Di Prancis, rantai pasokan dari Vietnam tetap tidak terganggu. Namun, tekanan meningkat terkait biaya, waktu pengiriman, dan risiko yang terkait dengan barang yang mudah rusak. Begitu pintu kontainer dibuka, peti-peti pomelo hijau dari Ben Tre mulai dibongkar di gudang perusahaan impor-ekspor Vmart di Prancis. Ini adalah salah satu pengiriman yang dilakukan di tengah konflik Timur Tengah, yang memberikan tekanan tambahan pada operasi logistik internasional.
Selain buah-buahan seperti pomelo, pasokan barang dari Vietnam ke Eropa untuk saat ini masih lancar. Barang-barang kering seperti beras, bihun, dan makanan olahan masih memiliki pasokan yang relatif stabil. Namun, tekanan semakin meningkat pada pengiriman mendatang, karena biaya dan waktu transportasi menjadi semakin sulit diprediksi.
Dari pengamatan kami, kekhawatiran terbesar bagi bisnis saat ini bukanlah jumlah persediaan yang mereka miliki, melainkan bagaimana pesanan selanjutnya akan terpengaruh oleh kenaikan biaya, jadwal yang diperpanjang, dan peningkatan risiko pengiriman.
Peningkatan ini masih belum setinggi selama pandemi COVID-19, ketika biaya pengiriman kontainer mencapai sekitar $12.000. Namun, bagi bisnis, tekanan saat ini bukan hanya tentang biaya pengiriman. Jika perjalanan lebih lama, barang kering dapat diawetkan lebih lama. Tetapi untuk barang segar seperti pomelo, setiap hari keterlambatan tambahan berarti risiko yang lebih besar terhadap kualitas. Dan jika mereka beralih ke pengiriman udara, biaya akan meningkat secara signifikan karena kenaikan tarif penerbangan dan harga bahan bakar.
Dari gudang-gudang perusahaan pengimpor di Prancis, jelas terlihat bahwa produk pertanian Vietnam terus memasuki pasar Eropa. Namun, mempertahankan arus barang ini merupakan tantangan terbesar bagi bisnis saat ini: kemampuan untuk beradaptasi secara proaktif terhadap tekanan logistik yang semakin meningkat.
Sumber: https://vtv.vn/thach-thuc-chi-phi-van-chuyen-nong-san-viet-sang-chau-au-100260515102718754.htm









Komentar (0)