Dalam kehidupan, kita sering mendengar kepercayaan umum bahwa menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir akan menghasilkan keputusan yang lebih matang dan pilihan yang lebih baik. Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) telah sepenuhnya menumbangkan cara berpikir yang sudah mengakar ini.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemain catur profesional sebenarnya membuat keputusan yang jauh lebih berkualitas ketika mereka berpikir cepat. Dengan kata lain, dalam banyak kasus, semakin lama kita mempertimbangkan suatu langkah, semakin besar kemungkinan kita melakukan kesalahan.
Untuk sampai pada kesimpulan yang mengejutkan ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Uwe Sunde dari LMU (Jerman), bekerja sama dengan para ilmuwan dari Universitas Erasmus Rotterdam (Belanda) dan UniDistance Suisse, menganalisis ribuan langkah dalam turnamen catur profesional.
Para peneliti mengukur secara tepat setiap milidetik yang dihabiskan setiap pemain untuk memikirkan langkah. Kemudian, mereka membandingkan kualitas langkah-langkah tersebut dengan penilaian objektif yang diperoleh dari perangkat lunak catur paling canggih yang tersedia saat ini.

Pemain catur profesional sebenarnya membuat keputusan yang jauh lebih berkualitas karena mereka berpikir cepat. (Ilustrasi: Vlada Karpovich/Pexels)
Hebatnya, korelasi antara kecepatan reaksi dan kualitas keputusan tetap kuat, bahkan ketika para ilmuwan mengontrol secara ketat kompleksitas komputasi papan catur, tingkat perbedaan antara pilihan alternatif, dan tekanan waktu. Ketika kesulitan objektif suatu posisi dijaga konstan, semakin lama seseorang berpikir, semakin besar kemungkinan mereka melakukan kesalahan.
Profesor Sunde menjelaskan bahwa lamanya waktu berpikir sebenarnya mencerminkan tingkat kesulitan subjektif yang dirasakan pemain. Jika seorang pemain tidak dapat dengan cepat memahami esensi posisi secara intuitif, memaksa otak untuk terus melakukan perhitungan yang murni logis menjadi sangat sulit.
Pada titik ini, mencoba berpikir lebih jauh akan seperti lingkaran tanpa akhir, membuat mereka semakin tersesat di tengah variasi yang kompleks. "Inilah perbedaan mendasar antara manusia dan komputer," tegas Sunde.
Sementara komputer mengandalkan daya komputasi mentah untuk memindai dan menganalisis jutaan langkah secara bersamaan, manusia mengandalkan kemampuan intuitif mereka untuk mengenali pola guna membedakan dengan cepat antara langkah yang baik dan buruk. Ketika intuisi tidak segera aktif, kemampuan perhitungan rasional kita mudah terganggu dan kehilangan ketajamannya.
Sebelumnya, sebagian besar studi tentang hubungan antara waktu dan kualitas keputusan terbatas pada lingkungan laboratorium dengan masalah sederhana dan subjek mahasiswa. Studi ini menonjol karena menggunakan data dunia nyata dari pemain catur papan atas, memberikan wawasan realistis tentang perilaku pengambilan keputusan yang kompleks dalam lingkungan yang sangat kompetitif.
Para peneliti percaya bahwa temuan ini tidak terbatas pada kotak hitam dan putih di papan catur. Dalam banyak situasi dunia nyata yang membutuhkan keputusan strategis dan pemikiran mendalam—mulai dari bisnis dan investasi hingga manajemen krisis—terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir terkadang bisa menjadi tanda bahwa pengambil keputusan kesulitan memahami masalah, alih-alih menemukan solusi optimal.
Hasil penelitian sekali lagi menegaskan peran penting intuisi yang diasah melalui pengalaman. Orang yang memiliki kemampuan untuk menilai situasi dengan cepat cenderung membuat pilihan yang lebih tepat, sementara upaya untuk "mempertimbangkan dengan cermat" terkadang secara tidak sengaja menghasilkan hasil yang kurang memuaskan.
Sumber: https://suckhoedoisong.vn/nghi-lau-de-quyet-dinh-sai-169260521164736772.htm







Komentar (0)