Lava meletus dari gunung berapi Kilauea di pulau Hawaii, AS. (Foto: AFP/VNA)
Menurut Survei Geologi AS (USGS), mereka mulai mendeteksi aktivitas vulkanik di Kilauea pada pagi hari tanggal 7 Juni. Wilayah erupsi tersebut berada di dalam Taman Nasional Gunung Berapi Hawaii, jauh dari pusat-pusat permukiman.
USGS menyatakan bahwa tingkat sulfur dioksida (SO2) yang dilepaskan dari gunung berapi Kilauea merupakan masalah besar, karena dapat menyebar luas di atmosfer dan menciptakan kabut. Kabut jenis ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas bagi manusia dan hewan, serta dapat memengaruhi tanaman.
Aktivitas vulkanik juga dapat menyebabkan fenomena yang dikenal sebagai "rambut Pele"—struktur yang sangat halus, mirip serat kaca, yang terbentuk dari lava vulkanik yang mendingin selama letusan. Serat-serat ini dapat menyebabkan iritasi kulit dan masalah mata. Pele adalah nama dewa gunung berapi dalam kepercayaan Hawaii.
Gunung berapi Kilauea meletus hanya beberapa bulan setelah gunung berapi yang lebih besar di dekatnya, Mauna Loa, juga meletus.
Kilauea jauh lebih kecil daripada Mauna Loa, tetapi jauh lebih aktif dan sering menarik pengunjung yang menggunakan helikopter untuk melihatnya dari Pulau Besar Hawaii. Ini adalah salah satu dari enam gunung berapi aktif di Kepulauan Hawaii. Gunung berapi ini meletus hampir terus menerus antara tahun 1983 dan 2019.
Tautan sumber







Komentar (0)