Kondisi apa yang menyebabkan berkembangnya toksin botulinum?
Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Kota Ho Chi Minh (HCDC), kondisi bagi spora Clostridium botulinum untuk tumbuh dan menghasilkan racun adalah lingkungan dengan sedikit atau tanpa oksigen, rendah asam, rendah gula dan garam, pada suhu dan jumlah air tertentu.
Oleh karena itu, makanan yang dikalengkan atau difermentasi secara tidak tepat dapat menciptakan kondisi yang tepat bagi spora untuk tumbuh dan menghasilkan toksin botulinum. Mengonsumsi makanan ini dapat menyebabkan keracunan.
Selain keracunan makanan, botulinum juga menyebabkan jenis keracunan lain seperti keracunan bayi (ketika spora bakteri masuk, berkembang di usus anak, dan menghasilkan toksin penyebab penyakit); keracunan luka seperti ketika spora masuk ke luka akibat suntikan obat, kecelakaan mobil, dll., dan menghasilkan toksin); keracunan iatrogenik seperti ketika toksin botulinum disuntikkan terlalu banyak, misalnya dalam operasi kosmetik. Keracunan usus pada orang dewasa serupa dengan keracunan pada bayi.
Apa saja gejala keracunan botulinum?
Semua gejala botulisme disebabkan oleh kelumpuhan otot yang disebabkan oleh toksin tersebut. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat berkembang menjadi kelumpuhan total pada otot-otot tertentu, seperti otot pernapasan, serta otot-otot di lengan, kaki, dan badan. Pada botulisme yang ditularkan melalui makanan, gejala biasanya muncul 18 hingga 36 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Tanda dan gejala keracunan botulinum dapat meliputi kesulitan menelan, kelemahan otot, penglihatan ganda, kelopak mata menurun, penglihatan kabur, bicara cadel, kesulitan bernapas, dan kesulitan menggerakkan mata. Selain itu, tanda dan gejala keracunan makanan juga dapat meliputi muntah, mual, sakit perut, dan diare.
Tanda dan gejala pada bayi baru lahir dapat meliputi sembelit, kurang nafsu makan, kelopak mata terkulai, respons lambat terhadap cahaya, wajah kurang ekspresif dari biasanya, tangisan lemah yang terdengar berbeda dari biasanya, kesulitan bernapas.
Namun, penderita keracunan botulinum mungkin tidak mengalami semua gejala ini secara bersamaan. Jika Anda mengalami gejala keracunan botulinum, segera pergi ke fasilitas medis untuk mendapatkan perawatan yang tepat waktu.
Jangan gunakan produk kalengan yang sudah kedaluwarsa, menggembung, atau pipih.
8 kunci untuk mencegah keracunan botulinum
Untuk memastikan keamanan pangan secara proaktif, HCDC menyarankan agar masyarakat mengikuti kunci-kunci berikut:
- Dalam produksi dan pengolahan, kami harus menggunakan bahan-bahan yang menjamin keamanan pangan dan mematuhi peraturan kebersihan dalam proses produksi.
- Dalam produksi makanan kaleng, aturan sterilisasi yang ketat harus diikuti.
- Hanya gunakan produk makanan dan bahan-bahan yang jelas asalnya.
- Jangan sekali-kali menggunakan produk kalengan yang sudah kedaluwarsa, menggembung, gepeng, berubah bentuk, berkarat, tidak utuh, atau mempunyai bau atau warna yang tidak lazim.
- Makan makanan yang sudah dimasak dan minum air matang. Utamakan makan makanan yang baru disiapkan dan dimasak.
- Jangan menyegel makanan dan membiarkannya dalam kondisi tidak beku dalam jangka waktu lama.
- Untuk makanan fermentasi, baik yang dikemas maupun dibungkus dengan cara tradisional (seperti acar, rebung, acar terong, dll.), pastikan rasanya asam dan asin. Setelah asamnya hilang, makanan tersebut sebaiknya tidak dimakan.
- Bila gejala keracunan botulinum muncul, segera pergi ke fasilitas medis terdekat untuk diagnosis dan perawatan tepat waktu.
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)