Ikan rebus dalam panci tanah liat, sup kepiting dengan daun goni, acar terong, tumis babi dengan pinggiran renyah, kangkung rebus, tahu goreng, atau sup daun goni dengan daging cincang dulunya merupakan hidangan umum dalam santapan sehari-hari banyak keluarga Vietnam. Tanpa bahan atau metode memasak yang rumit, hidangan-hidangan ini melestarikan cita rasa kehidupan pedesaan yang akrab dan kenangan akan santapan keluarga.
Saat ini, seiring dengan tren kuliner modern, hidangan tradisional ini semakin banyak muncul di menu restoran. Yang menarik bagi para pengunjung bukan hanya cita rasa tradisionalnya, tetapi juga perasaan kembali ke kenangan akrab bersama keluarga dan kampung halaman.

Ketika hal-hal favorit masa kecil menjadi pengalaman yang berharga.
Tidak sulit menemukan restoran di kota-kota besar yang khusus menyajikan "makanan rumahan" dengan menu yang meliputi ikan gobi rebus dengan lada, ikan nila rebus dalam pot tanah liat, tumis babi dengan pinggiran renyah, sup kepiting dengan daun goni, sup ikan asam, acar terong, acar sawi, atau sayuran rebus dengan saus celup.
Semua hidangan ini dulunya umum dalam makanan tradisional pedesaan Vietnam. Tanpa bahan-bahan atau teknik memasak yang rumit, hidangan-hidangan ini memikat para penikmatnya dengan cita rasa yang familiar dan nuansa yang menenangkan.
Menariknya, para pengunjung berbondong-bondong ke restoran-restoran ini bukan untuk menemukan hal-hal baru, tetapi untuk mengenang kembali kenangan lama. Bagi banyak anak muda yang tinggal jauh dari rumah, sepanci ikan rebus dengan lada yang harum, semangkuk sup kepiting, atau sepiring acar terong yang renyah dapat membangkitkan kenangan akan masakan rumahan dan perasaan kebersamaan yang semakin langka dalam kehidupan modern.
Dari "makan sampai kenyang" menjadi "makan sambil mengenang masa lalu"
Para ahli kuliner percaya bahwa kebangkitan kembali hidangan tradisional mencerminkan tren konsumen yang semakin didorong oleh faktor emosional. Seiring dengan semakin terpenuhinya kebutuhan materi, konsumen mulai mencari nilai-nilai spiritual dan identitas budaya dalam setiap pengalaman.
Hidangan seperti ikan rebus dari desa Vu Dai, sup kepiting, udang goreng belimbing, acar terong dengan pasta udang, atau sayur rebus dengan kecap bukan sekadar makanan. Hidangan-hidangan ini adalah bagian dari memori kolektif, terkait dengan citra pedesaan, keluarga, dan cara hidup tradisional masyarakat Vietnam.
Restoran ini mengangkat hidangan tradisional Vietnam ke level yang lebih tinggi.
Perubahannya bukan terletak pada hidangan itu sendiri, tetapi pada cara penyajian dan penjajakannya.
Hidangan yang dulunya ditemukan di meja makan pedesaan tradisional kini disajikan lebih elegan dalam pot tanah liat, nampan bambu, atau mangkuk porselen buatan tangan. Banyak restoran bahkan menciptakan kembali suasana rumah-rumah tua, halaman bata, meja dan kursi kayu, atau dapur kuno untuk menciptakan pengalaman lengkap bagi para pengunjung.
Selain hidangan familiar seperti ikan rebus, tumis daging, sup kepiting, dan sayur rebus, banyak tempat juga menawarkan makanan khas daerah seperti ayam kampung kukus dengan daun jeruk nipis, ikan air tawar bakar, tumis kepiting dengan garam, belut rebus dengan pisang dan kacang tanah, serta saus ikan fermentasi tradisional. Hidangan-hidangan ini, yang dulunya identik dengan kehidupan pedesaan, kini telah menjadi daya tarik yang memikat wisatawan domestik dan internasional.
Ini bukan sekadar tren yang berlalu begitu saja.
Meningkatnya jumlah restoran yang menawarkan masakan tradisional Vietnam menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tren jangka pendek. Dalam konteks di mana banyak orang mencari gaya hidup seimbang dan menghargai tradisi lokal, hidangan tradisional diakui sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Dari semangkuk sup kepiting sederhana hingga sepanci ikan rebus yang kaya rasa, perjalanan dari makanan pedesaan ke menu restoran menunjukkan vitalitas abadi masakan tradisional. Di tengah banyaknya pilihan modern, cita rasa yang familiar inilah yang membantu banyak orang menemukan rasa kedekatan dan keterkaitan dengan akar budaya mereka.
Sumber: https://baovanhoa.vn/doi-song/su-len-doi-cua-nhung-mon-an-dan-da-235427.html










