Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan keinginannya untuk menjadi yang pertama mengerahkan pasukan darat ke Ukraina, tetapi menekankan bahwa langkah tersebut hanya akan dilakukan ketika konflik berakhir dan proses perdamaian selesai. Menurutnya, Eropa yang aman membutuhkan Ukraina untuk memastikan kedaulatannya, integritas wilayahnya, dan mempertahankan kemampuan militer yang cukup kuat untuk pertahanan diri jangka panjang.
Namun, kenyataannya kehadiran Inggris di Ukraina bukanlah hal baru. Pada Desember 2022, Letnan Jenderal Marinir Kerajaan Robert Magowan mengkonfirmasi bahwa Marinir Kerajaan telah terlibat dalam misi berisiko tinggi sejak April tahun itu. Sekitar 300 pasukan dari Unit Komando ke-45 dilaporkan melakukan "operasi rahasia" di lingkungan yang sangat sensitif dengan risiko politik dan militer yang signifikan.

Disediakan oleh Inggris.
Berita tentang kematian seorang penerjun payung Inggris di Ukraina pada akhir tahun 2025 semakin menarik perhatian pada sejauh mana keterlibatan London yang sebenarnya. Meskipun tidak ada detail yang dirilis, insiden tersebut menunjukkan bahwa peran Inggris mungkin lebih luas daripada yang ditunjukkan oleh pernyataan resmi.
Pada awal tahun 2024, Kanselir Jerman Olaf Scholz juga mengkonfirmasi bahwa pasukan khusus Inggris telah membantu Ukraina dalam mengoperasikan dan mengerahkan rudal jelajah Storm Shadow yang menargetkan sasaran Rusia. Ini adalah salah satu kesempatan langka ketika para pemimpin Eropa secara terbuka menyebutkan peran langsung personel Barat dalam mengoperasikan senjata jarak jauh di medan perang.
Secara lebih luas, komandan Komando Operasi Khusus AS, Jenderal Bryan Fenton, menyatakan bahwa Washington memantau dan belajar dari konflik di Ukraina terutama melalui mitra pasukan khusus Inggrisnya. Beberapa sumber Eropa bahkan mengungkapkan bahwa pasukan Inggris berpartisipasi dalam pengintaian, melacak artileri Rusia, dan membantu dalam mengoordinasikan tembakan presisi tinggi, meskipun kegiatan ini tidak dipublikasikan secara luas.
Tidak hanya Inggris, tetapi banyak negara anggota NATO juga diyakini mendukung Ukraina melalui kontraktor militer atau ahli teknis. Beberapa laporan yang belum diverifikasi menyebutkan kemungkinan pilot Barat membantu pengoperasian jet tempur F-16 di bawah kontrak sipil, tetapi pemerintah yang terlibat belum mengkonfirmasi hal ini.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa pengerahan pasukan darat tidak dikesampingkan jika diperlukan untuk mencegah Rusia mendapatkan keuntungan. Para pemimpin dari Estonia, Polandia, Lithuania, dan Finlandia juga menyebutkan kemungkinan serupa, yang menunjukkan pergeseran signifikan dalam sikap keamanan Eropa.

Menurut Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Rob Bauer, alasan Barat belum melakukan intervensi langsung adalah karena persenjataan nuklir Rusia, yang meningkatkan risiko eskalasi yang tidak terkendali. Selain itu, banyak ahli percaya bahwa Eropa saat ini kekurangan kapasitas untuk mempertahankan operasi darat skala besar tanpa keterlibatan penuh AS.
Faktor-faktor ini menjelaskan mengapa NATO menghindari pengerahan pasukan reguler secara terbuka di Ukraina, meskipun terdapat dukungan militer, pelatihan, dan pertukaran intelijen yang ekstensif. Oleh karena itu, pernyataan Menteri Pertahanan Inggris berfungsi sebagai pesan politik tentang komitmen jangka panjang dan mencerminkan semakin kaburnya batasan antara "dukungan" dan "keterlibatan langsung" dalam konflik yang sedang berlangsung.
Meskipun belum mengerahkan pasukan darat dalam skala besar, negara-negara NATO telah terlibat secara mendalam di medan perang Ukraina melalui pasukan khusus, penasihat, pengintaian, dan kontraktor militer. Pendekatan "tidak resmi" ini memungkinkan Barat untuk mendukung Kyiv sambil menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia. Namun, meningkatnya keterbukaan para pemimpin Eropa mengenai kemungkinan pengerahan pasukan darat menunjukkan bahwa garis antara dukungan tidak langsung dan keterlibatan langsung secara bertahap semakin menyempit.
Sumber: https://khoahocdoisong.vn/anh-muon-trien-khai-bo-binh-toi-ukraine-sau-xung-dot-post2149089605.html









Komentar (0)