Dari rasa sakit menjadi keinginan untuk sembuh
Di sebuah bengkel kecil yang terletak di gang Goc De (kelurahan Minh Khai, distrik Hoang Mai, Hanoi ), suara mesin tempa dan potong bergema bagai melodi kehidupan. Di sana, kami bertemu seorang pria kurus, dengan mata cerah tersembunyi di balik kacamata putih, dengan tekun membengkokkan setiap batang termoplastik. Dialah Le Thanh Do - pria yang telah menghabiskan 20 tahun menciptakan lengan dan kaki baru untuk membantu "menyembuhkan" kehidupan mereka yang kurang beruntung.
Gagasan untuk membantu mereka yang berada dalam situasi serupa berawal dari pengalaman mendalam Pak Do sendiri selama perang perlawanan. Sebagai seorang yang cacat akibat perang, ia memahami penderitaan dan ketidaknyamanan karena kehilangan salah satu anggota tubuh. Kemudian, ketika diberi kesempatan untuk berganti karier, ia memutuskan untuk menekuni kedokteran, dengan keinginan untuk merawat rekan-rekannya dan mereka yang kurang beruntung.
Selama bekerja di Kementerian Tenaga Kerja, Penyandang Disabilitas Perang, dan Urusan Sosial, Pak Do menyaksikan semakin banyaknya situasi sulit yang dihadapi orang-orang yang harus hidup tanpa lengan dan kaki mereka. "Setelah dirawat di rumah sakit tiga kali, saya tahu apa yang mereka butuhkan: Bukan hanya kaki, tetapi juga iman untuk hidup," renungnya.
Di usianya yang ke-80, Tuan Le Thanh Do masih bekerja keras. |
Titik balik yang besar terjadi ketika Tuan Do dikirim untuk magang selama 6 bulan di Belanda. Di sana, ia mempelajari teknik ortopedi modern, dan lebih memahami material setengah jadi serta struktur setiap bagian tubuh. Pengetahuan tersebut tidak hanya menjadi bekal berharga, tetapi juga memotivasinya untuk memulai bisnis, dengan ide mendirikan bengkel produksi kaki dan tangan palsu bagi penyandang disabilitas.
Pada tahun 2004, setahun sebelum pensiun, ia memanfaatkan gedung apartemen keluarganya untuk mulai membangun bengkel. Masa-masa awal sangat sulit karena keterbatasan sumber daya, dan akses ke peralatan, mesin, dan material khusus berkualitas tinggi, terutama barang impor, tidaklah mudah. Ia berkata: "Saat itu, saya harus mengerahkan seluruh sumber daya, bahkan meminta bantuan rekan-rekan di bengkel milik negara untuk mendapatkan material. Namun, saya selalu ingat bahwa, sesulit apa pun, saya harus membuat produk untuk membuktikan kemampuan saya kepada sponsor."
Setelah lokakarya tersebut didirikan, ia mendekati para mahasiswanya, teknisi ortopedi yang terlatih dalam proyek gabungan antara Universitas Pekerjaan Sosial dan Jerman, tempat ia menjadi dosen dan wakil manajer proyek. Ia meyakinkan mereka untuk bergandengan tangan mewujudkan impian kemanusiaan ini.
Pada tahun 2005, bengkel tersebut resmi beroperasi. Pada tahun 2006, seorang pakar Amerika datang ke Vietnam untuk bekerja dan mengetahui tentang bengkel swasta yang kecil namun bermakna ini. Setelah mengunjungi dan menyaksikan sendiri efektivitas praktis bengkel tersebut, ia memutuskan untuk menanggung sebagian biayanya. Berkat bantuan tersebut, peralatan bengkel semakin ditingkatkan, sehingga lebih memenuhi kebutuhan produksi. Ia juga menghubungi para pakar dan kenalannya untuk meminta saran dan dukungan. Mereka membantunya terhubung dengan calon sponsor.
Perjalanan Penuh Makna: Senyum Seseorang yang Menelusuri Jejaknya Kembali
Setiap tahun, bengkel Pak Do menjalankan proyek besar yang berlangsung dari April, Mei, hingga Desember. Prosesnya dimulai ketika ia menerima informasi tentang pasien yang membutuhkan dukungan dari asosiasi penyandang disabilitas, kemudian membuat perkiraan terperinci, mulai dari biaya pemeriksaan awal, rekam medis, hingga bahan produksi dan biaya tenaga kerja. Ia kemudian mengirimkan dokumen-dokumen tersebut kepada para sponsor untuk disetujui, terutama Dana Thien Tam yang dijamin oleh VinGroup , dengan kontribusi dari para filantropis dan pakar internasional.
Setelah persetujuan resmi diterima, tahap produksi dimulai. Setiap batch, beberapa lusin kasus disetujui, dan ia akan mulai bekerja tanpa lelah hingga akhir tahun. Semua informasi tentang pasien disimpan dengan cermat olehnya untuk memudahkan perbandingan nanti.
Tuan Le Thanh Do bekerja tanpa lelah setiap hari membuat kaki dan tangan palsu untuk para penyandang cacat. |
Bapak Do selalu percaya bahwa pengetahuan profesional yang solid tentang material dan struktur produk merupakan fondasi untuk menciptakan kaki dan lengan prostetik yang berkualitas. Agar lokakarya ini berjalan efektif, Bapak Do tidak hanya memperbarui pengetahuan profesionalnya, tetapi juga meningkatkan keterampilan manajemen, kemampuan komunikasi bahasa asing, dan pengetahuan teknologi informasinya. Hal ini tidak hanya membantunya terhubung dengan para ahli dan sponsor dari dalam dan luar negeri, tetapi juga menjadi jembatan baginya untuk menyampaikan informasi kepada pasien dengan cara yang mudah dipahami tentang peralatan yang akan mereka gunakan.
Di balik setiap produk terdapat kisah hidup, berbagai perasaan para penyandang disabilitas. Pak Do bercerita tentang sebuah kasus yang akan selalu diingatnya: “Saya masih ingat seorang pasien di Thuong Tin yang kehilangan kedua kakinya. Setelah kami membantunya memasang kaki palsu, ia dapat bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dengan beternak dan membuat kerajinan tangan untuk diekspor ke luar negeri. Hal-hal itulah yang menjadi motivasi terbesar saya untuk melanjutkan pekerjaan ini.”
Setiap pasien yang datang ke bengkel Pak Do merasakan pemulihan yang ajaib, bukan hanya pada sebagian tubuh, tetapi juga keimanan dan kepercayaan diri saat mereka tidak lagi merasa rendah diri karena menjadi beban ekonomi bagi keluarga dan masyarakat.
Di balik setiap produk terdapat kisah yang "menghubungkan kembali" harapan bagi para penyandang disabilitas. |
Bapak Le Thanh Do adalah bukti nyata semangat seorang prajurit Ho Chi Minh, baik di masa perang maupun damai, yang selalu mengabdikan diri kepada negara dan masyarakat. Dari seorang prajurit sapper yang berpartisipasi dalam pembersihan ranjau di area jembatan Ham Rong (Thanh Hoa) di masa lalu, menjadi seorang guru yang berdedikasi dan kini menjadi pendamping ribuan pasien disabilitas, Bapak Do telah menuliskan kisah indah tentang semangat hidup, welas asih, dan keinginan untuk berkontribusi.
Menengok ke masa lalu, Pak Do tidak menyebutnya karier yang sukses, melainkan sekadar perjalanan yang bermakna, karena menurutnya: "Makna itu diukur dari senyum mereka yang telah menemukan pijakan mereka kembali..." Pengakuan sederhana itu mengandung banyak kekhawatiran, harapan, dan keinginan untuk dibagikan. Terlepas dari kerja lembur, kekhawatiran finansial, atau hambatan transaksi, kebahagiaan sederhana melihat pasien tersenyum, menyaksikan mereka dengan percaya diri melangkah di atas kaki baru, telah menjadi hadiah spiritual yang tak ternilai, memberinya kekuatan dalam perjalanan ini.
Setelah berpamitan, Tuan Do mengantar kami sampai ke pintu. Sinar matahari sore menembus jendela, menampakkan bayangan pekerja tua itu di dinding yang ternoda warna waktu. Di sana, kepingan-kepingan kehidupan yang tampaknya telah "rusak" kini sedang diperbaiki, untuk bersinar dengan caranya sendiri...
THUY HIEN - PHUONG NHI
Sumber: https://www.qdnd.vn/phong-su-dieu-tra/cuoc-thi-nhung-tam-guong-binh-di-ma-cao-quy-lan-thu-16/nguoi-thuong-binh-noi-lai-nhung-cuoc-doi-da-gay-822738
Komentar (0)