![]() |
Banyak senyawa dalam melon dapat memperlambat penyerapan gula. Foto: Freepik. |
Sebuah uji coba terkontrol secara acak yang diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Universitas Kermanshah (Iran) menunjukkan bahwa minum jus mentimun setiap hari dapat membantu memperbaiki beberapa indikator metabolisme pada penderita diabetes tipe 2.
Penelitian ini dilakukan pada 40 wanita penderita diabetes tipe 2 selama 8 minggu. Partisipan dibagi menjadi empat kelompok: kelompok kontrol, kelompok latihan beban, kelompok yang hanya mengonsumsi jus mentimun, dan kelompok yang menggabungkan olahraga dengan jus mentimun. Kelompok yang mengonsumsi jus mentimun diharuskan minum 240 ml jus mentimun murni setiap hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 8 minggu, kelompok yang mengonsumsi jus mentimun mencatat peningkatan pada beberapa indikator utama. Kadar glukosa darah puasa dan HbA1c (indikator yang mencerminkan kadar glukosa darah rata-rata selama kurang lebih 3 bulan) keduanya menurun. Selain itu, trigliserida, kolesterol total, dan kolesterol LDL ("kolesterol jahat") cenderung menurun, sedangkan kolesterol HDL ("kolesterol baik") meningkat.
Para peneliti menduga bahwa efek ini mungkin terkait dengan beberapa senyawa bioaktif yang ditemukan dalam mentimun, seperti cucurbitacin, kaempferol, serat, dan asam malonat. Komponen-komponen ini diyakini dapat memperlambat penyerapan gula, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mendukung pengaturan proses metabolisme dalam tubuh.
Namun, para ahli menekankan bahwa hasil ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Studi ini hanya dilakukan pada 40 wanita dengan diabetes tipe 2, sehingga bukti yang ada tidak cukup untuk mengkonfirmasi efektivitas serupa pada semua individu dengan hiperglikemia atau dislipidemia.
Selain itu, jus mentimun tidak dapat menggantikan obat-obatan atau perawatan medis yang telah terbukti. Dalam praktiknya, jus mentimun buatan sendiri cenderung tidak mempertahankan semua bahan aktif seperti yang ditunjukkan dalam penelitian, sementara konsumsi harian banyak orang seringkali tidak mencapai jumlah yang direkomendasikan yaitu 240 ml/hari.
Dalam kasus penyakit hati berlemak, dislipidemia, atau hiperglikemia persisten, mengandalkan diet saja seringkali tidak efektif dan tidak boleh menggantikan pengobatan standar.
Di luar pola makan, terdapat semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa mikrobioma usus memainkan peran penting dalam kesehatan metabolisme. Studi modern menunjukkan bahwa ketidakseimbangan mikrobiota usus mungkin terkait dengan hiperglikemia, dislipidemia, dan berbagai gangguan metabolisme lainnya.
Kebiasaan seperti begadang terlalu lama, kurang olahraga, pola makan tidak teratur, atau gaya hidup tidak sehat dapat mengurangi jumlah bakteri baik dan menciptakan kondisi bagi bakteri berbahaya untuk berkembang biak. Hal ini dapat menyebabkan peradangan kronis tingkat rendah, yang pada gilirannya meningkatkan risiko penumpukan lemak visceral dan gangguan metabolisme.
Oleh karena itu, selain penelitian tentang makanan pendukung seperti jus mentimun, banyak ilmuwan juga tertarik pada solusi untuk mengatur mikrobioma usus guna membantu mengontrol gula darah dan meningkatkan kesehatan metabolisme. Namun, serupa dengan jus mentimun, tindakan ini saat ini sebagian besar dianggap sebagai alat pendukung dan tidak dapat menggantikan pengobatan yang telah terbukti.
Dari perspektif profesional, dokter percaya bahwa pengendalian gula darah harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Bagi mereka yang hanya mengalami hiperglikemia ringan dan tanpa komplikasi, perubahan pola makan, peningkatan konsumsi sayuran kaya serat, dan olahraga teratur dapat memberikan manfaat yang signifikan.
Sementara itu, individu dengan penyakit penyerta seperti penyakit hati berlemak, dislipidemia, atau sindrom metabolik memerlukan pemantauan dan pengobatan komprehensif yang meliputi nutrisi, olahraga, dan pengobatan sesuai resep dokter.
Sumber: https://znews.vn/phat-hien-moi-ve-cong-dung-cua-dua-leo-post1655202.html









Komentar (0)