Dari jumlah tersebut, sekitar 500 miliar yen dari dana cadangan akan digunakan untuk membantu rumah tangga dalam membayar tagihan listrik mereka, terutama selama musim panas ketika permintaan akan pendingin ruangan meningkat tajam.
Sebelumnya, Jepang telah memberlakukan kembali subsidi bahan bakar dan terus menghabiskan ratusan miliar yen setiap bulan untuk menjaga harga bahan bakar tetap stabil, karena kenaikan harga minyak menyusul ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Namun, langkah-langkah ini menimbulkan kekhawatiran tentang beban utang publik dan tekanan keuangan jangka panjang pada ekonomi terbesar ketiga di dunia.
Mengenai rencana keuangan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa anggaran akan dinaikkan melalui penerbitan obligasi pemerintah tambahan. Namun, ia menegaskan bahwa total tingkat utang tidak akan meningkat melebihi rencana awal. Hal ini karena, berkat pertumbuhan pendapatan pajak yang kuat, pemerintah mampu mengurangi jumlah penerbitan obligasi setara dengan yang awalnya direncanakan untuk tahun 2025. Penjelasan ini bertujuan untuk meyakinkan pasar, mengingat imbal hasil obligasi Jepang berada pada level tertinggi dalam 30 tahun terakhir karena kekhawatiran tentang inflasi dan utang publik.
Meskipun Jepang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, Perdana Menteri mengatakan bahwa upaya untuk mendiversifikasi pemasok telah membantu tingkat impor mencapai sekitar 80% dari periode yang sama tahun lalu, cukup untuk memastikan pasokan hingga Musim Semi 2027.
Yang perlu diperhatikan, Ibu Takaichi menegaskan bahwa beliau tidak akan meminta masyarakat untuk membatasi penggunaan energi guna menghindari terhambatnya aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama, pemerintah juga mempertimbangkan untuk menyesuaikan subsidi bahan bakar agar harga eceran tetap berada di sekitar 170 yen/liter, dengan tujuan menyeimbangkan dukungan kepada masyarakat sekaligus mengurangi tekanan keuangan nasional.
Sumber: https://vtv.vn/nhat-ban-xay-dung-goi-ho-tro-nang-luong-10026052615382566.htm








Komentar (0)