Suara merdu bầu lute, yang mengeluarkan nada-nada halus yang berpadu dengan suara seruling, tranh zither, nhị, tam thập lục... membawa pendengar ke ruang artistik yang dipenuhi dengan esensi ibu kota kuno Hue .
![]() |
| Sebuah penampilan di acara "Four Seasons' Colors and Fragrances". |
Dengan sejarah dan tradisi budayanya yang kaya, Hue telah lama menjadi tempat perpaduan berbagai genre musik: dari suara musik istana kerajaan yang elegan dan megah, kedalaman keyakinan religius yang mendalam, hingga pesona sederhana dan bersahaja dari lagu dan melodi rakyat. Tetapi bagaimana nilai-nilai asli ini dapat dibawa dari ruang pertunjukan tradisional ke panggung modern sambil tetap melestarikan melodi khas genre seperti Nam Ai, Nam Binh, Luu Thuy, dan Kim Tien? Ini adalah masalah yang sulit baik secara akademis maupun dalam hal pertunjukan.
"Keharuman Empat Musim" lahir dari keprihatinan mereka yang terlibat dalam pelatihan di Departemen Musik Tradisional Akademi Musik Nasional Vietnam. Lebih dari sekadar pertunjukan untuk merayakan ulang tahun ke-70 Akademi, konser ini juga berfungsi sebagai presentasi praktis, di mana nilai-nilai budaya yang telah lama ada mengalir melalui lensa dan pola pikir generasi penerus.
Yang membuat pertunjukan itu berkesan bukanlah skala atau kemegahannya, melainkan kemandirian para "pembawa obor" muda. Hampir 20 pertunjukan di atas panggung diorganisir dan dilaksanakan oleh siswa dari Kelas Latihan Orkestra gaya Hue 4/6 dan 2/4, serta mahasiswa dari Universitas 2. Mereka secara mandiri merancang naskah, memilih karya musik, dan menulis aransemen orkestra baru sendiri.
Mengenang masa "konsepsi" karya tersebut, Tran Cat Tien (seorang mahasiswa di Kelas 2 Universitas, jurusan kecapi) mengaku: "Selama tiga bulan berturut-turut, kami berdebat panjang lebar tentang bagaimana membagi bagian-bagian dan menyelaraskannya agar memiliki nuansa segar dan modern tanpa mengubah esensi musik Hue. Beberapa bagian diatur ulang berkali-kali sebelum kami merasa puas. Itu adalah tantangan besar, tetapi ketika karya itu selesai, perasaan bangganya tak terlukiskan."
Pendekatan proaktif ini bukan hanya tentang mengasah kemampuan tampil di panggung, tetapi lebih dalam lagi, ini adalah cara paling manusiawi untuk mendidik kaum muda agar menghargai dan bertanggung jawab terhadap budaya nasional mereka. Menyaksikan penampilan murid-muridnya, Dr. Nguyen Thi Hoa Dang, Seniman Rakyat dan Wakil Kepala Departemen Musik Tradisional, tak kuasa menahan emosinya: “Guru hanyalah pengamat dan pembimbing. Melihat para siswa dengan teliti memperhatikan segala hal, mulai dari partitur musik hingga kostum pertunjukan, berhati-hati dengan setiap melodi leluhur mereka, kita tahu bahwa aliran warisan budaya masih diteruskan ke arah yang benar.”
Ada satu detail yang tenang namun mengharukan: seluruh program tersebut gratis. Di era di mana hiburan menjadi yang utama dan dikomersialkan, pemandangan ratusan penonton, dari orang tua hingga anak muda, memenuhi auditorium untuk mendengarkan alat musik tradisional adalah sebuah gambaran yang indah. Ini adalah ungkapan rasa syukur yang tulus yang ingin disampaikan oleh para guru dan siswa Departemen Musik Tradisional kepada masyarakat, membawa seni klasik keluar dari menara gadingnya untuk menyentuh berbagai lapisan kehidupan.
Saat pertunjukan berakhir, gema lagu-lagu dan melodi rakyat yang masih terngiang terasa tetap ada. Program seperti "Warna dan Aroma Empat Musim" bukanlah fenomena sensasional yang cepat berlalu. Ketekunan dan dedikasi para guru dan siswa di balik layar setiap hari membangun lapisan baru warisan budaya sangatlah penting. Mereka membuktikan bahwa melestarikan warisan tidak selalu berarti menyimpannya dalam kotak kaca, melainkan memberinya kehidupan baru, memungkinkannya untuk diekspresikan dengan napas zaman itu sendiri.
Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/thanh-am-co-do-qua-nhung-ngon-dan-tre-1039178







Komentar (0)