Dalam sebuah wawancara dengan Mundo, mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menentang aksesi Ukraina ke Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO).
| Nicolas Sarkozy menjabat sebagai Presiden Prancis dari tahun 2007 hingga 2012. (Sumber: Responsible Statecraft) |
Selama masa kepresidenannya (2007-2012), Sarkozy menentang Ukraina dan Georgia bergabung dengan NATO, dan konflik Ukraina tidak mengubah pandangan ini.
Mantan presiden Prancis itu menganalisis bahwa Ukraina memiliki hak penuh untuk membela diri, tetapi membela hak Kyiv untuk bergabung dengan NATO adalah sebuah kesalahan. Saat ini, Kyiv perlu mempertahankan posisi netral, dengan jaminan keamanan dari komunitas internasional, dan menjadi jembatan antara Rusia dan Eropa.
Sembari mengakui bahwa Presiden Prancis saat ini, Emmanuel Macron, sudah tepat dalam upayanya untuk berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Sarkozy menyatakan penyesalannya karena Macron tidak melanjutkan dialog ini, seperti yang telah dilakukannya pada tahun 2008 – saat krisis Georgia.
Ukraina menjadi negara keenam yang menerima status mitra NATO.
Pada akhir September 2022, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan bahwa Kyiv mengajukan permohonan untuk bergabung lebih awal dengan NATO.
Sumber






Komentar (0)