Melihat tirai hujan kelabu yang menyelimuti kota, orang menyadari bahwa mereka tidak hanya terlambat untuk musim liburan, tetapi juga terlambat dalam hal semangat.
Begitu keluar dari kabin pesawat, seseorang langsung merasakan udara lembap dan basah yang familiar. Hidung berair, tenggorokan terasa gatal. Ketidaknyamanan yang sangat familiar. Tubuh lelah, tetapi tujuan sudah dikenali sebelum terpikirkan.
Tidak ada lagi bunga persik, tidak ada lagi bunga aprikot. Ranting-ranting bunga tertata rapi di trotoar, kelopaknya hancur karena terbentur trotoar yang basah. Lentera masih tergantung di depan beberapa rumah, tetapi tidak ada yang repot-repot menyalakannya. Di atas altar, piring buah mulai menghitam. Kue ketan goreng kini dimakan untuk ketiga kalinya. Amplop merah berserakan di meja ruang tamu, dibuka lalu lupa untuk disimpan. Setiap rumah tangga telah selesai merapikan persembahan mereka.
Orang-orang pulang ke rumah tepat saat Tahun Baru Imlek berakhir.

Gambar ilustrasi
DIBUAT OLEH AI
Rasanya aneh pulang ke rumah dan mendapati diri kehilangan sesuatu yang penting. Bukan penerbangan yang terlewat. Bukan janji temu yang terlewat. Tapi momen kebersamaan yang terlewat. Momen ketika semua orang melambat, menunggu tahun baru benar-benar terbentang di hadapan mereka.
Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke kedai teh favorit lamanya dan memesan secangkir teh tradisional. Tehnya masih sama. Rasanya tidak berubah. Tetapi baru ketika duduk di tengah kelembapan pagi itu ia mengerti mengapa, selama berada jauh di sana, tidak peduli bagaimana ia meminumnya, rasanya tidak pernah enak.
Teh bukan hanya daun dan air. Teh juga mencakup udara, lapisan debu tipis di ambang pintu, dan suara mobil yang lewat di luar gerbang. Hanya ketika selaras dengan irama tanah ini, barulah teh menjadi sebuah pengalaman yang utuh.
Beberapa benda hanya akan kembali ke tempat asalnya jika diletakkan kembali di tempatnya yang tepat.
Pada hari-hari setelah Tahun Baru Imlek, kota ini terasa sunyi. Seolah-olah seseorang baru saja mengganti pakaian bagusnya dengan pakaian sehari-hari. Toko-toko buka. Telepon berdering. Janji temu Tahun Baru dijadwalkan. Orang-orang mulai membicarakan rencana, target, dan angka-angka yang ingin dicapai.
Setiap akhir tahun, orang-orang berkumpul untuk membahas urusan dunia . Mereka membicarakan hutan rimba Amerika Selatan, gurun pasir Timur Tengah, pulau-pulau yang selalu beku, atau bahkan tempat yang sering disebut sebagai pusat dunia, di mana melangkah keluar berarti berisiko terkena peluru nyasar kapan saja.
Kisah-kisah itu sering kali dipenuhi dengan keresahan, kekacauan, dan prediksi yang tidak menyenangkan.
Lalu tibalah Tet (Tahun Baru Imlek), sebagai cara untuk sementara mengesampingkan segalanya. Bukan karena dunia sedang damai, karena dunia tidak akan pernah damai. Tetapi karena orang-orang membutuhkan momen tenang untuk menyesuaikan diri sebelum melanjutkan rutinitas hidup mereka yang lama.
Pada akhirnya, Tet hanyalah jeda singkat dalam narasi yang jauh lebih panjang yang disebut perjalanan hidup.
Namun jeda itu bukanlah tanpa arti. Jeda itu memberi orang keyakinan bahwa mereka bisa memulai kembali. Bahwa kesalahan tahun lalu bisa dilupakan.
Jauh dari rumah, orang-orang terbiasa dengan ritme kerja tanpa musim. Tidak ada Malam Tahun Baru. Waktu berjalan terus tanpa henti. Pulang ke rumah tepat setelah Tahun Baru Imlek membuat perbedaan itu semakin nyata. Di rumah, meskipun hanya untuk beberapa hari, orang-orang membiarkan diri mereka bersantai. Mereka membiarkan diri mereka berbicara satu sama lain dengan lebih ramah dan jujur. Dan kemudian, semua orang mengikat tali sepatu mereka dan melanjutkan perjalanan.
Oleh karena itu, akhir Tet bukan hanya tentang bunga layu atau lampu yang padam. Ini adalah momen transisi antara harapan dan tindakan. Jika Tet adalah tentang janji, maka tahun setelah Tet adalah waktu untuk menguji bagaimana janji-janji itu telah dipenuhi.
Ada sedikit penyesalan karena datang terlambat. Tidak bisa duduk di pesta Tahun Baru. Tidak bisa mendengar dentingan gelas. Tidak bisa merasakan kehangatan kebersamaan sepenuhnya. Namun, keterlambatan itulah yang memberi kesempatan untuk merenung sejenak. Berdiri di luar suasana meriah, kita bisa melihatnya dengan lebih jelas.
Orang-orang berjalan di jalan-jalan yang sudah familiar. Suasana telah kembali normal. Begitu normalnya hingga hampir terasa dingin. Tatapan mata orang-orang benar-benar berbeda dari hari pertama dan kedua Tahun Baru Imlek. Tidak lagi rileks. Sebaliknya, ada rasa persiapan. Kota itu seperti mesin yang baru saja dilumasi dan kini kembali ke ritme lamanya.
Tet lebih dari sekadar festival. Ini adalah cara bagi masyarakat untuk membangun kembali iman mereka setelah setahun penuh gejolak. Jangkar itu tidak bertahan lama. Itu hanya cukup untuk mengingatkan orang-orang bahwa mereka masih ingin percaya pada hari esok. Dan ketika Tet berakhir, jangkar itu dicabut. Bukan untuk menghilangkan harapan, tetapi untuk memaksa orang-orang untuk bangkit dan melanjutkan hidup.
Gerimis terus turun. Orang-orang menyeret barang-barang mereka melewati genangan air tipis di trotoar. Kota itu tidak lagi meriah, tetapi memiliki ketahanan yang tenang. Kota itu tidak banyak bicara. Kota itu hanya bertindak dalam diam.
Orang-orang memahami bahwa Tet hanyalah hembusan napas singkat. Hembusan napas itu telah berlalu. Di depan ada hari-hari biasa. Biasa sampai-sampai terasa berat. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah semua keinginan memiliki kesempatan untuk terwujud.
Hari kepulanganku. Agar orang-orang tahu bahwa...
Meskipun Tet sudah berlalu.
Namun tahun baru baru saja dimulai.
Sumber: https://thanhnien.vn/tet-tan-185260222222003549.htm







Komentar (0)