Dengan latar belakang perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), acara ini membuka ruang untuk dialog mendalam tentang bagaimana teknologi ini membentuk kembali seni dan tuntutan baru yang diberikan pada pelatihan para profesional kreatif.

Para pembicara menganalisis pergeseran dalam seni digital karena AI bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi mitra dalam proses kreatif. Dengan munculnya bentuk-bentuk seperti Seni Generatif dan Seni Algoritma, yang dipadukan dengan pengalaman realitas virtual, batasan antara seni dan teknologi semakin kabur.
Bapak Nguyen Quoc Hoang Anh, pendiri platform Budaya dan Seni Len Ngan, sekaligus seniman multimedia dan kurator seni, mengatakan bahwa banyak produk seni unit tersebut saat ini menggunakan AI dalam manajemen dan produksi. Aplikasi ini membawa banyak dampak positif, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan memaksimalkan sumber daya untuk menggali lebih dalam konten produk. Ketika mesin menangani tugas-tugas teknis yang kompleks, para seniman akan memiliki lebih banyak waktu untuk refleksi dan menciptakan variasi kreatif yang sesuai dengan realitas produksi.

Dari perspektif pelatihan, Bapak Nguyen Hoang Giang, Pendiri Vietnam Media Lab dan dosen Media Digital di Universitas RMIT, mengeluarkan peringatan tentang sifat ganda teknologi. Beliau menyatakan kekhawatiran bahwa kemudahan AI dapat menumbuhkan ketergantungan, sehingga mengikis kemampuan individu para seniman. Di sisi lain, seniman harus memiliki landasan teoritis yang kuat untuk mengevaluasi kualitas produk yang dibuat menggunakan alat AI. Dengan pengetahuan ini, penyediaan data masukan juga akan memandu alat AI secara akurat menuju produk yang diinginkan.

Teknologi adalah alat yang berguna, menawarkan banyak inovasi kreatif bagi para seniman. Bapak Nguyen Quoc Hoang Anh menekankan bahwa peran inti seorang seniman bukan hanya menciptakan keindahan tetapi juga mampu mengendalikan alat AI. Bahkan dengan dukungan teknologi, seniman harus tetap memegang kendali untuk mempertahankan kisah pribadi dan emosi yang tulus, memastikan bahwa produk akhir tidak kehilangan jiwa dan pesan aslinya.
Di masa depan, AI akan secara signifikan mengubah pelatihan para praktisi seni, mendorong pemikiran sistem dan keterampilan manajemen. Fleksibilitas akan menjadi kunci pengembangan seniman di era digital, memungkinkan mereka untuk secara proaktif memanfaatkan alat dan membuka mode ekspresi yang inovatif.


Sumber: https://baotintuc.vn/van-hoa/ung-dung-nghe-thuat-so-trong-ky-nguyen-ai-20260601161810939.htm








Komentar (0)