Pada sore hari tanggal 22 Juni, Majelis Nasional melanjutkan pembahasan rancangan Undang-Undang tentang Identitas Kewarganegaraan (amandemen) di aula. Setelah mendengarkan masukan, Jenderal To Lam, Menteri Keamanan Publik, menjelaskan dan mengklarifikasi sejumlah hal yang disebutkan dan menarik bagi para delegasi.
Bapak To Lam menilai bahwa rancangan Undang-Undang ini merupakan dokumen hukum penting dalam pengelolaan kependudukan dan identitas, yang bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam bepergian, melaksanakan prosedur administratif, transaksi sipil dan berbagai keperluan lainnya, serta memenuhi kebutuhan transformasi digital di negara kita.
Jenderal To Lam berbicara.
Terkait perlunya diundangkan, Menteri Keamanan Publik menyampaikan bahwa semua pendapat sepakat untuk segera mengundangkan Undang-Undang tentang Identifikasi dan sangat mengapresiasi langkah Pemerintah dalam menyiapkan dokumen hukum.
"Mengenai nama rancangan undang-undang tersebut, mayoritas delegasi menyetujui nama Undang-Undang Identitas Warga Negara untuk memastikan kelengkapan, konsistensi dengan cakupan regulasi, dan subjek hukum yang berlaku," ujar Menteri To Lam. Selain itu, beberapa delegasi mengusulkan untuk tetap menggunakan nama Undang-Undang Identitas Warga Negara yang berlaku saat ini.
Terkait informasi dalam pangkalan data nasional, pangkalan data tentang identifikasi yang terhubung, pembagian dan pemanfaatan informasi, banyak delegasi yang menyetujui regulasi ini karena meyakini hal tersebut merupakan kebutuhan esensial dalam membangun pemerintahan digital dan masyarakat digital.
Menteri To Lam mengatakan Pemerintah akan menyerap pendapat delegasi untuk terus merevisi dan menyempurnakan rancangan undang-undang tersebut, dan menyerahkannya kepada Majelis Nasional pada sidang ke-6.
Sebelumnya, merujuk pada nama rancangan undang-undang, delegasi Nguyen Hai Dung (Nam Dinh) mendukung perubahan nama undang-undang dari Undang-Undang Identitas Kewarganegaraan menjadi Undang-Undang Identitas Diri.
Menurut Bapak Dung, kartu identitas tidak hanya diberikan kepada warga negara Vietnam, tetapi juga kepada orang-orang asal Vietnam yang kewarganegaraannya belum ditentukan. Oleh karena itu, perubahan nama memastikan penyesuaian pada semua subjek.
Delegasi Tran Cong Phan (delegasi Binh Duong) mengatakan bahwa badan penyusun telah menetapkan jumlah 31.000 orang asal Vietnam yang tinggal di Vietnam, tetapi kewarganegaraan mereka belum ditentukan. Meskipun Konstitusi menetapkan bahwa warga negara Vietnam adalah orang-orang dengan kewarganegaraan Vietnam, penerbitan kartu identitas warga negara menunjukkan bahwa mereka adalah warga negara Vietnam. Ke-31.000 orang ini harus dikelola, tetapi harus ada jenis kartu yang berbeda untuk membedakan mereka, karena mereka belum menjadi warga negara Vietnam.
Delegasi ini berpendapat bahwa mereka perlu dikelola dan difasilitasi, tetapi mereka tidak diberikan kartu identitas warga negara seperti warga negara Vietnam. Demi 31.000 orang tersebut, tidak dapat diterima membiarkan lebih dari 81 juta orang berbagi satu kartu, untuk menyamakan mereka.
Berbicara dalam debat tersebut, delegasi Le Hoang Anh (Provinsi Gia Lai) menyatakan persetujuannya terhadap argumen delegasi Phan. Ia mengatakan bahwa istilah "warga negara" secara spesifik merujuk pada orang, sedangkan istilah "kartu identitas" tidak secara spesifik merujuk pada orang, karena bahkan tanaman dan ternak pun mengarah pada ketertelusuran dan identifikasi untuk setiap jenis tumbuhan dan hewan.
"Jika ada yang pernah berpartisipasi atau mengamati kelompok atau asosiasi pemeliharaan anjing dan kucing, mereka semua memiliki tanda pengenal dan identitas untuk hewan peliharaan mereka. Oleh karena itu, perlu pertimbangan lebih lanjut," ujar Bapak Anh.
Delegasi Pham Van Hoa (Dong Thap) menekankan bahwa pemberian kartu identitas kepada kelompok orang asal Vietnam tanpa kewarganegaraan yang tinggal di Vietnam bertujuan untuk menjamin hak asasi manusia agar mudah dikelola.
Menurutnya, sebagian besar masyarakat tersebut memiliki kesulitan ekonomi, tidak memiliki jaminan sosial karena tidak memiliki tempat tinggal tetap, anak-anaknya tidak bisa sekolah karena tidak memiliki akta kelahiran, sehingga menjadi beban masyarakat.
"Jika terjadi sesuatu, kami tidak tahu di mana orang ini berada, dan akan sulit melacaknya karena tidak ada catatan," ujar Pak Hoa khawatir.
Karena kekurangan-kekurangan tersebut di atas, Bapak Hoa menyadari bahwa sangatlah penting bagi pihak berwenang untuk menerbitkan surat keterangan identitas kepada kelompok masyarakat ini, agar mereka dapat memiliki hak kewarganegaraan dan menikmati kebijakan seperti banyak orang lainnya.
Ha Cuong
Berguna
Emosi
Kreatif
Unik
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)