan, program Artemis juga merupakan langkah persiapan penting untuk misi yang lebih jauh di masa depan.
Membangun pangkalan di Bulan akan memungkinkan manusia untuk menguji teknologi bertahan hidup, memanfaatkan sumber daya, dan mengoperasikan sistem di lingkungan luar angkasa—elemen-elemen kunci jika mereka ingin menaklukkan Mars.
Namun, seperti yang telah diperingatkan oleh banyak ahli, tantangan terbesar bukan terletak pada teknologi, tetapi pada tubuh manusia itu sendiri. Penelitian tentang kedokteran ruang angkasa, radiasi, dan adaptasi jangka panjang masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk disempurnakan.
Oleh karena itu, Artemis II bukan hanya penerbangan bersejarah, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan untuk menaklukkan ruang angkasa adalah proses panjang, yang membutuhkan kombinasi sains, teknologi, dan pemahaman mendalam tentang kemanusiaan itu sendiri.
Sumber: https://tuoitre.vn/nasa-se-lam-gi-sau-artemis-ii-20260413120534685.htm






Komentar (0)