Dunia menghadapi banyak tantangan
Sesi diskusi bertemakan “Tidak Meninggalkan Siapapun: Aksi Bersatu untuk Memajukan Perdamaian , Pembangunan Berkelanjutan, dan Martabat Manusia bagi Generasi Sekarang dan Mendatang”, dengan partisipasi 155 Kepala Negara dan Pemerintahan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, beserta perwakilan organisasi internasional dan regional.
Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam berpidato pada Debat Umum Tingkat Tinggi Sidang ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Foto: Lam Khanh/VNA).
Dalam sambutan pembukaannya, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa persaingan geopolitik, konflik yang tak berkesudahan, perubahan iklim, senjata nuklir, dan senjata-senjata baru bagaikan “gudang mesiu” yang menunggu untuk meledak, yang akan membawa dunia ke dalam bencana.
Bapak Guterres menegaskan bahwa masyarakat internasional dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut apabila secara tuntas mengatasi akar penyebab perpecahan global, yaitu ketimpangan, pelanggaran hukum internasional, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Presiden Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-79 Philemon Yang menekankan bahwa kerja sama internasional merupakan alat untuk memecahkan masalah global dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang di seluruh dunia.
Setiap bangsa memainkan peran penting dalam simfoni besar zaman ini.
Pada sesi diskusi umum pertama, Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam menyampaikan pidato dengan pesan yang kuat dan komprehensif tentang “Memperkuat multilateralisme, bertindak bersama untuk menciptakan masa depan yang damai, stabil, sejahtera, dan berkelanjutan bagi semua orang”.
Menilai bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar, Sekretaris Jenderal dan Presiden mengatakan bahwa perdamaian, kerja sama, dan pembangunan menghadapi kesulitan dan tantangan baru yang lebih serius seperti persaingan strategis yang ketat, meningkatnya risiko ketegangan, konfrontasi dan tabrakan langsung, erosi lembaga multilateral dan kepercayaan dalam kerja sama global; tantangan keamanan non-tradisional menghambat upaya pembangunan manusia.
Dalam konteks itu, Sekretaris Jenderal dan Presiden mengajak negara-negara untuk memperkuat solidaritas, bergandengan tangan, bertindak bersama, bekerja sama erat, dan memajukan peran lembaga-lembaga global, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi-organisasi regional, termasuk ASEAN, guna mencapai tujuan tertinggi yakni mengakhiri perang, menghapuskan segala bentuk penindasan dan eksploitasi, menciptakan perdamaian, membangun dunia yang lebih baik, dan mendatangkan kebahagiaan bagi umat manusia.
Sesi diskusi dihadiri oleh 155 Kepala Negara dan Pemerintahan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, beserta perwakilan organisasi internasional dan regional (Foto: VNA).
Berbagi visi Vietnam untuk masa depan, Sekretaris Jenderal dan Presiden menekankan bahwa perdamaian dan stabilitas adalah fondasi untuk membangun masa depan yang sejahtera dan bahwa negara-negara, terutama negara-negara besar, perlu mematuhi hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertindak secara bertanggung jawab, mematuhi komitmen, berkontribusi pada pekerjaan bersama, memperkuat solidaritas, ketulusan, kepercayaan, mempromosikan dialog, dan menghilangkan konfrontasi.
Sekretaris Jenderal sekaligus Presiden menekankan pentingnya membuka, memobilisasi, dan memanfaatkan secara efektif seluruh sumber daya pembangunan, dengan memprioritaskan "daerah dataran rendah" dalam pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, mendukung negara-negara berkembang dengan modal prioritas, mentransfer teknologi canggih, melatih sumber daya manusia berkualitas tinggi, memfasilitasi investasi, dan mengurangi beban utang negara-negara miskin.
Menyerukan pembentukan awal kerangka kerja tata kelola global yang cerdas, Sekretaris Jenderal dan Presiden menekankan perlunya visi jangka panjang tentang sains dan teknologi, terutama teknologi yang sedang berkembang seperti kecerdasan buatan, untuk mempromosikan pembangunan progresif sambil secara proaktif mencegah dan menangkal ancaman terhadap perdamaian, pembangunan berkelanjutan, dan kemanusiaan.
Sekretaris Jenderal dan Presiden menyampaikan bahwa diperlukan pemikiran dan upaya baru untuk mendorong transformasi, dengan fokus pada transformasi digital, transformasi hijau, dan transformasi tata kelola global, sehingga membantu negara-negara meningkatkan ketahanan dan kemandirian mereka. Reformasi mekanisme multilateral harus lebih menjamin representasi, keadilan, transparansi, efisiensi, dan kesiapan untuk masa depan.
Bersamaan dengan itu, perlu menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, di mana perhatian khusus harus diberikan pada investasi dan pengembangan menyeluruh terhadap generasi muda baik dalam ilmu pengetahuan maupun budaya, berdasarkan nilai-nilai bersama serta semangat tanggung jawab dan pengabdian.
Di akhir pidatonya, Sekretaris Jenderal sekaligus Presiden mengutip ucapan Presiden Ho Chi Minh, "Persatuan - persatuan - persatuan besar. Sukses - sukses - sukses besar." Beliau menekankan, "Hanya dengan persatuan, kerja sama, kepercayaan, upaya bersama, dan kebulatan suara, kita dapat berhasil membangun dunia yang damai, pembangunan berkelanjutan, dan martabat manusia bagi generasi sekarang dan mendatang, sehingga tidak ada seorang pun yang tertinggal."
Menurutnya, di dunia yang berubah cepat saat ini, setiap negara memainkan peran penting dalam simfoni besar zaman.
"Vietnam sedang berjuang dan terus berupaya mewujudkan masa depan yang damai, stabil, sejahtera, dan berkelanjutan, tidak hanya bagi rakyat Vietnam, tetapi juga bagi seluruh negara di dunia. Itulah visi, tujuan, dan komitmen kuat Vietnam kepada komunitas internasional saat ini dan di masa mendatang," ujar Sekretaris Jenderal sekaligus Presiden To Lam.
Komentar (0)